Ibnu Taimiyah, Ulama Besar yang Kritis ke Penguasa

Hari-hari Ibnu Taimiyah sarat aktivitas belajar. Beliau belajar dari satu guru ke guru yang lain dalam rangka menambah wawasan dan mengasah kecerdasan. Tidak sampai di situ beliau juga berani menanyakan sesuatu pada gurunya sampai mengerti dengan ilmu tersebut. Makanya sederet ulama besar pada waktu itu merupakan gurunya yang sangat dicintainya, di antaranya, Abdud Daim, Al-Qasim Al-Irbili, Al-Muslim bin Allan, Zainuddin Ibnul Munja, Al-Majd Ibnu Asakir, dan Ibnu Abi Umar.

Dr. Aidh Al-Qarni dalam bukunya Di Wajah Mereka ada Cahaya mengungkapkan kejadian yang luar biasa yang dilakukan Ibnu Taimiyah, Sejak umurnya menginjak delapan tahun, ia (Ibnu Timiyyah) sudah mengguling-ngulingkan wajahnya di tanah saat fajar sambil berkata, Wahai yang mengajari Ibrahim, ajarilah aku. Wahai yang memberikan pemahaman pada Sulaiman, pahamkanlah aku. Maka Pengajar Ibrahim telah mengajarinya dan Yang Memahamkan Sulaiman telah memahamkannya dan memberinya ilmu tidak seperti ilmu-ilmu lainnya, serta memberi kepahaman tidak seperti kepahaman lainnya.

Ketika Ibnu Taimiyah berumur 17 tahun, beliau telah diberi peluang oleh gurunya (Imam Syamsudin Al-Maqdisi) untuk memberikan fatwa karena beliau merupakan seorang murid yang dikurniai Allah, kekuatan hafalan yang tinggi dan kemampuan nalar yang luar biasa. Hal ini menjadikan posisi Ibnu Taimiyah sangat terhormat di sisi gurunya dan teman belajarnya.

Peran Ibnu Taimiyah sebagai seorang guru

Kemampuan beliau dalam berbagai bidang Ilmu Islam, menjadikan Ibnu Taymiyah sebagai seorang guru penting di zamannya. Banyak orang belajar pada Ibnu Taimiyah dari berbagai daerah bahkan ulama besar pada eranya juga bertanya dan berdiskusi dalam memecah persoalan umat. Dari usahanya yang maksimal dalam dunia pendidikan dan pengajaran, banyak kemudian hari lahir ulama besar yang juga harum namanya dan besar jasanya seperti Ibnu Qayyim dan Ibnu Katsir yang setia belajar dan melanjutkan perjuangan dan pemikirannya.

Di samping Ibnu Taimiyah sibuk berdakwah dan mendidik umat, beliau juga aktif menulis buku (kitab) yang menghiasi lembaran serjarah. Kekuatan aqidah dan kejelasan fikrah (pemikiran) Ibnu Taimiyah menjadikan bukunya sangat berbeda dari buku-buku yang ditulis oleh ulama lainnya pada masa itu. Kekuatan pikirannya dan Ketajaman penanya memberikan sesuatu yang berharga dalam mengingatkan penguasa dan umat dari bencana dan azab Allah SWT yang amat dahsyat.

Karya Ibnu Taimiyah telah mencapai lebih kurang 4 ribu naskhah dengan 300 jilid. Kitab beliau yang popular dan termasyhur sampai saat ini adalah Ar-Radd Alal Manthiqiyyin (menolak pendapat ahli Mantiq). Kandungan kitab ini telah menolak pemikiran ahli falsafah Yunani yang mempengaruhi pemikiran manusia melalui teori Logika Matematik. Ibnu Taimiyah dengan bahasa yang tajam dan gaya tulisan yang menarik mengkritisi beberapa ulama atau pemikir yang banyak mengunakan filsafat Yunani sebagai sandaran dalam pemikirannya.