Dibalik Pertemuan Empat Pemimpin Arab di Riyadh
Empat pemimpin Arab melakukan pertemuan di pangkalan angkatan udara Arab Saudi di Riyadh, Rabu kemarin. Mereka adalah Raja Arab Saudi Raja Abdullah, Presiden Mesir Husni Mubarak, Emir Kuwait Syaikh Sabah al-Ahmad al-Sabah dan Presiden Suriah Bashar al-Assad.
Pertemuan yang difasilitasi Raja Abdullah ini terbilang jarang terjadi, karena mengikutsertakan negara Suriah. Selama ini, negara-negara Arab seperti Saudi, Kuwait dan Mesir dengan Suriah bisa dibilang dingin, karena kedekatan kedekatan ketiga negara itu dengan AS, sementara Suriah masih terlibat ketegangan dengan AS.
"Perang dingin" diantara negara-negara Arab makin mencuat setelah pertemuan Qatar yang membahas soal agresi brutal Israel ke Palestina. Arab Saudi dan Mesir memboikot pertemuan itu dan menggelar pertemuan sendiri di Kairo.
Kantor berita Saudi, SPA melaporkan, Raja Saudi ingin memperkuat kembali hubungan dengan Suriah dan mengakhiri perbedaan yang meruncing antara negara-negara Arab. Raja Abdullah menginginkan seluruh negara-negara Arab menyatukan pandangan menjelang pertemuan tingkat tinggi Liga Arab akhir Maret mendatang di Qatar.
Selama bertahun-tahun, hubungan Saudi yang menjadi pioner poros negara-negara Arab dengan Suriah bisa dibilang tidak akur karena kedekatan Suriah dengan negara non-Arab, Iran dan dukungan Suriah terhadap Hamas di Palestina dan Hizbulah di Libanon.
Hubungan Saudi dengan Suriah makin renggang, ketika Suriah diduga mendalangi pembunuhan perdana menteri Libanon Rafiq Hariri, karena Hariri juga tercatat sebagai warga negara Saudi dan mendapat perlindungan dari kerajaan Saudi.
Pertemuan empat pemimpin Arab di Riyadh dengan melibatkan Suriah, bukan hanya menyangkut pemulihan hubungan Saudi-Suriah. Lebih dari itu, Saudi punya agenda sendiri dalam upaya menyatukan negara-negara Arab. Saudi ingin mendapatkan dukungan atas inisiatif perdamaian Arab yang digulirkan tahun 2002 lalu, yaitu melakukan normalisasi hubungan dengan Israel dengan syarat Israel harus menghentikan penjajahannya di Palestina dan mundur ke perbatasan tahun 1967.
Belakangan, sikap negara-negara Arab terhadap persoalan Israel terpecah menyusul agresi brutal Israel ke Gaza bulan Januari kemarin. Qatar misalnya menghimbau agar inisiatif Arab dibatalkan karena Israel tidak menunjukkan niat baik untuk berdamai. (ln/mol)