eramuslim

Hezbollah Tantang Israel: “Kami Tidak Akan Menyerah hingga Penjajahan di Lebanon Berakhir”

Hezbollah supporters

Eramuslim.com - Wakil Pemimpin Hizbullah, Naim Qassem, menegaskan bahwa kelompoknya tidak akan melucuti senjata dan tidak akan tunduk pada tekanan internasional maupun ancaman Israel, selama Israel masih menduduki wilayah selatan Lebanon dan terus melakukan serangan udara.

Pernyataan ini disampaikan Qassem saat peringatan Asyura di Beirut selatan, daerah basis kuat Hizbullah, yang dipenuhi spanduk kuning dan seruan perlawanan. Asyura sendiri memperingati kematian Imam Hussein dan menjadi simbol perjuangan melawan tirani bagi umat Syiah.

Konflik yang Memanas:

  • Israel menyerang Lebanon pada 8 Oktober 2023, sehari setelah serangan Hamas ke wilayah Israel.

  • Sejak itu, lebih dari 4.000 orang tewas di Lebanon, termasuk sebagian besar pimpinan Hizbullah.

  • Sekitar 1,4 juta warga mengungsi, dan gencatan senjata yang ditengahi AS pada November 2024 gagal menghentikan kekerasan.

  • Israel masih menduduki lima titik perbatasan strategis dan terus melakukan serangan udara hampir setiap hari.

  • 250 orang tewas dan 600 luka-luka sejak November, menurut Kementerian Kesehatan Lebanon.

“Bagaimana mungkin kami diminta menurunkan senjata saat Israel masih menyerang, menjajah, dan membunuh?” – Naim Qassem

Qassem menegaskan bahwa Hizbullah tidak akan bernegosiasi soal perlucutan senjata sebelum:

  1. Israel mundur dari wilayah Lebanon yang diduduki

  2. Agresi militer dihentikan

  3. Tahanan dibebaskan

  4. Proses rekonstruksi dimulai

“Baru setelah itu,” ujar Qassem, “kami bersedia membahas strategi pertahanan nasional.”

Ketegangan Regional:

Serangan udara Israel pada Sabtu lalu menghantam empat kota di selatan Lebanon, menewaskan satu orang dan melukai beberapa lainnya. Serangan juga menghantam permukiman sipil di Beirut selatan, memicu evakuasi massal.

Sementara itu, utusan AS untuk Turki dan Suriah, Tom Barrack, dijadwalkan tiba di Beirut untuk membahas krisis. AS mendesak agar Hizbullah melucuti senjata sebelum akhir tahun, namun Presiden Lebanon Joseph Aoun menyatakan hal itu adalah isu “sangat sensitif” dan meminta AS menekan Israel agar menghentikan serangan.

Pernyataan Hizbullah menegaskan bahwa konflik belum mendekati akhir, dan solusi damai tidak mungkin tercapai selama Israel terus menduduki wilayah Lebanon dan membombardir wilayah sipil. Di tengah tekanan global, Hizbullah memilih bertahan dan menolak normalisasi apa pun dengan Israel.

Sumber: Al Jazeera