eramuslim

Cinta, Ilmu, dan Uzbekistan: Menggugurkan Penghalang Menuju Cahaya

750+ Uzbekistan Pictures [HD] | Download Free Images on Unsplash

Eramuslim.com - “Tugasmu bukanlah mencari cinta, tetapi sekadar menemukan semua penghalang yang telah kau bangun untuk melawannya”

- Jalaluddin Rumi -

Apa yang terbayang di pikiran kamu ketika mendengar nama negara Uzbekistan? Apakah tentang kisah negeri 1001 malamnya dengan kota-kota sutra yang mempesona? atau tentang negara yang mempunyai sejarah kejayaan Islam dan ilmu pengetahuannya? atau juga lagi tentang tempat lahirnya perowi hadits terkemuka, Imam Bukhari namanya? Seperti itu jugalah pandangan kami pada saat program SIBAC-SIP (Student of Imam Bonjol Academic Comunity-Smart Intership Program) yang diadakan oleh Universitas Islam Negeri Imam Bonjol Padang untuk kedua kalinya, di mana program itu melampirkan negara Uzbekistan sebagai tempat tujuan studi dan ekplorasi kami.

Tak pernah memang terbayangkan sebelumnya, kami mahasiswa akan pergi mengeksplorasi negeri yang disebut-sebut sangat indah oleh Ibnu Batutah dalam Rihlah-nya, dan juga dijuluki negara seribu masjid oleh para travel blogger umumnya. Hadiah yang kami raih ini bukan karena titipan dari bapak ini, ibu itu, atau pihak mana pun, melainkan kami mendapatkannya dengan proses perjuangan yang panjang dan penuh pengorbanan. Kami telah melewati serangkaian proses seleksi yang begitu amat panjang dan ketat dalam program SIBAC-SIP ini. Mulai dari persiapan administrasi yang harus dipenuhi, tantangan bahasa yang harus kami taklukkan, hingga penantian berbulan-bulan yang menguji kesabaran, jujur setiap langkahnya sangat melelahkan. Tapi, rasanya itu memang pantas untuk kami dapatkan. Sebagaimana dalam satu frasa mengatakan no pain no gain (tidak ada rasa sakit, tidak ada hasil).

Hari itu, proses seleksi penerimaan calon peserta sIBac-sip 2025 dibuka. Melalui pamflet yang bertebaran luas di kanal-kanal media digital seperti Instagram dan WhatsApp. Kami yakin, ratusan, bahkan ribuan mata memandangnya. Baik mahasiswa, staf, tenaga pendidik, mahasiswa pascasarjana, hingga orang-orang di luar sana. Siapa yang tak tergiur dengannya? Berkesempatan menimba ilmu di negeri orang, dibiayai dan difasilitasi kampus, plus merasakan langsung bersujud di masjid-masjid berkubah biru nan menawan itu. 

Akan tetapi, tak ada makan siang yang gratis. Tak ada keberhasilan yang didapat dengan cuma-cuma. Semuanya harus dilakukan dengan bersusah payah, dengan upaya yang lebih dari sekuat tenaga. Kami bersaing dengan ratusan mahasiswa lainnya untuk ‘memperebutkan’ posisi itu, menjadi mahasiswa pilihan UIN Imam Bonjol Padang untuk diberangkatkan ke Australia, Turkiye, dan kini, Uzbekistan. Sesuai dengan namanya, sIBac, “siap menyibak dunia”. Alhamdulillah, dengan izin Allah, kami menjadi bagian dari tiga puluh mahasiswa yang akan diberangkatkan menyibak dunia itu. 

Proses sIBac-sip memberi banyak sekali pelajaran berharga untuk kami. Kami ditempa, dididik, dibina, dan dibentuk bukan hanya menjadi mahasiswa, tapi juga menjadi calon-calon penulis, pemikir, dan peneliti. Di sinilah cinta itu tumbuh, kecintaan terhadap menulis, yang membuat kami menjadi ‘kecanduan’ publish. Benarlah apa dikata Rumi, tugas kita bukan mencari cinta, tetapi menemukan semua penghalang yang kita bangun untuk melawannya. Dari sini, kami telah menemukan semua penghalang yang kami bangun, yang pada akhirnya mengantarkan kami pada kecintaan terhadap menulis. 

