Indonesia Masa Depan

Oleh : Ust. Fathuddin Ja'far
Penulis tergelitik sumbang pemikiran terkait *Indonesia Masa Depan* setelah menyaksikan beberapa kali debat Capres dan Cawapres 2024.
Menurut hemat Penulis, ketiga pasangan Capres dan Cawapres belum menyentuh tujuan terpenting/terbesar pembentukan sebuah negara Indonesia dan solusi berbagai persolan besar
yang dihadapi pemerintahan dan masyarakatnya saat ini, baik yang bersifat lokal maupun global.
Ini persoalan klasik sejak negara ini diproklamirkan 18 Agustus 1945. Hampir 79 tahun usia negara ini, Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) masih terlilit soal isu-isu sampingan yang menunjukkan dominasi pemikiran politik praktis kepentingan kelompok dan golongan para penguasa, ketimbang pemikiran besar terkait mewujudkan cita-cita besar dan luhur para pejuang kemerdekaan yang telah mengorbankan harta dan nyawa mereka, baik zaman penjajahan maupun pascakemerdekaan.
Sebab itu, kebanyakan isi debat pasangan Capres dan Cawapres berkutat masalah di level teknis yang bukan domain seorang pemimpin tertinggi negara (Presiden dan Wakilnya), akan tetapi menjadi domain para menteri negara, bahkan level di bawah mereka dan ada pula yang menjadi hak swasta serta masyarakat lainnya.
Muncul pemandangan kurang sedap saat menonton beberapa kali debat Capres dan Cawapres seperti, marah-marah, mencari kelemahan lawan debat, mengklaim berjasa, tidak fokus kepada misi dan visi serta program, menggunakan istilah-istilah asing yang diharapkan menyulitkan lawan debat menjawabnya dan tidak berpegang teguh pada etika yang harus dimiliki oleh
calon pemimpin sebuah negara terhadap lawan politiknya.
Artinya, belum berkuasa saja sudah songong seperti itu, apalagi nanti setelah berkuasa? Tak heran ada pengamat publik yang mengatakan suasana debat bagaikan tanya jawab mahasiswa dengan dosennya.
Yang lebih tidak sedap lagi, para pendukung Capres-Cawapres di luar ruang debat terkesan mendukung jagoannya mati-matian dengan logika-logika paradoks dengan fakta, kepatutan, etika, terkesan ngarang narasi, bahkan ada yang lain dulu lain sekarang dan mengibaratkan Capresnya bagaikan Abu bakar radhiyallahu 'anhu dan Cawapresnya ibarat Ali radhiyallahu 'anhu yang membuat kepala menggeleng-geleng karena saking aneh bin ajaib-nya. Yang penting, *stupid or not is my leader.*
Sudah serendah ini kah para politisi dan calon-calon pemimpin negeri ini?
*Target Utama Negara Dalam Al-Qur'an*
Dalam Al-Qur'an dijelaskan bahwa sebuah negara yang ideal itu adalah yang melahirkan sebuah negeri *Baldatun Thayuibatun Warobbun Ghafur* ( QS. Saba' : 15)
Jika diuraikan istilah Al-Qur'an di atas kurang lebih ialah : Sebuah negeri yang sangat nyaman, berlimpah kebaikan dan keberkahan di dalamnya, berdiri di atas kaki sendiri dan berdaulat alias tidak di bawah bayang-bayang asing dan aseng, apalagi di bawah kendalinya, keadilan hukum dan keadilan sosial ditegakkan di semua level masyarakat. Maka, Allah sebagai Tuhan Pencipta manusia pun meridhai mereka.
*Negeri Baldatun Thayuibatun Warabbun Ghafur akan terwujud apabila :*
1. Ada hukum, perangkat dan penegaknya yang adil dalam semua institusi dan levelnya.
2. Menjadikan hukum sebagai panglima tertinggi dalam kehidupan bernegara dan berbangsa. Bukan uang, kaum pemodal (kapitalis/oligarki) dan tidak pula partai pemenang pemilu, apalagi menangnya atas dasar rekayasa dan kecurangan.
3. Keadilan hukum dan sosial diterapkan dengan baik dan maksimal. Sebab itu, hukum untuk semua, bahkan diterapkan kepada para pejabat sebelum rakyat, karena hakikatnya pejabat itu, sejak dari yang terendah sampai yang tertinggi adalah pelayan rakyat, bukan tuan mereka.
