Ini Cara Arab Saudi Pastikan Ibadah Haji 2019 Berjalan Khusyuk
Eramuslim – Ketua Dewan Pimpinan Umum Urusan Masjidil Haram dan Masjid Nabawi, Syaikh Abdurrahman bin Abdul Aziz as-Sudais, menegaskan kesiapan pihaknya untuk memberikan pelayanan bagi tamu Allah dalam musim haji 2019.
Syaikh Abdurrahman mengatakan, pada tahun ini, ada 140 program yang akan dilakukan untuk meningkatkan pelayanannya bagi jemaah. Program itu diluncurkan dan dijabarkan Selasa waktu setempat di Kantor Dewan Pimpinan Umum Urusan Masjidil Haram dan Masjid Nabawi.
Dikutip, Kamis 25 Juli 2019 dari keterangan resminya, dia menjabarkan, rencana kerja tersebut meliputi 140 program itu tersebar beberapa segmen. Antara lain untuk peningkatan kinerja, pelatihan sumber daya manusia serta pemberian layanan selama 24 jam.
"Itu dilakukan demi menjamin pelayanan terbaik untuk jemaah haji Baitullah al-Haram dan pengunjung Masjid Nabawi," ujar Abdurrahman.

Dia mengungkapkan, Program Rencana Haji 1440 Hijriah itu bertujuan untuk membantu tamu Allah dalam beribadah dengan mudah, tenang, tanpa hambatan yang berarti. Hal itu dilakukan dengan memaksimalkan sumber daya yang dimiliki dan melayani dengan penuh kehati-hatian.
"Semua disiapkan dengan memenuhi standar yang diinginkan oleh pemimpin negara," tambahnya.
Menurutnya, ada lebih dari 10 ribu staf pria dan wanita yang akan bertugas sebagai pengawas pada musim haji tahun ini. Keselamatan, keamanan dan kemudahan bagi semua tamu Allah pun dijamin pihaknya.
"Ini memungkinkan mereka untuk tetap fokus pada tindakan ibadah yang mereka lakukan," tegasnya.
Lebih lanjut dia mengatakan, penyelenggara haji juga menyediakan terjemahan langsung dalam 10 bahasa untuk khotbah Jumat yang disampaikan di dua Masjid Suci. Fasilitas itu disediakan untuk menyampaikan pesan mulia Islam kepada para tamu Allah.
"Juga akan ada terjemahan langsung yang disediakan untuk khotbah di Arafah untuk kepentingan Hujjaaj dalam berbagai bahasa mereka," tambahnya.
Dia pun mengingatkan, haji adalah ibadah yang sakral dan tidak pantas menjadikannya sebagai arena propaganda atau sektarianisme. Atau pula mempolitisasi dan menghilangkannya dari fungsi keagamaannya. (vv)