eramuslim

Hamas Bangkit dari Puing: Serangan Mematikan di Beit Hanoun Bongkar Ilusi Kontrol Israel

 

Militan dengan penutup wajah dari Brigade Izzedine al-Qassam, sayap militer Hamas, berbaris di sepanjang jalan kamp pengungsi Nusseirat, Jalur Gaza tengah, Jumat, 28 Mei 2021.

Eramuslim.com - Senin (7/7/2024), serangan mendadak Hamas di Beit Hanoun, Gaza Timur Laut, menewaskan lima tentara Israel dan melukai 14 lainnya. Serangan ini menunjukkan bahwa meski terus dibombardir selama hampir dua tahun, Hamas belum sepenuhnya lumpuh.

Peristiwa dimulai saat pasukan Israel dari Batalion Netzah Yehuda, unit tentara ultra-Ortodoks, berpatroli di area yang dianggap aman di dekat perbatasan. Saat melintasi jalur kendaraan lapis baja, bom rakitan pertama meledak. Ketika pasukan tambahan mendekat, dua bom lagi meledak secara berurutan, disusul tembakan senapan dari sel Hamas yang bersembunyi.

Hanya dalam hitungan menit, pertempuran sengit meledak di lokasi yang seharusnya berada di bawah kontrol militer Israel. Investigasi awal menunjukkan bahwa Hamas merancang penyergapan ini dengan sangat matang, memasang bom dalam waktu kurang dari 24 jam.

Serangan ini memperlihatkan pergeseran taktik Hamas ke gaya perang gerilya. Meski kekuatan militer mereka menipis dan roket mereka hampir habis, Hamas tetap memanfaatkan terowongan bawah tanah dan puing-puing Gaza untuk bergerak bebas dan melakukan serangan mematikan.

Dua hari setelah insiden Beit Hanoun, Hamas menyerang kendaraan rekayasa militer Israel di Khan Younis dengan granat berpeluncur roket, mencoba menculik tentara Israel. Upaya tersebut berhasil digagalkan, namun menunjukkan bahwa Hamas masih memiliki kemampuan tempur yang berbahaya.

Konflik di Gaza ini sangat kontras dengan operasi militer Israel di Iran yang berlangsung cepat dan presisi. Di Gaza, pasukan Israel menghadapi musuh yang terus bermunculan kembali di wilayah yang mereka klaim sudah “dibersihkan”. Hingga kini, 19 tentara Israel telah tewas sejak perang Israel-Iran berakhir, termasuk tujuh yang tewas saat sebuah bom molotov dilemparkan ke kendaraan lapis baja di Gaza selatan.

Meskipun Israel mengklaim telah menewaskan 20.000 milisi dan menghancurkan sebagian besar pimpinan Hamas, kelompok ini terus merekrut anggota baru dan kembali menyerang.

Menurut pensiunan jenderal Israel, Hamas kini beroperasi sebagai sel-sel kecil tanpa struktur komando pusat yang jelas, menjadikan mereka sulit dilacak. Mereka juga memanfaatkan amunisi tak meledak milik Israel untuk merakit bom baru, membuat reruntuhan Gaza menjadi ladang jebakan.

Seorang pejabat militer Israel mengakui bahwa operasi mereka semakin sulit karena Hamas telah berevolusi menjadi kelompok perlawanan yang lebih cair dan tak terdeteksi. Meski tak lagi meluncurkan roket besar, serangan darat Hamas kini jauh lebih berani dan terorganisasi.

Sumber: kompas.com