Ditindas Rezim Komunis Cina, Ribuan Anak Muslim Uyghur Terpisah Dari Orangtuanya
Eramuslim.com - Seharusnya itu menjadi perjalanan pulang rutin ke Xinjiang untuk istri dan dua anak Mamutjan Abdurehim. Itu terjadi lima tahun lalu. Sampai saat ini, Mamutjan belum bertemu lagi dengan istri dan kedua buah hatinya.
Pada Desember 2015, istri Mamutjan, Muherrem, membawa putri dan putra mereka dari Malaysia kembali ke wilayah di China barat itu untuk mengurus paspor baru. Dia mengatakan mereka masih terperangkap di sana, terjebak dalam tindakan keras pemerintah terhadap minoritas Muslim, dimana sekitar 2 juta orang ditahan secara sewenang-wenang di kamp-kamp besar di seluruh Xinjiang.
China membantah tuduhan pelanggaran HAM di wilayah tersebut, mengatakan kamp-kamp tersebut diperlukan untuk mencegah ekstremisme agama dan teroris.
Mamutjan menyampaik keluarganya, yang secara etnis merupakan Uighur, tidak bisa meninggalkan China, sementara dia akan berisiko ditangkap jika kembali ke China. Sekarang dia tinggal di Adelaide, Australia.
Pekan ini, tim CNN menelusuri putri Mamutjan yang berusia 10 tahun bernama Muhlise di rumah kakek dan neneknya dari pihak ayah di kota Kashgar, di Xinjiang Selatan.
Ketika ditanya apakah Muhlise punya pesan untuk ayahnya, yang belum pernah berbicara dengannya sejak 2017, Muhlise mulai menangis.
“Saya merindukannya,” ungkapnya, dikutip dari CNN, Jumat (26/3).
Ketika Mamutjan menonton video itu dari rumahnya di Adelaide, dia berusaha menahan tangis.
“Saya tidak percaya betapa tingginya (putriku) sekarang. Negara jenis apa yang melakukan ini ke orang-orang tak berdosa?”
Dalam sebuah laporan baru yang dirilis Kamis, Amnesty International memperkirakan ada ribuan keluarga Uighur di seluruh dunia yang mengalami seperti apa yang dialami Mamutjan, orang tua dan anak yang terpisah selama bertahun-tahun akibat tindakan keras pemerintah China di Xinjiang.
Di bawah kepemimpinan Presiden Xi Jinping, minoritas Muslim di Xinjiang diduga menjadi target program penangkapan massal, indoktrinasi, dan bahkan sterilisasi perempuan.
Menurut laporan Amnesty International, beberapa orang tua yang melarikan diri dari wilayah itu pada awal-awal dimulainya tindakan keras pemerintah tidak bisa berkumpul kembali dengan anak-anak mereka. Yang lainnya, seperti Mamutjan, secara tidak sengaja mendapati diri mereka berada di sisi berlawanan, dan sekarang takut kembali ke Xinjiang.
Alkan Akad, seorang peneliti China di Amnesty International, mengatakan pemisahan orang tua dan anak tidak semuanya kebetulan. Dalam beberapa kasus, ini bisa menjadi taktik yang disengaja oleh pihak berwenang.
“Pemerintah China ingin mendapatkan pengaruh atas populasi Uighur yang tinggal di luar negeri, sehingga mereka dapat menghentikan mereka terlibat dalam aktivisme dan berbicara untuk keluarga dan kerabat mereka di Xinjiang,” jelas Akad, yang menulis laporan baru tersebut.
Dalam konferensi pers pada 15 Maret, juru bicara Kementerian Luar Negeri China Zhao Lijian mengatakan tuduhan pelanggaran hak asasi manusia di Xinjiang "tidak berdasar dan sensasional."
Pemerintah China belum menanggapi pertanyaan terperinci CNN terkait keluarga yang disebutkan dalam artikel itu, atau tentang skala pemisahan keluarga antara Uighur di Xinjiang dan luar negeri.
'Kami tak pantas menerima penderitaan ini'
Terakhir kali Mamutjan dan keluarganya berkumpul yaitu pada 2015 di Malaysia. Saat itu, Mamutjan meneruskan studi doktoralnya bidang Kajian Dunia Muslim, dengan beasiswa benuh, sementara istrinya, Muherrem belajar bahasa Inggris. Saat itu putrinya Muhlise sekolah TK. Putranya saat itu baru enam bulan.
“Kami cukup bahagia. Kami tidak punya masalah besar dalam hidup,” kisahnya.
Pada Desember 2015, Mamutjan mengatakan, istrinya kembali ke Xinjiang dengan dua anak mereka. Istrinya kehilangan paspor dan kedutaan besar China di Malaysia menolak menerbitkan paspor baru untuknya kecuali dia kembali ke Kashgar.
