Indonesia Gelap Jilid 2: Ruwatan Rakyat untuk Rezim yang Dinilai Dzalim

Eramuslim.com -Aliansi Jogja Memanggil kembali turun ke jalan dalam aksi “Indonesia Gelap” Jilid 2 bertajuk “Meruwat Demokrasi”, Selasa (11/3/2025), di Yogyakarta. Aksi ini merupakan bentuk kritik tajam terhadap pemerintahan Presiden Prabowo Subianto dan Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka, yang dinilai korup, boros, dan anti-rakyat.
Demonstran membawa poster bergambar rakyat bersimpuh di depan Istana Negara Yogyakarta (Gedung Agung) yang digambarkan tertutup pagar tinggi—sebagai simbol jauhnya pemerintah dari rakyat.
Juru bicara aliansi, Himawan Kurniadi, menjelaskan bahwa "ruwatan" dipilih sebagai simbol pembersihan dari bahaya dan kekotoran. “Hari ini rakyat perlu meruwat rezim yang memperkaya diri, koruptif, dan gemar mencelakakan rakyat,” ujarnya.
Dalam budaya Jawa, ruwatan merupakan ritual sakral untuk menghindari kutukan Batara Kala. Aliansi ini ingin menggunakan simbol budaya tersebut untuk menunjukkan bahwa pemerintah perlu “dibersihkan” dari praktik tidak etis.
Massa aksi berjalan dari Taman Parkir Abu Bakar Ali menuju Gedung Agung, setelah sebelumnya menggelar konsolidasi di Kantin Bonbin, Fakultas Filsafat UGM.
Isu penggembosan oleh aparat menjadi perhatian dalam diskusi pra-aksi. Aktivis mencatat upaya polisi meredam demonstrasi mahasiswa dengan pembagian sembako, bahkan intimidasi terhadap mahasiswa Indonesia yang berdemonstrasi di luar negeri, seperti di Berlin, Jerman.
Aksi Indonesia Gelap pertama kali menggema pada 20 Februari 2025 dan terus meluas. Isu yang diangkat mencakup tudingan kabinet yang gemuk dan korup, kelangkaan gas elpiji, represivitas aparat, serta evaluasi program makan bergizi gratis.
Mahasiswa juga menolak revisi sejumlah UU kontroversial seperti UU TNI, UU Polri, dan UU Kejaksaan. Gelombang tuntutan kini berkembang hingga menyerukan pelengseran Presiden Prabowo dan Wapres Gibran.
Sumber: Tempo,co