free hit counters
 

Kisah Tabi’in Menghadapi Godaan Wanita Cantik

Tak lama kemudian, Sulaiman masuk ke tenda. Mendapati kakaknya menangis sedih, dan ada wanita yang menangis pula, Sulaiman juga turut menangis. Ia merasa perlu ikut bersedih. Teman-teman serombongan juga mulai berdatangan ke tenda. Melihat Atha’ dan Sulaiman, mereka pun ikut menangis.

Mendengar banyak suara tangisan, wanita cantik itu sadar bahwa di dalam tenda kini telah banyak orang. Dan semuanya menangis. Ia pun lantas pergi meninggalkan tenda itu. Sementara Sulaiman, karena hormatnya pada Atha’, ia tidak berani menanyakan mengapa kakaknya tersebut menangis.

Hari demi hari berlalu. Musim haji telah lewat. Bahkan tahun pun berganti. Atha’ dan Sulaiman bepergian ke Mesir. Saat mereka bermalam, Atha’ terbangun di tengah malam sambil menangis.

“Mengapa engkau menangis, kak?” tanya Sulaiman yang terbangun mendengar tangisan kakaknya.
“Aku bermimpi sesuatu.”
“Bermimpi apa?”

“Aku minta kau tidak menceritakannya pada siapapun selagi aku masih hidup. Aku bermimpi bertemu Nabi Yusuf. Dalam mimpi itu aku menangis. Lalu Nabi Yusuf menyapaku, ‘mengapa engkau menangis?’ Aku menjawab, ‘Aku teringat kisahmu, saat engkau digoda istri Al Aziz (Zulaikha), engkau menolaknya. Hingga engkaupun dipenjara akibat peristiwa itu. Mengingat itu, aku menangis. Sungguh aku sangat kagum dengan kesabaranmu’ Lalu Nabi Yusuf menjawab, ‘Apakah engkau tidak kagum dengan seseorang yang menolak rayuan wanita cantik saat berada di Abwa?’ Kucoba mengingat-ingat. Ternyata yang dimaksudkan Nabi Yusuf itu adalah aku. Di saat itulah aku terbangun sambil menangis.”



“Peristiwa Abwa’ bagaimana wahai kakak?”

“Kau ingat, waktu dulu kita berangkat haji? Kita beristirahat di Abwa, lalu engkau dan teman-teman meninggalkanku seorang diri di tenda. Saat itulah datang seorang wanita cantik menggodaku…”

Atha’ menceritakan semuanya kepada Sulaiman. Dan Sulaiman pun menepati janjinya. Kisah ini tidak diceritakannya kepada siapapun hingga Atha’ wafat. [Tim Redaksi Kisahikmah.com]

*Disarikan dari Min Rawa’i Tarikhina (Golden Stories; Kisah-kisah Indah dalam Sejarah Islam) karya Mahmud Musthafa Sa’ad dan Nashir Abu Amir Al Humaidi

← Halaman sebelumnya

Halaman 1 2

Hikmah Terbaru