Kami, sepuluh orang mahasiswa dengan latar belakang dan bidang keilmuan yang beragam ini terpilih menjajaki negeri Imam Bukhari, Uzbekistan. Negeri yang dijuluki sebagai Negeri 1001 malam itu bukan hanya memanjakan mata, tetapi juga menawan diri untuk terus datang berkunjung ke sana. Selain dikenal sebagai negerinya para cendekiawan dan ilmuwan muslim seperti Ibnu Sina, Imam Bukhari hingga Al-Farabi, negeri ini juga dikenal sebagai negara muslim sekuler yang plural, dengan konsep “Turkestan adalah rumah kita”.

Uzbekistan juga dikenal sebagai negara dengan beragam peradaban tertua, dengan warisan budaya yang tak hanya diakui oleh dunia Islam saja, tetapi juga dunia modern. Samarkand dan Bukhara, dikenal dengan berbagai arsitektur yang indah, yang merupakan bagian dari kebudayaan dan sejarah Uzbekistan yang kaya. Di 2019 saja, terdapat sekitar 8.208 warisan budaya berwujud, 4.748 benda arkeologi, dan 2.250 arsitektur yang tercatat di daftar benda-benda warisan budaya nasional Uzbekistan. Banyaknya jumlah monumen dan wilayah-wilayah bersejarah di Uzbekistan merupakan warisan budaya dan ‘harta karun’ yang tak ternilai harganya.

Langkah demi langkah ditapaki, jalan terjal nan berliku telah dilewati, tak terhitung seberapa tinggi gunung keraguan itu didaki. Hari ini, kami buktikan kepada semua yang mencaci, kepada tatapan sinis yang meremehkan diri; bahwa kami mampu berdiri, berpijak di atas mimpi kami, dengan kuatnya azzam dan motivasi. Atas nama cita-cita dan impian, dengan lantang kami gaungkan: “Kami datang, Uzbekistan!”

Di negeri inilah kami berharap bukan hanya melihat jejak-jejak sejarah, tetapi juga menapaki nilai-nilai yang diwariskan para ulama besar. Setiap batu di Samarkand dan setiap sudut di Bukhara adalah saksi dari peradaban yang pernah berdiri tegak dengan ilmu dan iman berjalan beriringan, membentuk peradaban yang mengagumkan. Kami bukan pelancong biasa. Kami adalah pencari makna, penggali jejak pemikiran yang masih hidup dalam diam. Kami ingin memahami bukan hanya bentuknya, tapi juga getar ruh yang pernah menghidupkannya karena sejatinya ilmu bukan sekadar angka dan naskah, tetapi cahaya yang menuntun jiwa.

Perjalanan ini adalah awal, bukan akhir. Ia bukan garis finis, tapi gerbang pembuka untuk perjalanan-perjalanan panjang yang akan datang. Saat kami kembali ke tanah air nanti, kami tak hanya membawa tas penuh kenangan atau koleksi foto semata. Kami ingin pulang membawa pandangan yang lebih luas, semangat yang lebih segar, serta beban moral untuk menyampaikan apa yang kami pelajari. Uzbekistan akan menjadi bagian dari narasi hidup kami, dan SIBAC-SIP akan selalu kami kenang sebagai jembatan yang menghubungkan impian dan kenyataan, antara harapan dan pengabdian. Dan kepada siapa pun yang masih ragu dengan mimpinya, biarkan kisah ini menjadi satu bukti bahwa mimpi itu tak pernah salah alamat asal kita mau mengejarnya sampai ujung dunia.

Sumber:

Rahma Ahmad, Discovering Uzbekistan (Yogyakarta: Laksana, 2021).

Zamira Mukhamedjanovna Mukhamedova, “Bioethics in Uzbekistan: History, issues, prospects,” Asian Bioethics Review 7, no. 5 Special Issue (2015): 501–11, https://doi.org/10.1353/asb.2015.0045

Madaminov O.Z., “PROMOTION OF THE HISTORICAL AND CULTURAL HERITAGE OF UZBEKISTAN AS AN IMPORTANT FACTOR THAT IMPROVES THE IMAGE OF THE COUNTRY,” International Journal of Artificial Intelligence 2, no. 2 (2025): 68–77, http://www.airccse.org/journal/ijaia/ijaia.

Work on Turning the ‘Uchtepa Bulak Mozor’ Archeological Monument into an Open-Air Museum,” Web of Semantic: Universal Journal on Innovative Education 2, no. 6 (2023): 2–5.