Yang terjadi selama ini, sejak negeri ini merdeka sampai saat ini adalah, berbagai produk hukum berpihak kepada penguasa dan pengusaha, bahkan pengusaha hitam. Hukum hanya tajam ke bawah dan lawan politik, tapi tumpul ke atas dan kolega politik dan bisnis.
Begitu juga ekonomi serta kekayaan negeri yang sangat melimpah hanya untuk dinikmati pejabat, politisi dan oligarki, bahkan pajak dari rakyat sekalipun diembat juga. Rakyat tetap terpinggirkan dan menjadi sapi perah penguasa, kendati sudah merdeka hampir delapan dekade.
4. Mengutamakan pembangunan kecerdasan masyarakat dalam semua level dan profesi dengan berbagai sarana, sejak dari sektor pendidikan formal, informal dalam semua levelnya dan termasuk media massa dan media sosial lainnya.
Pada waktu yang sama ada kesungguhan menyiapkan calon-calon pemimpin dalam semua level dan sektor kehidupan yang berbasis iman, taqwa, ilmu pengetahuan dan green teknologi (Imtaq) masa depan, sehingga lahir para pemimpin cerdas spritual, intelektual dan moral bukan hanya di level lokal, tapi juga di level global.
Perlu diketahui bahwa saat ini dunia, apalagi negeri yang besar ini sangat membutuhkan pemimpin-pemimpin yang mampu menegakkan hak asasi manusia, keadilan hukum, keadilan sosial, menyadari pentingnya sains dan teknologi ramah lingkungan (green & renewable), khusunya dalam sektor Food, Energy & Water (FEW) dan dunia kedokteran dan farmasi, sebagai alternatif dari teknologi Barat yang nyata telah membahayakan manusia dan merusak lingkungan, memerangi rasisme, kolonialisme dan penjajahan dalam segala bentuknya.
Di samping itu memiliki kemapuan membebaskan manusia dari semua praktek kezaliman, apapun suku, bangsa dan agama mereka yang sudah meraja lela di atas muka bumi sejak lebih stu abad belakangan.
Perlu diingat, peradaban Barat yang dijadikan acuan kemajuan sebuah negera telah nyata gagal dan bangkrut karena telah melahirkan bebagai malapetaka dan bencana kemanusiaan dan bencana alam berkelanjutan
Akibatnya, semua dunia sekarang, tak terkecuali di Barat itu sendiri menghadapi krisis multi dimensi dan malapetaka dalam berbagai sisi kehidupan, sejak dari krisis spritual, kemanusiaan, moral, ekonomi sampai kepada krisis sains dan teknologi.
Karena modernisasi Barat itu hanya sebatas melahirkan berbagai alat teknologi super canggih, namun karakter dan mentalitas manusia yang merancang dan mengoperasikannya jauh di bawah standar kemanusiaan karena terlepas dari metode dan petunjuk Tuhan Pencipta mereka. Yang terjadi adalah lebih hina dan lebih tersesat dari binatang ternak. (QS. Al-A'raf (7) : 179)
Akhir-akhir ini memang terdengar suara teriakan segelintir cerdik pandai dari Barat yang menyadari kebangkrutan dan kerusakan lingkungan/alam, bencana moral/akhlak, kemanusiaan yang terus menerus terjadi. Namun demikian, Barat mengalami kebuntuan kecerdasan atau pemikiran dalam menemukan solusinya. Di antaranya disebabkan kebohongan dan kecurangan para penguasanya.
Misalnya, kerusakan lingkungan akibat teknologi industri moderen sehingga menyebabkan meningkatnya kerusakan lingkungan dan pemanasan global sampai ke tingkat mengkhawatirkan, sampai hari ini Barat belum juga menemukan solusi yang berarti.
PBB sendiri sudah mengadakan Konferensi Lingkungan Hidup dan Pembangunan (UNCED), dikenal juga dengan 'KTT Bumi', di Rio de Janeiro, Brasil, pada tanggal 3-14 Juni 1992.
Namun demikian, 32 tahun sudah berlalu, kerusakan lingkungan dan pemanasan global akibat pembangunan ekonomi dunai berbasis sains dan teknologi Barat, belum juga ditemukan solusi yang mujarab.
