Doa Ketika Turun Hujan “Allahumma Shoyyiban Nafi’an”

Bagi sebagian orang, hujan merupakan fenomena alam yang menegangkan. Beberapa di antara mereka justeru kawatir jika hujan tersebut akan mendatangkan musibah dan malapetaka. Tapi di luar itu semua, ada juga yang mengharapkan hujan turun. Karena dengan turunnya hujan, hidup mereka lebih mudah, tanah dan tanaman pun menjadi lebih subur.

Selain berbagai macam kategori orang yang berharap dan kawatir tentang hujan ini, Rasulullah ﷺ telah menjelaskan bahwa hujan merupakan berkah dari Allah Swt. Hujan merupakan rizki yang tak terhingga. Sehingga hujan adalah hal yang patut untuk disyukuri.

Pasalnya, beberapa daerah di Indonesia sangat jarang sekali tersentuh oleh air hujan. Sehingga bagi mereka hujan merupakan anugerah dan nikmat yang tidak terhingga. Bahkan, ada beberapa amalan umat Islam yang perlu dilakukan untuk mendatangkan hujan ini. Di antaranya adalah shalat meminta hujan atau disebut sebagai shalat istisqa’.

Melalui tradisi ini, umat Islam berharap dan berdoa kepada Allah Swt, agar diturunkannya hujan. Di antara beberapa adat yang harus dilakukan saat meminta hujan adalah tidak boleh berpakaian bagus. Dalam artian kita harus menunjukan kesederhanaan dan kesusahan kita karena hujan yang tak kunjung turun.

Selain itu kita juga harus menjaga sikap, alias tidak boleh arogan. Karena memohon kepada Allah untuk diturunkannya hujan harus disertai tatakrama dan sikap taat. Di luar itu, sebagaimana yang dicontohkan Rasulullah, imam shalat harus memakai selendang atau disebut dengan rida’ yang nanti posisinya akan dibalik saat selesai melakukan shalat.

Tradisi dan adat umat Islam di atas dijelaskan dalam buku-buku Fiqih seperti kitab Fathu al-Qarib karya Imam Ibn al-Gharabili dalam bab shalat istisqa’. Dalam buku tersebut dijelaskan bahwa melaksanakan shalat istisqa’ dianjurkan terlebih dahulu melakukan taubat, bersedekah dan memperbanyak membaca istighfar.

Shalat ini dilakukan 2 rakaat seperti shalat idul fithri. Hal ini dijelaskan juga dalam shahih Bukhari bab Shalat istisqa’.

حدثنا سفيان عن عبد الله بن أبي بكر عن عباد بن تميم عن عمه قال: خرج النبي صلى الله عليه و سلم يستسقي وحول رداءه

Sufyan telah bercerita dari Abdillah bin Abi Bakar yang mana ia dari Ubad bin Tamim dari pamannya yang berkata bahwa Nabi telah keluar dan meminta hujan kemudian mengubah selendangnya. (HR. Bukhari no. 960)

Etika Saat Turun Hujan

Di antara waktu yang paling mustajab untuk berdoa adalah saat hujan turun. Selain etika, saat hujan turun kaum Muslimin juga dianjurkan melakukan beberapa hal sebagai bentuk rasa syukur kepada Allah. Di antara hal yang bisa dilakukan adalah berdoa agar hujan tersebut merupakan hujan yang membawa berkah dan manfaat.

Dalam  kitab shahih al-Jami dijelaskan hadis tentang dua waktu mustajab untuk berdoa. Salah satunya adalah saat turunnya hujan dari langit.

ثنتان ما ترد الدعاء عند النداء و تحت المطر

Ada dua waktu yang saat berdoa tidak akan ditolak, yaitu ketika Adzan dan saat turunnya hujam. (HR. Al-Baihaqi).

Adapun saat hujan turun sangat lebat, tidak sedikit di antara kita yang khawatir dan takut akan terjadinya bencana. Oleh sebab itu Nabi mengutus kita untuk berdoa agar hujan yang diturunkan oleh Allah memberikan manfaat. Seperti doa dalam hadis yang termaktub dalam shahih al-Bukhari berikut ini.

اللهم صيبا نافعا

Dalam hadis di atas dimaksudkan bahwa semoga Allah menjadikan hujan ini sebagai hujan yang tidak membawa madharat, badai dan banjir. (HR. Bukhari).

Hal ini selaras dengan apa yang Allah firmankan dalam surat al-Baqarah ayat 19 yang berbunyi:

أو كصيب من السماء فيه ظلمات ورعد وبرق…..الأية.

