free hit counters
 

Budaya Memuja Syahwat?

Pernah Bandung dijuluki sebagai ‘Varij van Java”, atau ‘Paris’nya pulau Jawa. Indah. Mempesona. Melahirkan inspirasi bagi yang mengunjungi dan berada di kota Bandung. Bukit, lembah, pepohonan, dan paduan arsitekturnya, yang khas, membawa kehidupan yang penuh dengan romantisme. Kala itu. Tak salah. Presiden Soekarno pernah tinggal di Bandung. Menikah dengan Ibu Inggit. Mungkin sangat impressif kala itu.

Sekarang, di 2010, Bandung, sangatlah berbeda dengan ketika ‘bahuela’ dulu. Sekarang Bandung sangat padat penghuninya. Jalanan sepanjang hari macet. Terkesan semrawut. Sampah ada di mana-mana. Seperti kota yang tidak terurus. Angkot penuh sesak.

Mungkin lebih banyak angkot dibandingkan dengan para penumpangnya. Pokoknya Bandung sekarang tidak lagi dapat disebut sebagai ‘geulis’ (cantik). Bandung menjadi panas. Bandung sering banjir. Banyak penduduk, banyak kenderaaan, banyak rumah dan bangunan, yang tanpa drainase yang memadai, dan semakin kurangnya resapan air. Bukit-bukit semakin sedikit pepohonannya, dan digantkan oleh bangunan. Inilah Bandung sekarang.

Tetapi Bandung tetap memiliki magnitude (daya tarik) yang kuat. Setiap akhir pekan puluhan ribu orang datang ke Bandung. Tak kurang 60.000 orang dengan membawa kenderaan pribadi berkunjung ke Bandung setiap akhir pekan, dan mereka menikmati ‘week end’. Bandung menjadi tempat peristirahatan dan mencari inspirasi bagi kelas menengah baru yang sudah sumpek hidup di Jakarta. Mereka selalu meluangkan waktu berakhir pekan alias melaksanakan ‘week end’. Inilah sebuah ‘keajaiban’, yang sekarang ini menjadi kegemaran para orang-orang  berada (kaya)  Jakarta.

Orang menjadi lebih sering ke Bandung, juga lantaran jarak tempuh antara Jakarta-Bandung, lebih cepat, dan hanya dua jam. Sesudah adanya jalan tol Cipularang. Tol Cipularang ini menjadikan antara Jakarta – Bandung menjadi lebih dekat. Dulu orang-orang yang pergi ke Bandung menggunakan kereta Parahiyangan. Menikmati alam yang sangat indah. Sesudah kereta melewati kota Purwakarta. Sepanjang perjalanan mulai dari Purwakarta, mata dimanjakan dengan pemandangan alam yang sangat indah. Lapisan-lapisan gunung, sawah, kebun, dan desa-desa, yang bergerombol dapat di lihat  sepanjang perjalanan.

Bandung menjadi tempat yang sangat digemari. Di Bandung orang-orang jalan-jalan menghabiskan akhir pekannya. Menikmati segala jenis makanan yang mereka inginkan. Wisata kuliner. Di Bandung mereka jalan ke ‘factory outlet’ yang sekarang bertebaran seantore Bandung. Jalan-jalan di Bandung yang menuju ke atas, seperti daerah Setiabudi dan Dago, banyak ‘factory oulet’, setiap orang dapat berjalan-jalan sambil melihat segala jenis pakaian. Tas, sepatu, jaket, kaos, baju, dan berbagai jenis pakaian lainnya. Mereka sungguh menikmati kehdupannya.

Kalau masuk kota Bandung melalui pintu gerbang tol Pastuer, kanan-kiri jalan, hanyalah ada papan reklame, yang besar-besar, berbagai hotel dan factory oulet. Tinggal memilih di mana mau menginap di Bandung. Kalau mau ingin lebih indah lagi pemandangannya di malam hari, bisa mendapatkan bungalow di daerah Lembang, diatas bukit, yang dapat melihat kota Bandung dari atas. Sinar lampu di malam hari, yang berpendar-pendar, semakin menambah inspirasi dan imajinasi, bagi mereka yang sudah berada di bungalow dan hotel di puncak-puncak, dan dapat melihat pemandangan dari atas. Begitu indah.

Maka, Bandung , tak lain menjadi tempat memuja syahwat. Jalan-jalan, makan, belanja, dan berakhir dengan sek bebas, di hotel-hotel dan bungalow. Inilah Bandung sekarang. Tentu ini semua hanya untuk mereka, khususnya kaum kelas menengah yang sudah mulai makmur. Perlahan-lahan masyarakat Bandung, ikut luruh dengan budaya baru, budaya yang memuja syahwat yang datang dari Jakarta.



Hati, pikiran, dan perilaku menjadi satu alur. Hanya menikmati kehidupan. Dengan gaya hidup hedonis. Memuja syahwat. Tidak ada yang lain.

Bandung yang dulu menjadi pusat pergerakan Islam. Sekarang tak nampak lagi. Hanya yang ada kehidupan yang memuja syahwat. Masjid sepi dari aktivitas dakwah. Masjid Istiqomah yang dahulu menjadi pusat pegerakan, sekarang tak lagi. Masjid Salman yang berdekatan dengan kampus ITB, dahulu melahirkan gerakan ‘Mujahid Dakwah’, yang digagas dan dipelopori oleh almarhum Dr. Ir. Imaduddin Abdulrahim. Kini, suasana sudah berubah, dan tak nampak lagi, kegiatan keislaman yang menonjol. Sedih memang.

Walaupun Gubernur Jawa berasal dari PKS, Ahmad Heriawan, tak nampak perubahan kualitatif dalam kehidupan masyarakatnya. Terkesan masyarakat semakin jauh dari kehidupan beragama, dan semakin tidak nampak kehidupan islami. Meskipun, Bandung semakin ramai dikunjungi. Wallahu’alam.

Editorial Terbaru