Kalau saja manusia mau kembali kepa kitab petunjuk Tuhan Pencipta mereka (Al-Qur'an dan Hadits Rasul-Nya), maka akan ditemukan solusi yang tepat dari semua perkara yang muncul. (QS. An-Nahl (16) : 89)
Konsep hilirisasi yang digembar gemborkan dunia, termasuk di Indonesia hanya ibarat operasi plastik kaum LGBT, alias hanya operasi permukaannya saja. Efek negatif dari operasi tersebut dan kerusakan jiwa yang paling dalam yang terjadi dalam diri tidak diterapi, bahkan mungkin juga tidak terpikirkan terapinya dan bagaimana menterapinya, karena hati mereka sudah buta. (QS. Al-Hajj (22) : 46)
Contoh nyata lain depan mata dunia saat ini ialah tragedi kemanusiaan dari sebuah perang genosida di Gaza yang kita saksikan sejak 7 Oktober 2023 kuususnya dan semua wilayah Palestina umumnya sejak 76 tahun silam.
Apa yang terjadi sungguh sangat dahsyat membuat banyak sekali warga dunia geger. Namun PBB dan hampir semua pemimpin dunia hanya menonton saja, kalaupun beraksi hanya sebatas tuntutan dan celotehan lisan belaka.
Peristiwa genosida di Gaza saat ini hanya bentuk kecil dari malapetaka yang lahir dari rahim peradaban Barat yang hampa nilai dan kemanusiaan. Apa yang telah dirusak peradaban Barat kapitalis dan Timur sosialis satu abad belakangan sungguh sangat luar biasa.
Akibatnya, kecanggihan teknologi persenjataan dan perangkat pendukungnya digunakan untuk kejahatan perang dan kemanusiaan dan dominasi penjajahan.
Yang lebih sadis lagi ialah, negara-negara Barat, khusunya Amerika, Inggris, Perancis, Jerman, Australia dan sebagainya yang berteriak demokrasi, hak asasi manusia, kemanusiaan, persamaan hak dan persaudaraan 24 jam sehari sejak satu abad belakangan, terlibat secara langsung dalam kejahatan kemanusian dan menciptakan serta melanjutkan penjajahan Yahudi atas bumi Palestina.
Masih pantaskah peradaban mereka kita jiplak dan telan mentah-mentah?
*Indonesia Masa Depan?*
*Indonesia Masa Depan* ialah yang independen dari segala bentuk sistem dan peradaban Barat Kapitalis dan Timur Sosialis-Komunis yang penuh dosa kejahatan atas manusia, kemanusiaan dan lingkungan. Indonesia yang green & sustainable development adalah harapan terwujud di masa depan.
Keperluan mendesak dan paling utama untuk *Indonesia Masa Depan* agar bisa keluar dari dunia yang penuh kezaliman dan complicated ini adalah manusia cerdas dalam semua level dan sektor kehidupan dan di antara mereka akan menjadi para pemimpin cerdas (smart leader) yang akan berperan bukan saja di tingkat lokal, tapi juga di tingkat global.
Di atara kriteria smart leader ialah :
1. Memiliki keimanan dan keyakinan yang kuat terhadap Tuhan Penciptanya, agamanya, umat, bangsa dan dirinya.
"Dan janganlah kamu (merasa) lemah, dan jangan (pula) bersedih hati, sebab kamu paling tinggi (unggul), jika kamu orang beriman. (QS. Ali 'Imran (3) : 139)
2. Memiliki mentalitas baja dan mental pemenang dalam semua keadaan.
"Dan betapa banyak nabi yang berperang didampingi sejumlah besar dari pengikut (nya) yang bertakwa. Mereka tidak (menjadi) lemah karena bencana yang menimpanya di jalan Allah, tidak patah semangat dan tidak (pula) menyerah (kepada musuh). Dan Allah mencintai orang-orang yang sabar. (QS Surat Ali 'Imran (3) : 146)
3. Terhindar dari penyakit *ngejiplak/mengekor ke Barat* (taba'yyah gharbiyyah) dan memiliki sifat pelopor, berani melawan arus negatif kendati mayoritas, kaya gagasan baru dan berfikir futuristik.