Kata shayyib dalam ayat di atas ditafsirkan oleh Ibnu Abbas sebagai hujan menggunakan hadis yang shahih. Sehingga tidak salah kiranya jika kata shayyib dalam beberapa hal dimaknai sebagai hujan atau dalam bahasa arab disebut sebagi mathar.

Doa Ketika Hujan Deras

Selain doa dari hadis di atas, ada juga riwayat lain yang menyatakan bahwa saat hujan turun lebat sebaiknya kita berdoa: 

اللهم حوالينا ولا علينا اللهم على الأكام والجبال والظراب وبطون الأودية ومنابت الشجر

Diriwayatkan dari Tsabit bin Anas, bahwa Nabi Saw. berdoa semoga Allah menurunkan hujan di sekitar kami bukan yang erusak atas kami, semoga Allah menurunkan hujan di dataran tinggi, gunung-gunung, bukit-bukit, lembah, dan tempat tumbuhya pepohonan. (HR. Bukhari).

Dari beberapa hadis di atas, menandakan bahwa saat hujan turun kita disunnahkan untuk memanjatkan doa yang baik. Karena hujan merupakan rizki dari Allah yang harus disyukuri.

Hujan Berkah ataukah Hujan Peringatan

Berkaitan dengan adanya kata shayyib dalam hadis di atas, beberapa ulama menegaskan bahwa kata tersebut memiliki arti hujan yang baik.

Seperti yang dikatakan oleh beberapa perawi hadis dalam kitab Fathu al-Bari bahwa kaprahnya kata ini disebutkan di dalam Alquran berbarengan dengan kondisi yang tidak disukai atau disebut dengan makruhun. Karena pada dasarnya hujan memiliki dua jenis, hujan yang berbentuk rizki dan barakah, dan satu lagi hujan yang merupakan bencana dan siksa.

Dalam hadis ini dipastikan bahwa kata shayyib dalam doa dan hadis di atas merupakan hujan yang penuh barakah dan manfaat. Hal ini ditegaskan lagi dengan disebutkannya kata nafi’an setelah kata shayyib yang berarti penguat bahwa hujan yang dikehendaki dalam hadis di atas melalui kata shayyib adalah hujan yang baik.

Adapun dari beberapa doa dan hadis di atas, ternyata memiliki cerita klasiknya tersendiri. Senada dengan karakteristik Nabi Muhammad ﷺ yang selalu mendorong kaumnya untuk berpikir dan sadar akan situasi, Nabi pun mengajarkan kaumnya untuk peka terhadap kondisi tertentu. Karena hujan merupakan pembawa perubahan.

Yakni perubahan dalam iklim, bentuk tanah dan kehidupan bangsa Arab secara umum. Dan perubahan ini bisa berbentuk kebaikan, pertumbuhan dan kesuburan, bisa juga berbentuk kehancuran, bencana dan lain sebagainya.

Oleh sebab itu, Nabi sangat menganjurkan kepada kaumya untuk berpikir dan sadar akan apa yang terjadi. Jika saat hujan turun dengan lembut dan perlahan maka sebaiknya berdoa Allahumma shayyiban nafian. Karena dengan begitu kita telah diberikan rizki yang agung, membawa manfaat dan berakah bagi kehidupan bangsa Arab.

Akan tetapi, jika hujan yang turun berupa guyuran hujan deras dan diiringi dengan badai, maka sebaiknya kita peka bahwa hal tersebut merupakan warning dari Allah Swt.

Hal ini serupa saat Nabi berkhutbah di hari jumat, dan meminta hujan dengan doa Allahummasqina, hujan pun diturunkan sampai berhari-hari lamanya. Sampai pada minggu berikutnya, hujan masih mengguyur, bahkan menenggelamkan kapal dan menghancurkan rumah.

Sampai pada akhirnya Nabi berdoa dengan doa Allahumma hawalaina wa la ‘alaina. Setelah selesai berdoa, akhirnya Allah menjadikan hujan hanya mengguyur sekitar kota dan membawa keberkahan bagi pertanian dan bangsa Arab saat itu.

Dari beberapa doa di atas yang sudah diriwayatkan dari nabi Muhammad ﷺ barang kali kita bisa belajar untuk bersifat kondisional dan realistis. Kondisional dalam arti kita telah diberikan banyak ajaran tinggal bagaimana kita manggunakan ajaran (doa) tersebut sesuai situasi dan kondisi.

Sedangkan sifat realistis tercermin dari banyaknya realita yang harus diterima. Ada kalanya hujan itu datang dengan kelembutan ada pula yang datang dengan peringatan.

