Ekonomi Israel Babak Belur: Perang Gaza dan Lebanon Timbulkan Kerugian Fantastis

eramuslim.com - Perekonomian Israel dilaporkan semakin memburuk setelah melancarkan serangan ke Jalur Gaza pada Oktober 2023, yang kemudian meluas hingga Lebanon. Kondisi ini tercermin dalam laporan yang dirilis oleh Arab Center Washington DC.
Laporan tersebut menyebutkan bahwa Israel telah memasuki perang dalam keadaan ekonomi yang tidak stabil. Ketidakstabilan ini dipicu oleh konflik politik internal yang terjadi pada tahun sebelumnya, diperparah oleh perlambatan ekonomi global serta tingginya inflasi, harga barang, dan suku bunga.
Kerugian ekonomi akibat perang mencakup biaya langsung untuk operasi militer serta dampak finansial jangka menengah dan panjang. Salah satu pengeluaran utama dalam perang Gaza adalah mobilisasi sekitar 300.000 tentara cadangan pada awal konflik.
"Hal ini berarti pemerintah Israel akan menanggung biaya wajib militer, dan ekonomi Israel akan menanggung biaya produksi karena ketidakhadiran mereka dalam angkatan kerja," demikian pernyataan dalam laporan tersebut.
Kementerian Keuangan Israel melaporkan bahwa biaya langsung yang harus ditanggung negara untuk membayar 100.000 prajurit cadangan dalam sehari mencapai sekitar 70 juta shekel.
Angka ini masih dapat meningkat karena ada tambahan biaya terkait akomodasi dan konsumsi prajurit, sehingga totalnya mendekati 100 juta shekel per hari. Selain itu, ada pula kerugian tidak langsung akibat berkurangnya hasil produksi, yang juga diperkirakan mencapai 100 juta shekel per hari.
Dengan mempertimbangkan faktor-faktor tersebut, total biaya langsung yang harus dikeluarkan setiap hari diperkirakan mencapai 200 juta shekel atau sekitar Rp1,1 miliar. Kementerian Keuangan juga mencatat bahwa biaya perang, yang mencakup pengeluaran untuk peralatan, amunisi, dan prajurit cadangan, dapat mencapai satu miliar shekel per hari.
"Bank Israel dan Kementerian Keuangan memperkirakan biaya finansial perang di Gaza, hingga Mei 2024, mencapai 250 miliar shekel, yang mencakup biaya militer dan kerugian finansial langsung dan tidak langsung akibat perang. Ada juga perkiraan bahwa biaya perang setelah meluas ke Lebanon mencapai 300 miliar shekel," ungkap laporan tersebut.
Selain itu, anggaran pertahanan Israel juga mengalami peningkatan signifikan.
Sebelum perang pecah, anggaran Kementerian Pertahanan Israel pada tahun 2023 tercatat sekitar 60 miliar shekel. Namun, pada tahun 2024, jumlahnya meningkat menjadi 99 miliar shekel akibat peningkatan belanja pertahanan.
"Pemerintah diharapkan mengalokasikan tambahan 20-30 miliar shekel setiap tahunnya untuk anggaran keamanan di tahun-tahun mendatang, dan anggaran kementerian untuk tahun 2025 diharapkan sekitar 118 miliar shekel, hampir dua kali lipat anggaran tahun 2023," tulis laporan tersebut.
Salah satu dampak negatif terbesar dari perang di Gaza adalah melambatnya pertumbuhan ekonomi Israel. Sejak konflik dimulai, terutama dalam dua bulan pertama, terjadi penurunan dalam konsumsi, produksi, dan investasi. Aktivitas ekonomi di wilayah selatan mengalami gangguan total, sementara wilayah utara juga terdampak secara signifikan.
Data terbaru dari Biro Statistik Pusat menunjukkan bahwa pada kuartal kedua tahun 2024, Produk Domestik Bruto (PDB) Israel mengalami penurunan sebesar 1,4% dibandingkan dengan tahun sebelumnya. Sementara itu, PDB sektor bisnis mencatat penurunan yang lebih tajam, yaitu 4,8%, yang menandakan bahwa ekonomi negara tersebut telah memasuki resesi.
Selain itu, volume ekspor Israel mengalami kontraksi sebesar 8,1%, sementara impor barang dan jasa turun 9,8%. Sektor real estat juga terdampak, dengan penurunan investasi mencapai 16,9%.
(Sumber selengkapnya: Cnbcindonesia)