Orang yang hanya bisa mengulang-ulang dan mereproduksi apa yang datang dari peradaban Barat dan Timur, tampa punya kemampuan memahami dan memilah mana yang baik dan mana yang buruk, hanya akan menjadi follower setia peradaban, alias new colonilism di negeri sendiri, siapapun dia, termasuk seorang Presiden dan wakil Presiden sekalipun. Bahkan mereka lebih berbahaya bagi kebangkitan dan kemajuan bangsa dan negara, krena keburukannya pasti lebih dominan dari kebaikannya.
4. Memahami kondisi zaman, lokal dan global beserta berbagai peluang, tantangan dan problematikanya serta memahami solusi setiap problem yang dihadapi dengan prinsip *win-win situation dan green solution* tanpa mengorbankan pihak tertentu dan agama tertentu.
*Indonesia Kita SOS*
Fakta yang ada menunjukkan selama hampir 79 tahun merdeka, pembangunan ekonomi, politik dan manusia di Indonesia banyak masalah dan cenderung lari di tempat, bahkan mengalami setback akibat kepentingan politik praktis para penguasa terlalu dominan sebagai akibat rendahnya pengetahuan dan kesadaran mereka terhadap sebuah negara yang baik, adil, ideal dan seterunya.
Akhirnya lahir kekhawatiran yang berlebihan (paranoid) terhadap masyarakat, khususnya masyarakat Muslimin yang Allah takdirkan menjadi mayoritas negeri ini sejak berabad-abad sebum NKRI lahir.
Program pesanan Barat untuk menjalankan agenda terorisasi dan deradikalisasi (radikal-radikul) umat Islam dan moderasi Islam sejak dua dekade belakangan menambah parah dan rusaknya sistem dan praktek politik di negeri ini. Kezaliman pun terjadi cukup tinggi, seakan tanpa henti.
Akhirnya, para penguasa selama ini (selain al-Marhum Habibie) berlaku diktator dan menjalankan roda pemerintahan secara primitif seperti, mengendalikan semua roda ekonomi, politik dan kebebasan rakyat dengan alasan kestabilan negara dan pembangunan melalui pejabat pemerintahan, aparat negara (Kepolisian dan TNI), ASN, lembaga-lembaga tinggi negara lainnya dan partai berkuasa hasil rekayasa, atau partai-partai koalisi berkuasa.
Semua maslah yang muncul saat ini adalah hasil apa yang ditanam penjajah Belanda selama 3,5 abad dan para penguasa selama 79 tahun belakangan.
Perjuangan para Pejuang kemerdekaan dan apa yang mereka harapkan dan canangkan setelah kemerdekaan nyaris tidak ada bekasnya yang signifikan, alias tenggelam ditelan masa begitu saja.
Yang terjadi selama ini adalah sebaliknya. Seba itu, *Indonesia Kita* saat ini sedang berteriak meminta pertolongan dan penyelamatan. Maka 14 Februari nanti adalah momen yang tepat memulai penyelamatannya. Karena kuat indikasinya *Indonesia Kita* nyaris tenggelam.
Jika hal tersebut terjadi, semoga Allah tidak biarkan, maka untuk menyelamatkannya kembali mungkin butuh waktu puluhan tahun. Kecuali jika Allah berkehendak lain. Bagi Allah pasti mudah saja.
Sebab itu, berdasarkan pengamatan Penulis yang lemah ini, dari 3 Capres yang mendekati kriteria Smart Leader yang dijelaskan sebelumnya adalah Capres Pasangan No.1, alias Anies Baswedan.
Sebab itu, memilih pasangan AMIN merupakan bagian upaya serius memulai penyelamatan Indonesia yang sedang SOS ini.
Bagaimana jika AMIN tidak terpilih karena adanya kecurangan misalnya, atau bagaimana nasib masa depan Indonesia, khususnya agama, umat dan bangsa kita jika AMIN terpilih nanti? Kita tidak tahu pasti. Yang Tahu pasti hanya Allah Ta'ala.
Akhirnya, kita mohon pada Allah, sebagai satu-satunya Tuhan Pencipta dan Pengatur alam semesta, semoga kemenangan AMIN membawa angin segar perubahan sesuai yang mereka janjikan. Allahu A'lamu Bish-shawab.