Hendrajit: Indonesia Digempur Dari Empat Penjuru

Secara naratif sebenarnya bangsa ini sadar. Hanya kesadaran itu bertingkat-tingkat, terutama bagi person dan/atau entitas yang tercemar stockholm syndrome. Berdasarkan cermatan, mereka —kaum pengidap stockholm syndrome— terbagi tiga tingkatan, antara lain meliputi:

Pertama: “Faktor Kedunguan Berkala”. Dungu disini bukan bermakna bodoh, bukannya tidak cerdas, atau bukannya tak pintar dsb. Tetapi lebih kepada ketidakpahaman terhadap situasi dan kondisi yang tengah berlangsung. Mereka cuma paham narasi apa yang terjadi, tetapi tidak mengetahui mengapa ia terjadi. Hanya melihat yang tersurat tetapi tak mendalami hal tersirat di bawah permukaan;

Kedua: “Faktor Opportunis”. Kelompok ini sudah mengetahui apa yang sesungguhnya terjadi namun mereka diam dan larut atas suasana yang berlangsung sebab diuntungkan oleh situasi tersebut. Cari selamat sendiri. Inilah kaum safety player. Entah karena selalu dapat proyek, atau dapat jabatan, mungkin, atau ada “japrem” mengalir, dan lain-lain;

Ketiga: “Faktor Mindset.” Ini yang paling berbahaya. Kenapa? Karena kelompok ini sebenarnya sadar bahkan menyadari dirinya sebagai proxy agents (perpanjangan tangan) dari KENARA di negerinya sendiri. Banyak istilah untuk menamai kelompok ini, seperti komprador misalnya, atau pelacur intelektual, pengkhianat bangsa, dll.

Jika dilakukan mapping, kalangan akar rumput berada di tingkat pertama (kedunguan berkala) meski tidak sedikit dari mereka yang secara sosial tergolong kelas menengah bahkan kelas atas secara finansial. Kelompok ini larut akan situasi akibat ketidakpahaman apa yang sesungguhnya terjadi. Kalau di media sosial, mereka tergolong buzzer, kelompok hore, atau mem-“buzzer”-kan diri kendati tidak semuanya berperilaku seperti itu.

Sedang kelas menengah, mayoritas ada di faktor kedua. Mereka berada di zona nyaman (comfort zone). Istilah guyonnya ‘pe we’ (posisi wenak). Mereka enggan beranjak dari kenyamanan-kenyamanan yang direguknya dalam kondisi tersebut. Itulah kaum opportunis.

Sedangkan faktor mindset biasanya ada di tataran elit. Jumlahnya tidak banyak tetapi selain pengaruhnya dan daya rusaknya cukup tinggi serta besar, kelompok ini juga mampu mengambil keputusan terkait hal-hal strategis. Secara geopolitik, kelompok ini adalah bagian dari skema kolonialisme yang hendak ditancapkan di Bumi Pertiwi.

Tulisan ini merupakan analisa secara garis besar, bukannya text book. Jadi masih dapat dikembangkan lagi secara lebih dalam dan luas. Dan analisa kegelisahan ini berbasis geopolitik atas beroperasinya geostrategi asing. Memang belum merupakan kebenaran, apalagi hendak mencari pembenaran. Tak ada maksud menggurui siapapun terutama pihak-pihak yang berkompeten. Sangat terbuka untuk kritik dan saran, karena menyadari bahwa kebenaran apapun sifatnya nisbi, relatif dan ia bergerak sesuai tuntutan zaman guna mendekati kebenaranNya melalui tawaf, gerak yang berlawan dengan arah jarum jam.

Terima kasih

Penulis: Hendrajit, Pakar Geopolitik

(Sumber)


BEST SELLER BUKU PEKAN INI, INGIN PESAN? SILAHKAN KLIK LINK INI :

https://m.eramuslim.com/resensi-buku/resensi-buku-diponegoro-1825-pre-order-sgera-pesan.htm