Paspornya diperbarui pada 2016, tetapi istrinya tak bisa langsung kembali ke Malaysia karena masalah keuangan. Kemudian, sekitar awal 2017, dokumen perjalanan istrinya dan anaknya disita pihak berwenang. Beberapa bulan kemudian, dia mengatakan istrinya menghilang.
“Saya tetap berhubungan dengan istri saya sebelum 15 April 2017. Kami mengobrol setiap hari, melakukan panggilan video dengan anak-anak. Dan pada pertengahan April 2017, dia segera menghilang dari (aplikasi perpesanan China) WeChat,” tuturnya.
“Saya menelepon ke rumah keesokan harinya dan ibu saya mengabarkan dia pergi untuk waktu yang singkat, untuk kursus singkat. Dan saya menyadari bahwa dia ditahan.”
Mamutjan mengatakan dia belum berbicara dengan istrinya sejak saat itu. Awalnya dia khawatir anak-anaknya akan dikirim ke panti asuhan yang dikelola negara, tetapi kemudian menerima video di media sosial yang menunjukkan mereka masih tinggal terpisah dengan kakek nenek mereka dari kedua belah pihak.
Khawatir akan keselamatannya, Mamutjan meninggalkan Malaysia dan pindah ke Australia. Tidak ada kabar dari keluarganya selama bertahun-tahun. Menurut laporan yang bocor yang dilihat CNN, warga Uighur di Xinjiang bisa ditangkap hanya karena pelanggaran kecil, termasuk menghubungi kerabat di luar negeri dan merupakan hal yang umum bagi keluarga yang masih di Xinjiang untuk memutus komunikasi.
Kemudian pada Mei 2019, Mamutjan melihat video anaknya di media sosial, yang saat itu berusia 4 tahun, dengan semangat berteriak, “Ibuku sudah lulus!”
Pemerintah China bersikeras kamp-kamp interniran adalah "pusat pelatihan kejuruan" dan para tahanan adalah "pelajar", dan Mamutjan menganggap sorak-sorai putranya sebagai isyarat istrinya telah dibebaskan.
Mamutjan mengatakan dia menelepon orang tuanya, berharap video itu adalah pertanda situasi keluarga telah membaik, tetapi ketika ibunya menjawab, dia memberi tahu ada pejabat Partai Komunis China di rumah dan menutup telepon.
Dengan izin Mamutjan, wartawan CNN mengunjungi rumah orang tuanya di Kashgar tanpa pemberitahuan untuk melihat apakah mereka dapat membantu menemukan anak-anaknya - dan mencari tahu apa yang terjadi dengan istrinya.
Putrinya Muhlise membukakan pintu dengan kemeja pink cerah dan celana hitam. Saat diperlihatkan foto Mamutjan, dia berkata: "Ini Ayahku." Dia mengatakan dia tahu di mana ayahnya berada tetapi sepertinya tidak mau membicarakan di mana ibunya.
Tapi setelah menanyakan kepada kakek-neneknya, Muhlise mengatakan ibunya sedang berada di rumah neneknya yang lain, tetapi dia “tidak bisa sering-sering bertemu dengannya”. Anak berusia 10 tahun itu mengatakan dia terakhir kali melihat ibunya sekitar satu atau dua bulan yang lalu. Dia mengatakan dia tidak bersama adiknya tetapi sering bertemu.
CNN telah menanyakan kepada pihak berwenang China terkait keberadaan Muherrem, tetapi belum menerima balasan. CNN juga mencoba mengunjungi rumah orang tua Muherrem di Kashgar, tetapi tim tidak dapat menemukan siapa pun di sana - pintunya dikunci dari luar.
Ketika Muhlise ditanya apakah dia ingin bertemu kembali dengan ayahnya, dia mengatakan, “Kami tidak bisa pergi. Paspor kami disita.”
Saat ditanya apakah dia merindukan ayahnya, dia memjawab sedih, “Ibuku tidak ada di sini, dan ayahku juga tidak ada di sini. Aku ingin bertemu kembali dengan mereka.” Mendengar jawaban itu, neneknya langsung menangis.
Mamutjan meyakini pemerintah China memisahkan orang tua dari anak-anak mereka sebagai cara untuk mengintimidasi dan mengendalikan kelompok minoritas Xinjiang.
“Ini pada dasarnya adalah hukuman kolektif untuk etnis dan agama mereka serta nilai-nilai budaya mereka yang unik,” jelasnya.
“Kami tidak pantas menerima semua penderitaan yang luar biasa ini.” [merdeka]