Hikmah Disyariatkannya Shalat Istisqa’

Menjalankan shalat istisqa dan berdoa kepada Allah untuk meminta hujan adalah salah satu cara kita mengakui keagungan dan kekuasaan Allah. Dengan kata lain, melalui shalat dan berdoa memohon hujan ini kita telah mengakui bahwa hanya Allah yang maha kuasa. Allah-lah yang bisa mengangkat semua musibah di muka bumi ini (dalam hal ini kekeringan) dan menurunkan berkah yang melimpah, yakni air yang menjadi sumber kehidupan manusia.

Hal ini senada dengan kata istisqa itu sendiri yang merupakan derivasi kata istasqa. Kosa kata ini sejak awal memiliki arti meminta siraman atau curahan dari Allah. Sedangkan dalam bahasa yang lebih detail, kata istisqa memiliki definisi sebuah bentuk permohonan kepada Allah untuk meminta hujan dengan metode dan tata cara tertentu.

Biasanya tradisi Islam seperti ini akan kerap kita jumpai di daerah-daerah tropis yang cenderung memiliki dua musim. Yaitu panas dan hujan. Saat musim panas melanda, daerah-daerah pesisirlah yang biasanya kerap mengalami kekeringan. Sehingga mereka mau tidak mau harus melakukan upaya-upaya tertentu agar hujan turun. Salah satunya dengan melakukan shalat istisqa tersebut.

Hukum Shalat Minta Hujan (Istisqa)

Hukum melakukan shalat tersebut adalah sunnah muakkad menurut syafii dan hambali. Dengan kata lain, sangat dianjurkan saat dalam kondisi tertentu. Tata cara meminta hujan ini pada dasarnya memiliki dalil kuat dari Alquran, hadis dan Ijma ulama. Salah satunya adalah firman Allah dalam surat Nuh:

فَقُلْتُ اسْتَغْفِرُوْا رَبَّكُمْ اِنَّهٗ كَانَ غَفَّارًاۙ () يُّرْسِلِ السَّمَاۤءَ عَلَيْكُمْ مِّدْرَارًاۙ () وَّيُمْدِدْكُمْ بِاَمْوَالٍ وَّبَنِيْنَ وَيَجْعَلْ لَّكُمْ جَنّٰتٍ وَّيَجْعَلْ لَّكُمْ اَنْهٰرًاۗ  ()

Maka aku berkata (kepada mereka): Mohonlah ampunan kepada Tuhanmu, sungguh Dia maha Pengampun.() Niscaya Dia akan menurunkan hujan yang lebat dari langit kepadamu.() Dan Dia memperbanyak harta dan anak-anakmu, dan mengadakan kebun-kebun untukmu dan mengadakan sungai-sungai untukmu. (QS. Nuh: 10-12)

Dari paparan ayat di atas, barang kali kita bisa melihat, bahwa etika dan tata cara meminta hujan telah disyariatkan sejak zaman Nabi Nuh As. Maka sesuai dengan apa yang ada dalam ayat tersebut, tata cara meminta hujan dan berdoa harus disertai dengan ketaatan, bertaubat dan kerendahan hati. Melalui tata krama ini kita berusaha untuk mendapatkan belas kasih dari Allah dan meminta diturunkannya rahmat dan keberkahan berupa guyuran hujan.

Adapun dalam hadis Nabi telah banyak dijelaskan sebelumnya tentang macam-macam etika dan doa Nabi saat memohon hujan kepada Allah. Doa yang beragam ini pada kenyatannya memiliki konteks dan stuasi yang berbeda. Tergantung seperti apa kondisi yang kita hadapi. Semua tata cara dan kalimat doa sudah tertera jelas dan diriwayatkan dalam kitab-kitab hadis dan fiqih.

Memperbanyak Istighfar dan Taubat

Dalam versi lainnya, ayat di atas juga menjadi dalil bahwa istighfar dan bertaubat akan menjadi wasilah bagi terbukanya rizki yang lapang.

Oleh sebab itu, bisa jadi yang di maksud dalam ayat di atas tentang rizki yang beragam adalah berupa guyuran hujan atau yang lainnya. Karena, kalau kita lihat secara asbabun nuzul ayat di atas berbicara tentang usaha shahabat Umar bin khatab ketika meminta hujan yang tak kunjung datang. Akan tetapi doa dan permohonan ini tidak disertai istighfar. Setelah ia kembali kepada kaumnya, ia pun membacakan ayat di atas.

Tidak cukup sampai di situ saja, rizki yang Allah berikan melalui bacaan istighfar dan taubat ini kemudian bertambah sesuai dengan ayat berikutnya. Dijelaskan di dalam kitab tafsir at-Thabari bahwa dengan kamu membaca istighfar dan bertaubat Allah akan mendatangkan bersamaan dengannya rizki harta yang melimpah dan anak-anak yang banyak.

