Pelangi Retak (Bag. 7)

“Boleh mengajak anda makan siang dengan nasi, siang ini?” suara bariton itu kembali terngiang di telingaku, setelah seharian aku terbebas darinya. Dari tadi pagi ia menghadiri meeting dengan klien.

“Gimana hasil meetingnya, pak?”

“Anda belum menjawab pertanyaan saya!”

“E…saya…”

“Jangan bilang iya kalau ingin berkata tidak, ” tukasnya tegas. Datar. Aku hanya bisa menarik nafas panjang. Apa sih maunya?

“Ternyata anda memang lebih menyukai buku itu daripada nasi, ya?”
Mata manajer aneh itu menatap sinis ke arah novel remaja yang tergeletak di mejaku.

“Kali ini yang lapar bukan perut saya, Pak!”

“Oh, ya? Anda mengingatkan saya pada seseorang.”

“Semoga bukan pacar Anda!”

“Oh, no. Anda sangat berbeda dengannya. Dia terlalu baik. Sangat baik.”
Yah, itu kan menurut Anda… Memangnya siapa yang mau disamakan dengan pacar Anda? Apalagi dia sudah meninggal. Hhh!! Aku hanya bisa menggerutu dalam hati.

“Terima kasih atas smsnya semalam. Cukup menyakitkan!”

“Ehm…maaf, tapi saya memang lebih suka hidup dalam realitas. Apa adanya. Bukan fiksi.”

“Tapi realitas tidak harus menyakiti. Sepertinya Bapak masih harus belajar untuk menghargai perasaan orang lain.”

“Begitu juga dengan anda, Bu Rien…”

Hhh!! Benar-benar nggak mau kalah. Tapi biarlah. Dia punya hak untuk berbicara apapun. Dan aku juga berhak untuk tidak mendengarkannya. Lebih baik berpura-pura tuli daripada kepalaku migrain.

“Maaf. Saya rasa hubungan kita begitu aneh. Kalau kita saudara, pasti akan bertengkar setiap hari.”

Semoga saja saya tidak pernah punya saudara seperti Anda. Tapi kalimat itu tak jadi kulontarkan. Tersangkut di tenggorokanku yang mulai nyeri. Dan menit selanjutnya aku hanya bisa menelan ludah.

Mencoba membalikkan kain hidup ini, agar aku mampu melihat sulaman yang sebenarnya. Tapi jalinan ruwet itu tetap saja terpampang di hadapanku. Bahkan, semakin bertumpuk. Berjejalan seperti ratusan ikan yang tergelepar karena tertangkap jala.

“Saya rasa kita bisa saling berbagi. Dan saya yakin, anda sebenarnya adalah pribadi yang lembut. Tidak seketus yang saya lihat saat ini.”

Kemarin saya berpikir demikian, Bapak manajer. Tapi sekarang pikiran itu hilang entah ke mana…

“Bapak tidak menyukai wanita, bukan?”

“Please! Lupakan itu. Kita partner satu departemen. Pekerjaan kita akan hancur kalau kita terus-terusan bertengkar.”

Anda yang memulai, Tuan manajer!

“Ok! Sekarang kita berdamai!”

Aku hanya mengangguk. Aku benar-benar malas untuk mengeluarkan suara. Apalagi berhadapan dengan orang egois seperti dia.

“Selama ini saya menganggap wanita itu bisa membawa madu perdamaian dan racun kehancuran. Pengalaman saya mengatakan bahwa hanya sekitar 10% wanita yang mampu membawa madu itu, sedangkan 90% sisanya adalah pembawa racun. Tapi, saya yakin, anda termasuk kelompok 10%. Jadi, saya tidak perlu membangun benteng pertahanan untuk menghadapi anda.”

“Bapak egois.”

“Masa lalu telah membentuk pola pikir saya.”

“Sebuah pembelaan ego yang sempurna!” ujarku dingin.

“Yah, beginilah kehidupan. Dan Anda tidak akan berkata demikian kalau Anda berada dalam posisi saya.”

Sepertinya tidak akan pernah. Karena cara pandang kita berbeda. Tentu saja efek dari masalah itu tidak akan seberapa bagiku.

“Anda pikir saya tidak pernah kehilangan orang yang sangat saya cintai? Saya juga pernah mengalaminya tapi saya cukup sadar bahwa pertemuan dan perpisahan adalah yang biasa terjadi dalam kehidupan. Demikian juga tangis dan tawa. Kuncinya, jangan terlalu gembira dengan apa yang didapat dan tidak terlalu sedih dengan apa yang hilang dari kita. Karena itu semua sifatnya hanyalah titipan.”

“Jadi kita tidak berhak untuk merasa memiliki?”

“Jangan pernah merasa memiliki kalau tidak ingin merasa kehilangan. Semua hanya milik-Nya dan akan kembali kepada-Nya. Cukuplah kita merasa memiliki Allah kalau ingin merasakan kebahagiaan dalam hidup.”

“Anda benar. Tapi itu tidak berlaku bagi saya. Karena saya sudah terlanjur merasa memiliki. Saya sudah yakin bahwa dia adalah jodoh saya tapi ternyata Tuhan mengambilnya. Jadi, saya pikir saya memang harus hidup sendiri di dunia ini.”

“Anda menyalahkan Tuhan?”

“Saya akan menyalahkan diri saya sendiri kalau mencoba mencari penggantinya.”

“Aneh.”

“Yah, begitulah kehidupan saya kira. Aneh. Sulit dimengerti.”

“Seharusnya kita sadar, betapa agungnya Sang Maha Pembuat cerita kehidupan ini.”

“Itu dunia Anda.”

“Jangan pernah menyalahkan Tuhan!”

“Saya lebih tahu apa yang harus saya lakukan.”

Ya Robb…sekeras itukah hatinya? Semoga dia menemukan jalan kembali pada-Mu…

“Jam makan siang sudah berakhir, Pak, ” ujarku kemudian. Lelah rasanya setiap hari, jam istirahatku harus kuisi dengan perdebatan tak berujung seperti ini.

“Ah, ya. Terima kasih.”

Manajer aneh itu beranjak pergi tanpa berkata apa-apa lagi. Menuju ruangannya dan menutup pintu. Suatu hal yang hanya dilakukannya jika dia sedih. Katanya sih. Dan benar dugaanku. Beberapa saat kemudian kudengar musik itu lagi. Syair-syair yang sama. Kenangan sepahit apakah yang terkandung dalam lagu-lagu itu?

Huhh! Aneh. Biarlah dia asyik dengan dunianya sendiri. Toh, aku juga punya duniaku sendiri yang jauh lebih menyenangkan. Kubuka mushaf kecilku. Dan mengalunlah nada-nada lembut itu merayapi hatiku yang mulai gersang.

(bersambung)