free hit counters
 

10 Hal yang Dibenci Allah

Ketiga, ketamakan yang timbul dari ulama

Untuk menjelaskan sifat yang dibenci Allah ini, Syekh Nawawi mengungkapkan kisah Nabi Musa yang berucap dengan ucapan yang mengandung ketamakan. “Jika anda menghendaki, anda bisa meminta upah untuk pekerjaan ini.” (QS. Al-Kahfi [18]: 77), maka Nabi Khidir berkata padanya, “Saat inilah tiba perpisahan antara saya dan kamu.” (QS. Al-Kahfi [18]: 78).

Keempat, tidak memiliki rasa malu yang timbul dari kaum wanita

Dalam hal ini, Syekh Nawawi menjelaskan hadits yang diriwayatkan al-Dailami, Rasulullah Saw bersabda: “Siapa yang tidak memiliki rasa malu, maka tidak ada agama baginya. Siapa yang tidak memiliki rasa malu di dunia, maka dia tidak akan masuk surga.” (HR. al-Dailami).

Kelima, cinta keduniaan yang timbul dari kakek-kakek

Keenam, kemalasan (dalam beramal) yang timbul dari kaum

Ketujuh, kelaliman yang timbul dari para penguasa

Untuk menjelaskan sifat yang dibenci Allah yang ketujuh, Syekh Nawawi mengungkapkan hadits yang diriwayatkan al-Hakim, Rasulullah Saw bersabda: “Siapa yang membuat senang penguasa dengan sesuatu yang sesuatu yang dibenci oleh Tuhan-nya, berarti dia telah keluar dari agama Allah. “(HR al-Hakim).

Kedelapan adalah ketakutan yang timbul dari pasukan perang

Menurut Syekh Nawawi, lemahnya hati yang dapat memalingkan untuk menghadapi musuh juga dibenci Allah.



Kesembilan, sifat ujub yang timbul dari kalangan orang-orang zuhud.

Terkait sifat ujub ini, Syekh Nawawi mengungkapkan hadits yang diriwayatkan Abu Nu’aim, Rasulullah Saw bersabda:  “Siapa yang memuji dirinya atas amal saleh yang telah dikerjakannya, maka sungguh telah sesat rasa syukurnya dan telah sia-sia amalnya.” (HR. Abu Nu’aim).

Kesepuluh, sifat riya’ yang timbul dari kalangan ahli ibadah

Untuk menjelaskan sifat terkahir yang dibenci Allah ini, Syekh Nawawi menjelaskan dengan hadits yang diriwayatkan al-Dailami, Rasulullah Saw bersabda: “Jangan sampai kalian mencampuradukkan ketaatan kepada Allah dengan kecintaan terhadap pujian manusia, sebab (dengan begitu) pahal amal perbuatan kalian akan hilang.” (HR. al-Dailami). (Rol)

← Halaman sebelumnya

Halaman 1 2

Tafakur Terbaru