Pemilu Belum Digelar Sudah Menang Mutlak

Belum digelar pemilihan presiden (pilpres) pasangan SBY-Boediono sudah menang mutlak. Survei yang dibikin LSI (Lembaga Survei Indonesia), menunjukkan hasil yang sangat fantastic. Di mana pasangan SBY-Boediono, mendapatkan dukungan suara 70 persen.

Direktur LSI, Dodi Ambara, menjelaskan, berdasarkan survei yang dilakukan LSI, tanggal 25-30 Mei 2009, menempatkan pasangan SBY-Boediono berada posisi yang paling atas. Dari 2999 sampling yang disebar ke seluruh Indonesia, sebanyak 70 persen memilih pasangan SBY-Boediono, dan keterpilihan pasangan SBY-Boediono, mengalahkan pasangan lainnya, Mega-Prabowo, dan JK-Wiranto.

Namun, hasil survei ini diragukan berbagai kalangan, termasuk lawan politik SBY-Boediono, kaerna LSI mengakui kalau mereka ini disewa lembaga konsultan pemenangan SBY-Boediono, yaitu Fox Indonesia. Bahkan, LSI jauh-jauh hari, melalui Deny JA, sudah mengemukakan tentang ‘skenario’ pilpres satu putaran. Dan, sekarang ini dengan berbagai dasar dan dalih, masyarakat diarahkan agar pilpres yang akan datang ini, hanya satu putaran. Dan, tujuannya memenangkan pasangan SBY-Boediono.

Tentu, dilihat dari hasil yang disampaikan LSI ini, sungguh sangat tidak masuk akal, di mana pasangan SBY-Boediono, menang mutlak, dan mendapatkan dukungan 70 persen pemilih. Kenyataannya, justru lembaga survei ini ternyata, hanyalah alat dari Fox Indonesia, yang tujuannya untuk menggiring publik opini, dan mencekoki otak orang Indonesia, bahwa pilpres Juli nanti, pemenangnya adalah pasangan SBY-Boediono. “Ya, kali ini kita memang diminta Fox untuk melakukan survei terhadap pasangan capres/cawapres”, ucap peniliti senior LSI, Burhanuddin Muhtadi. Jadi, LSi sejatinya menjadi alat dari kepentingan politik pasangan SBY-Boediono, yang belum apa-apa sudah memastikan kedua pasangan itu sudah menang mutlak.

Sementara itu, tim sukses SBY-Boediono, Anas Urbaningrum, mengaku baru tahu kalau LSI di danai Fox Indonesia. “Partai tidak tahu mengenai lembaga mana yan digunakan menguji persepsi publik”, ujarnya. Diliain fihak, sejumlah pakar politik, seperti Efendi Gozali, J.Kristiadi, meragukan hasil survei yang dilakukan oleh LSI. “Ini menjadi masalah serius di negara kita saat ini. Banyak lembaga survei yang tidak mengumumkan latar belakangnya kepada publik. Sehingga, merugikan rakyat”, ucap Efendi Gozali. (Republika, 10/6/20090).

Lebih lanjut, J.Kristiadi memberikan komentarnya atas hasil survei LSI, menyatakan, ‘Perbedaan mencolok pada hasil survei tentang elektabilitas capres dan cawapres telah mengundang ketidak percayaan publik terhadap keberadaan lembaga survei. “Saya kira perlu ada audit, rule of conduct yang mengatur tata krama survei’, ujar Kristiadi.

Memang, bila pilpres hasilnya merupakan sebuah rekayasa dari lembaga survei, yang tujuannya memenangkan calon pasangan terentu, maka akibatnya pasangan yang terpilih akan minus kepercayaan dari publik. Dan, mengakibatkan pasangan yang menang menjadi sangat tidak kredibel.

Di zaman Soeharto dulu, pemilu selalu direkayasa dengan menggerakkan unsur-unsur dan alat negara, sehigga Golkar sebagai partai pemerintah selalu memenangkan pemilu dengan suara mutlak. Itu pengalaman di zaman Orde Baru, dan melalui cara seperti itu, Soeharto dapat berkuasa selama lebih dari tiga dekade. Sekarang, rekayasa itu dengan menggunakan lembaga survei. Melalui lembaga survei itu, menggiring opini publik, bahwa pasangan tertentu telah memenangkan pilpres.

LSI telah membuat hasil survei, dan hasilnya memenangkan secara mutlak, sebesar 70 persen, pasangan SBY-Boediono, dan ternyata LSI, kegiatannya dibiayai oleh Fox, sebuah lembaga konsultan, yang disewa oleh pasangan SBY-Boediono. Inilah sebuah rekayasa yang sangat tidak jujur, dan menyebabkan ketidak percayaan rakyat, di era demokrasi masih ada cara-cara merekayasa, seperi di zaman Orde Baru dulu. Wallahu ‘alam.