Pusing Naik


Keluarga dan negara bisa dibilang seperti daun dan pohon. Daun akan berwarna hijau segar kalau pohonnya sehat. Jangan pernah membayangkan nasib daun kalau pohonnya keropos. Karena para tangkainya saja sudah lama gugur.

Sulit memisahkan keadaan negara dengan warna-warni gerak keluarga. Keduanya selalu berkaitan. Negara makmur, keluarga akur. Negara amburadul, keluarga seperti kena bisul.

Itulah yang kerap terjadi saat ini. Urusan minyak tanah saja, sudah menjadi jihad tersendiri. Belum lagi harga-harga sembako, motonya cuma satu kata: naik! Kegelisahan seperti itulah yang kini dirasakan Pak Kodar.

Bapak tiga anak ini kadang bingung dengan cara apalagi bisa hidup makmur. Setidaknya, mendekati makmur. Soalnya, gaji di perusahaan garmen tempat Pak Kodar kerja, nyaris tak kenal kata naik. Pak Kodar justru lebih sering mendengar kata ‘naik’ dari rumah. "Mas, beras naik. Gula naik. Sabun, telur, terigu, semua naik," seperti itulah yang kerap terdengar dari isterinya. Rindu rasanya Pak Kodar mendengar kata ‘turun’. Sayangnya, kerinduan itu tak mudah terkabul. Naik, dan lagi-lagi sebutan naik!

Berbagai usaha sambilan telah dicoba Pak Kodar. Apa saja. Mulai dagang madu ke tempat kerja, perbaiki listrik tetangga, hingga ngojek motor di kampung sebelah. Tapi, tetap saja daftar pengeluaran lebih panjang dari pemasukan.

Kadang, Pak Kodar jadi sering pusing. Pernah ketika pulang kerja, dua anaknya yang SD langsung nodong. "Pak, duit bukunya mana?" ucap keduanya hampir bersamaan. "Harganya naik, Pak!" tambah isterinya menimpali. Si bungsu pun ikut ngomong, "Daftalin ke TK dong, Pak!" Pak Kodar pun segera duduk. Ia menarik nafas, dalam sekali! "Ah, pusingnya mendingan," ucapnya pelan. Dan ia pun berzikir pelan, "Subhanallah, walhamdulillah…."

Namun, tidak jarang pusingnya sulit disembuhkan. Kadang di bagian kiri kepala. Kadang pindah ke kanan, depan dan belakang. Entah kenapa, kalau mendengar kata ‘naik’ jantungnya berdegup kencang. Dug, dug, dug. Dan, pusing di kepalanya pun datang. "Astaghfirullah! Kok jadi begini," suara Pak Kodar membatin.

Sejak itu, Pak Kodar jadi sering minum obat pusing. Tiap ke puskesmas, perbendarahaan obatnya kian tambah. Tapi anehnya, dokter tidak bilang kalau Pak Kodar terhinggap penyakit berat. "Jantung Anda normal!" ucap sang dokter suatu kali. "Mungkin, Bapak cuma kurang tidur," tambah dokter sambil menyebut beberapa vitamin tambahan yang mesti diminum.

Tapi tetap saja, pusing Pak Kodar tak kunjung usai. Dan polanya selalu sama: kalau menonton berita soal harga di tivi, ia jadi langsung pusing. Begitu pun ketika tanpa sengaja melihat judul koran yang dijaja penjual di kendaraan umum, pusing Pak Kodar tiba-tiba kumat. Pusing sekali!

Kadang, ada terapi khusus yang dilakukan Pak Kodar soal pusingnya. Entah kenapa, kalau anak sulungnya menyuarakan nasyid, pusingnya lambat laun berkurang. Alunan merdu irama nasyid si sulung seperti tangan khusus yang memijat-mijat kepala Pak Kodar. "Terus, Kak! Suara Kakak enak sekali!" ucap Pak Kodar memuji sulungnya. Sementara, anak bungsu Pak Kodar cuma menatap heran.

Atas nasihat seorang teman, Pak Kodar mencoba cara ruqyah. Ia berharap, jin-jin stres yang mungkin bercokol dalam dirinya bisa kabur. Setelah itu, sakit pusingnya tak lagi datang.

Ternyata benar. Selepas diruqyah, pusing Pak Kodar mulai reda. "Apa banyak jinnya, Pak Ustadz?" ucap Pak Kodar setelah terapi ruqyah. Yang ditanya cuma senyum. "Kamu tidak apa-apa. Cuma bingung berat. Perbanyaklah berzikir," ungkap yang disebut ustadz begitu tenang. Pak Kodar pun manggut-manggut.

Hingga suatu hari, pusing Pak Kodar lagi-lagi kumat. Listrik tetangga yang ia tangani dikabarkan koslet. Begitu pun soal motor ojek yang ia sewa dari teman. Entah kenapa, motor itu mogok. Mungkin karena busi kotor, bensin lupa diisi, atau lainnya. Dari sekian yang membangunkan pusing Pak Kodar, ada yang paling berat ia rasakan. Isterinya tanpa sadar bilang, "Mas, Desember ini BBM katanya naik. Naik!"

Pak Kodar pun terbaring di kamar tidur. Ia seperti tak berdaya. Pusing sekali. Saat itu, ia berharap kalau si sulung bisa melantunkan nasyid nan merdu. Tapi, yang diharap tak kunjung datang. Tiba-tiba, si bungsu datang. "Bapak pucing, ya! Adek nyanyiin, ya?" ucap si bungsu bersemangat. Pak Kodar pun tersenyum. Ia mulai menyimak. Tapi, lagu dari si bungsu justru membuat pusing Pak Kodar kian menjadi. Pusing sekali!

Dengan bangga, si bungsu terus saja menyanyi. Ia mengulang-ulang satu bait lagu anak yang ia hafal: "Naik naik ke puncak gunung. Tinggi tinggi sekali. Naik naik ke puncak gunung. Tinggi tinggi sekali! Naik naik ke puncak gunung. Tinggi tinggi sekali! Naik naik…." ([email protected])