Rahasia Komunikasi Nabi Ibrahim yang Diabadikan Alquran

Eramuslim – Kisah-kisah dalam Alquran umumnya ditampilkan dalam gaya dialog, sehingga diksi qāla, qālū, qālat, qulnā, yaqūlu dan yaqūlūn sering digunakan. Dialog dalam Alquran lebih dekat dengan diksi muhāwarah ( dalam bahasa Arab)”, yang berasal dari kata hāwara , sinonim diksi tahaddasta.

Dalam bahasa Arab, ada juga diksi yang berdekatan makna dengan muhāwarah yaitu mujādalah, hampir seperti muhāwarah, hanya saja mujādalah berkonotasi adanya permusuhan. Selain itu, ada juga diksi munāqasyah.

Yang terakhir ini  berarti pembicaraan diantara dua pihak yang tidak seimbang. Maka dengan demikian, dialog atau muhāwarah adalah pembicaraan antara dua pihak yang seimbang, dan semuanya dikembalikan ke konten dialog itu sendiri.

Dialog dalam ilmu komunikasi bisa dimasukkan ke ranah komunikasi interpersonal. Komunikasi interpersonal adalah komunikasi yang terjadi antara dua orang atau lebih, yang biasanya tidak diatur secara formal. Minimal terdiri atas komunikator (pengirim), komunikan (penerima) dan message (pesan). Dalam dialog fungsi Komunikator dan komunikan bisa saling bergantian, demikian pula pesan yang di sampaikan.

Dialog dalam kisah Alquran dapat menggambarkan kepribadian pelakunya yang bisa diketahui melalui konsep dirinya. Hal ini bisa ditelusuri dengan menganalisis diksi dan struktur kalimat yang digunakannya. Untuk mengetahui gaya bahasa dialog dalam kisah Ibrahim, bisa dianalisis sesuai dengan tema-temanya. Pada kesempatan ini akan dibahas tema Monoteisme.

Semua dialog dalam kisah Ibrahim mengarah kepada monoteisme. Hanya saja dialog yang dimasukkan pada kelompok ini adalah dialog-dialog yang lebih fokus pada ajaran ketauhidan. Strutur kalimat dialog dalam tema monoteisme, digunakan kalimat yang ringkas dan langsung diarahkan kepada sasarannya, seperti QS al-Anbiyā [ 21]: 52-68:

إِذْ قَالَ لِأَبِيهِ وَقَوْمِهِ مَا هَٰذِهِ ٱلتَّمَاثِيلُ ٱلَّتِىٓ أَنتُمْ لَهَا عَٰكِفُونَ

(Ingatlah), ketika Ibrahim berkata kepada bapaknya dan kaumnya:Patung-patung apakah ini yang kamu tekun beribadat kepadanya?” (QS al-Anbiya [21]: 52)

Pertanyaan Ibrahim yang bernada teguran ini langsung mengarah kepada inti permaslahan, lalu dijawab kaumnya dengan jawaban yang datar.

 قَالُوا۟ وَجَدْنَآ ءَابَآءَنَا لَهَا عَٰبِدِينَ

Kaumnya berkata kepadanya: kami mendapati bapak-bapak kami menyembahnya.” (QS al-Anbiyă [21]: 53)