eramuslim

Dauroh Tsukuba 3: Muslim Kaffah Solusi Kebangkitan Ummat

Peserta tengah mengikuti materi

Berbagai masalah yang terjadi di Indonesia harus menjadi bagian dari kepedulian ummat Islam di Indonesia untuk menyelesaikannya, karena kebangkitan Indonesia tidak lain merupakan bagian dari kebangkitan Islam yang harus diperjuangkan bersama-sama.

Peserta sedang mengikuti game perkenalan

Indonesia merupakan Negara muslim terbesar di dunia, sehingga wajah Indonesia adalah representasi wajah dunia Islam. Hal ini disampaikan oleh DR. Arman Wijanarko pada acara Dauroh Tsukuba-3 di Tsukuba, Jepang (31/12/2010).

Peserta melakukan diskusi kelompok

Arman, yang juga Dosen Universitas Gadjah Mada ini menyampaikan materinya mengenai “Problem Dunia Islam: Akankah Islam Bangkit Kembali?”. Menurut Arman Indonesia saat ini masih menjadi negeri dengan sejuta masalah.

DR Ahmad Fanar Syukri sedang menyampaikan materi

“Indonesia kaya tapi rakyatnya belum menikmati kekayaan yang terkandung dibumi pertiwi. Kualitas pendidikan yang rendah menyebabkan kualitas sumber daya manusia yang rendah yang pada akhirnya berpengaruh juga pada tingkat daya saing nasional yang rendah”, tambah dosen yang sekarang menjadi Atase Pertanian KBRI Tokyo ini.

Rodiansono sedang menyampaikan materi

Mukhamad Najib tengah menyampaikan materi

Sementara itu, materi kedua yang berjudul “Mulai dari Nol: Memahami Tujuan Penciptaan Manusia” disampaikan oleh Rodiansono.

Peserta dimotivasi untuk menghafal qur`an

Menurut dosen Univesitar Lambung Mangkurat ini, manusia diberikan potensi ruh dan nafsu, dimana keduanya seringkali tarik menarik.

Suasana tidur peserta

Namun Islam mengajarkan agar orang beriman berusaha menundukkan nafsunya sehingga sesuai dengan tuntutan Islam. “Manusia diciptakan tidak lain untuk beribadah kepada Allah, sehingga semua urusan hendaknya harus diarahkan dalam rangka beribadah kepada-Nya semata”, jelas ustad yang biasa dipanggil ustad Rodi ini.

Persiapan acara lapangan

Acara ini juga mengundang DR Ahmad Fanar Syukri dari LIPI. Doktor yang sehari-hari mengembangkan penelitian tentang sistem mutu ini menyampaikan bahwa untuk menuju kesholehan ummat maka perlu dibangun kesholehan pribadi terlebih dahulu. Menurutnya seorang muslim yang baik akan memiliki kesholehan peribadi sekaligus kesholehan sosial.

Peserta menunjukkan hasil karyanya

Seorang muslim tidak boleh hanya baik untuk dirinya sendiri, karena muslim yang baik menurutnya adalah muslim yang paling bermanfaat bagi orang lain, inilah yang disebut dengan kesholehan sosial.

Materi ke empat disampaikan Mukhamad Najib dengan judul “Menuju Muslim Kaffah”. Najib menyampaikan bahwa kebangkitan ummat Islam hanya bisa dilakukan dengan menggunakan metode yang dahulu pernah dipakai untuk membangun kejayaan Islam.

Suasana acara lapangan

Hal itu, menurutnya, tidak lain adalah Islam itu sendiri. Oleh karenanya setiap muslim harus memahami Islam dan menerima Islam secara kaffah, yaitu menerima Islam sebagai sistem kehidupan, bukan sekedar panduan ritual ibadah mahdoh semata. Untuk menjadi muslim kaffah, seorang muslim harus mencontoh kehidupan Rosulullah. “Kalau kita lihat, Rosulullah bukan hanya seorang ahli ibadah yang bersembunyi di masjid dan menjauhi segala urusan dunia, justru sebaliknya, beliau adalah seorang pemimpin agama dan pada saat yang sama juga seorang pemimpin dunia. Beliau adalah contoh sukses untuk para businessman, kepala Negara, panglima militer, guru, dan tentu juga kepala rumah tangga”, demikian dikatakan oleh dosen IPB yang tengah kuliah di The University of Tokyo ini.

Acara yang dilaksanakan di masjid Tsukuba ini tidak hanya diisi oleh materi keislaman, tapi juga berbagai aktifitas lain seperti dinamika kelompok, diskusi, games dan olah raga. Selain ada acara qiyamullail berjamaah dan muhasabah, peserta juga diberikan motivasi dan kiat-kita menghafal Al-qur`an.

Menurut Endrianto Djajadi, selaku ketua pengarah Dauroh Tsukuba-3 ini, sangat penting bagi ummat Islam untuk bisa menghafal Qur`an karena tingkatan manusia di syurga nanti sesuai dengan banyaknya hafalan Quran. “bahkan jika ada dua orang calon pemimpin yang sama-sama baik kualitasnya, kita dianjurkan untuk memilih mana yang paling banyak hafalan qur`an diantara keduanya”, tutur Endri.

Acara Dauroh yang dilakukan pada tanggal 31 Desember 2010 sampai 1 Januari 2011 ini dimaksudkan sebagai alternatif lain bagi masyarakat Indonesia di Jepang, khususnya di wilayah Tokyo dan sekitarnya untuk mengisi liburan tahun baru dengan hal yang lebih bermanfaat. Menurut Sukma selaku ketua panitia, acara dauroh ini dimaksudkan untuk menambah kefahaman masyarakat Indonesia di jepang terhadap nilai-nilai Islam.

Acara yang mengambil tema “Menjadi Muslim Kaffah di Bumi Sakura” ini dihadiri oleh sekitar 87 peserta yang terdiri dari mahasiswa dan pekerja dari berbagai daerah di Tokyo dan sekitarnya, seperti Tsukuba, Ibaraki, Saitama, Chiba dan lain sebagainya.(ED)