Setelah itu Allah mengalirkan sungai-sungai yang bisa kamu jadikan sumber pertanian. Begitulah diceritakan di dalam Alquran tentang perkataan Nabi Nuh kepada kaumnya yang menurut cerita sangat mencintai anak dan harta benda mereka.

Simpelnya, bertaubat dan membaca istighfar adalah kunci bagi kita agar Allah selalu memberikan kemudahan dalam hidup kita. Oleh sebab itu, maka wajar jika dalam ritual shalat meminta hujan kita disuruh untuk memperbanyak membaca istighfar.

Alih-alih bertakbir seperti dalam shalat idul fitri dan idul adha, dalam shalat istisqa kita malah dianjurkan untuk membaca istighfar sebanyak mungkin dan menunjukan kesederhanaan. Hal ini tentu saja sesuai dengan ayat di atas dan etika saat kita berdoa dan meminta itu sendiri.

Tentu saja, saat kita meminta sesuatu kita harus terlebih dahulu mengakui kesalahan serta menunjukan penyesalan. Dengan begitu pintu maaf akan terbuka disusul dengan pintu rizki.

Hujan membawa rizki

Sesuai dengan dalil-dalil di atas, pada hakikatnya hujan merupakan salah satu bentuk rizki dari Allah yang diberikan kepada hamba-hambanya. Oleh sebab itu, hakikat doa saat turun hujan adalah Allahumma shayyiban naafi’a.

Akan tetapi nyatanya ada beberapa situasi yang membuat curah hujan itu berbeda-beda. Ada kalanya turun dengan lembut dan membawa hawa sejuk dan damai, ada pula yang datang disertai badai dan banjir. Oleh sebab itu Nabi mengajarkan untuk membaca doa-doa yang bermacam-macam sesuai dengan kondisi yang kita hadapi.

Apapun itu, realitanya hujan banyak membawa keberkahan di dalam hidup kita. Entah bagaimana bentuk hujan tersebut, pada akhirnya selalu membawa sisi yang baik bagi umat manusia.

Jika memang Allah telah menurunkan curah hujan yang berlebih mungkin itu salah satu bentuk teguran bagi kita untuk kembali berinstropeksi serta mengoreksi bentuk ibadah kita.

Namun jika hujan yang diturunkan berupa guyuran halus dan sejuk, maka kita patut bersyukur kepada Allah yang telah memberikan nikmat yang luar biasa.

Terlepas dari itu semua, Allah sudah memberikan nikmat dan rizki sesuai dengan apa yang kita butuhkan dan apa yang kita perbuat. Maka semakin banyak kita tersadar akan kesalahan-kesalahan yang kita lakukan serta cepat-cepat memohon ampunan, maka Allah pun akan secepatnya membuka pintu taubat dan menurunkan rizki sesuai dengan kebutuhan kita.

Seperti yang sudah difirmankan Allah dalam surat Qaaf ayat 9-10:

وَنَزَّلْنَا مِنَ السَّمَاۤءِ مَاۤءً مُّبٰرَكًا فَاَنْۢبَتْنَا بِهٖ جَنّٰتٍ وَّحَبَّ الْحَصِيْدِۙ () وَالنَّخْلَ بٰسِقٰتٍ لَّهَا طَلْعٌ نَّضِيْدٌۙ ()

Dan kami turunkan dari langin air yang penuh berkah, dan kami tumbuhkan dari air tersebut pohon-pohon dan biji-biji tanaman yang diketam, dan pohon kurma yang tinggi-tinggi yang mempunyai mayang yang bersusun-susun untuk menjadi rizki bagi-hamba-hamba kami, dan kami hidupkan dari air tersebut tanah yang mati. Seperti itulah terjadinya kebangkitan. (QS. Qaaf: 9-11)

Hujan adalah rizki yang memberikan manfaat dan berkah bagi umat manusia. rizki dan nikmat ini akan bisa didapat memelaui istighfar dan taubat yang kita lakukan. Oleh sebab itu, sudah sepatutnya kita tidak merasa cemas dan selalu bersyukur saat hujan turun. Karena bagaimanapun juga hujan adalah salah satu cara Allah memberikan nikmat serta menunjukan kuasanya.

Referensi

  1. Muhammad ibn Jarir At-Thabari, Jamiu al-Bayan fi takwili Alquran, cet. I, 2000
  2. Ahmad bin Ali bin Hajar al-Atsqalani, Fathu al-Bari syarh as-Shahih al-Bukhari, Dar al-Marifah, Beirut.
  3. Muhammad bin Ismail al-Bukhari, Al-Jami as-Shahih Al-Mukhtashar, Dar ibn al-Katsir, Beirut.