eramuslim

Hizbullah: Perang Melawan Zionis Israel Belum Berakhir

Bagi Hizbullah, perang dengan Israel belum berakhir karena rezim Zionis itu sebenarnya belum menghentikan agresinya ke wilayah Libanon. Hal itu ditegaskan pimpinan Hizbullah, Hassan Nasrallah dalam peringatan hari kemenangan Hizbullah dalam perangan 33 hari melawan agresi Israel tahun 2006 lalu.

Perang itu masih menyisakan ketakutan di Israel akibat perlawanan para pejuang Hizbullah, meski militer Israel hanya kehilangan 100 prajuritnya sedangkan serangan-serangan Israel ke Libanon menyebabkan ribuan warga sipil Libanon gugur. Perang diakhiri dengan keluarnya resolusi PBB 1701 di mana Israel harus menghentikan agresinya ke Libanon.

Nasrallah menyebut kemenangan itu merupakan kemenangan yang "bersejarah dan sempurna" dalam sejarah konflik Arab-Israel, karena berhasil menghancurkan kekuatan militer rezim Israel yang selama ini disebut-sebut tidak terkalahkan. Kemenangan Hizbullah juga telah mengubah wajah politik di Timur Tengah dan berhasil menggagalkan proyek AS-Israel untuk memecah belah negara-negara di Timur Tengah.

Nasrallah dalam pidatonya mengatakan, sisa-sisa bom kluster yang dijatuhkan Israel di wilayah Libanon masih bersebaran di mana-mana dan banyak menimbulkan korban jiwa dari kalangan warga sipil. Israel juga masih melakukan agresi ke wilayah Libanon.

Menurut Komandan UNIFIL-pasukan PBB yang ditugaskan menjaga perdamaian di Libanon Selatan yang berbatasan dengan Israel-Jenderal Graziano mengatakan bahwa Israel telah melanggar Resolusi PBB 1701 di wilayah yang berada di bawah kontrol UNIFIL.

Militer Israel juga mengatakan, pesawat-pesawat tempur Israel telah melakukan pelanggaran dengan memasuki wilayah udara Libanon sebanyak 1.660 kali antara bulan Mei dan Juli 2008.

Oleh sebab itu, tegas Nasrallah, perang melawan rezim Zionis Israel belum berakhir. Israel, tukasnya, sedang berada di ambang kehancuran dan Israel sekarang sedang berupaya melakukan konspirasi untuk mengisolasi dan melucuti senjata Hizbullah.

Dalam pidatonya, Hizbullah mengecam negara-negara Arab yang ikut-ikutan "mendistorsi citra Hizbullah." Menurut Nasrallah, beberapa negara Arab mengakui superioritas Israel karena stabilitas negara mereka sangat bergantung pada supremasi Israel.

Padahal Israel saat ini, sedang menghadapi krisis kepemimpinan akibat kekalahannya dalam perang 33 hari tahun 2006 lalu. "Israel ekan melihat berakhirnya pemeirntahan Perdana Menteri Olmert bulan September mendatang, " kata Nasrallah yakin. (ln/presstv)