eramuslim

Ikhwanul Muslimin dan Ulama Mesir Tolak Kampanye Anti-Kristen Koptik

Ulama dan kelompok oposisi terbesar di Mesir, Ikhwanul Muslimin mengecam seruan agar umat Islam di Mesir memboikot bisnis-bisnis milik warga Kristen Koptik. Mereka menolak seruan itu karena tidak bertentangan dengan ajaran Islam yang damai dan mengancam keharmonisan kehidupan sosial masyarakat di Negeri Piramida itu.

Seruan untuk memboikot bisnis milik Kristen Koptik disebarluaskan lewat kampanye di situs jejaring sosial Facebook. Kelompok yang menggelar kampanye itu mengatakan, seruan boikot dilakukan sebagai respon atas sikap gereja Koptik yang mengajukan tuntutan terhadap perempuan-perempuan Koptik yang masuk Islam seperti kasus Wafaa Constantin yang terjadi pada tahun 2004.

Peristiwa masuk Islamnya Constantin menuai protes dan ketegangan antara warga Kristen Koptik dan Muslim di Mesir, ketika pihak gereja Koptik menuntut agar Constantin diserahkan pada mereka. Dalam kampanye di facebook, disebutkan bahwa Constantin dan banyak perempuan Koptik lainnya yang masuk Islam dikurung dalam gereja.

Namun para ulama Islam di Mesir, termasuk organisasi Ikhwanul Muslimin mengecam kampanye tersebut. "Boikot hanya boleh dilakukan terhadap musuh-musuh Islam, dan bukan pada sesama warga dan teman sebangsa. Kampanye itu dilarang dan tidak islami," tukas Ahmed Abdul Rahim, profesor bidang teologi dan filsafat di Universitas Al-Azhar.

Wartawan senior dan penulis di surat kabar Al-Masri Al-Youm, Belal Fadl menyebut kampanye boikot itu sebagai tindak kriminal. Ia menyerukan kejaksaan Mesir untuk memberikan perhatian pada kasus ini dan melakukan penyelidikan.

Abdul Rahim menilai, seruan boikot terhadap bisnis milik warga Koptik hanya akan memicu kebencian antar agama dan perpecahan antar umat beragama di Mesir. "Islam memberikan hak penuh pada semua orang, tanpa melihat latar belakang agamanya," kata Abdul Rahim.

Ikhawanul Muslimin juga menyatakan menolak kampanye anti-Koptik itu. Menurut anggota senior Ikhawanul Muslimin, Essam Al-Erian, kampanye semacam itu mencoreng citra Islam sebagai agama yang mengajarkan toleransi pada penganut agama lain.

"Hal ini akan membuka pintu bagi negara-negara asing untuk melakukan intervensi dan klaim kelompok minoritas di Mesir bahwa mereka sudah diperlakukan tidak adil," tukas Al-Erian.

Di Mesir, mayoritas warga Kristen adalah penganut Kristen Koptik. Meski minorritas, mereka mendominasi sebagian besar lini perekonomian Mesir. Data pemerintah Mesir tahun 2007 menunjukkan bahwa sepertiga kekayaan negara Mesir dikelola oleh warga Kristen Koptik. Mereka menguasai perusahaan-perusahaan besar dan strategis di Mesir, seperti perusahaan telekomunikasi, konstruksi dan otomotif. (ln/iol)