Menjadi Orang yang Diistimewakan Allah Ta’ala

Eramuslim.com – Sesaat sebelum berangkat menuju agenda dakwah di kotanya, salah satu anak laki-laki ini menderita sakit. Badannya demam. Panas dan dingin bergantian. Ia pun sigap berkemas, memberikan pertolongan pertama, lalu memanggil dokter ke rumahnya.

Tak lama setelah itu, dokter datang. Dilakukan pemeriksaan. Sebelum pulang, dokter menjelaskan bahwa sakit si anak biasa saja, bukan sakit kritis. Dokter pun pamit, bergegas menuju rumahnya.

Berselang beberapa menit kemudian, laki-laki ini juga berkemas. Ia mendatangi istri dan anggota keluarganya yang lain. Pamit hendak pergi menuju agenda dakwah yang sudah dijadwalkan sebelumnya.

“Bukankah anakmu sedang sakit?” tanya salah satu sahabat yang biasa mengikuti perjalanannya.

“Betul,” jawab laki-laki itu membenarkan.

“Lantas, tidakkah kau mengurungkan diri untuk beranjak?” kata penanya ajukan usul.

“Aku tetap harus berangkat. Aku sudah melakukan ikhtiar untuk kesembuhan anakku. Di sini juga ada istri dan keluargaku yang lain. Sedangkan di sana, belum ada yang menggantikanku untuk menyampaikan firman-firman Allah Ta’ala.” jawab si laki-laki. Bertenaga.