free hit counters
 

Taliban Perinci Aturan Moralitas di Afghanistan

Redaksi – Selasa, 12 Safar 1443 H / 21 September 2021 16:15 WIB

Eramuslim.com – Kepala kantor provinsi kementerian di Kandahar Mawlawi Mohammad Shebani mengatakan polisi moralitas Taliban di bawah kementerian promosi kebajikan dan pencegahan kejahatan akan bertindak moderat menurut buku saku aturan.

Taliban Rinci Aturan Moralitas di Afghanistan. Mahasiswa Afghanistan terlihat di Universitas Mirwais Neeka di Kandahar, Afghanistan, 20 September 2021. Taliban secara resmi mengumumkan pada 12 September pemisahan mahasiswa pria dan wanita di semua universitas negeri dan swasta di negara itu. Institusi pendidikan diharuskan memiliki gedung terpisah untuk siswa laki-laki dan perempuan, jika tidak ada, mereka akan menghadiri kelas di gedung yang sama tetapi pada waktu yang berbeda.

Shebani menjelaskan kepada The Guardian, polisi moralitas Taliban disusun sebagai jaringan yang terintegrasi ke dalam pasukan polisi kelompok yang memiliki hubungan dengan masjid dan sekolah agama.

Sejak menguasai Afghanistan pada 15 Agustus, Taliban telah berubah dari citra garis keras mereka pada era 1996 hingga 2001 saat pria yang tidak sholat di masjid dicambuk, gerakan wanita setiap hari dibatasi, dan interpretasi ekstrem dari hukum syariah ditegakkan.

Namun, polisi moralitas Taliban kali ini akan berbeda dari era sebelumnya yang akan berfokus pada persuasi bukan kekerasan.

The Guardian melaporkan pedoman baru Taliban menyetujui penggunaan kekuatan terhadap pelanggar yang paling tidak kooperatif. Proses penanganan pelanggar secara berjenjang dijelaskan melalui beberapa tahap.



“Pertama, mendidik mereka. Kemudian menekan untuk mengubah perilaku mereka. Jika mereka masih tidak patuh, kekerasan mungkin menjadi pilihan. Jika orang itu masih melanjutkan (perilaku menyinggung) dan ini dapat menyebabkan banyak masalah, maka Anda dapat menghentikannya dengan tangan Anda,” kata pedoman itu.

Dikutip Al Arabiya, Selasa (21/9), Taliban berjanji melindungi hak-hak perempuan. Namun, buku aturan tersebut menyatakan perempuan hanya diperbolehkan meninggalkan rumah mereka jika ditemani wali laki-laki.

Kontak perempuan dengan laki-laki juga harus dibatasi pada keluarga dekat.

“Anda harus dengan sabar mencegah wanita pergi ke luar tanpa jilbab dan tanpa wali laki-laki yang menemaninya,” tambahnya.

Halaman selanjutnya →

Halaman 1 2

Berita Terbaru