Ini Hak Rakyat Jika Karantina Wilayah Diberlakukan
Eramuslim.com - Wabah virus corona di Indonesia kian menggerus di segala sektor. Dalam ketidakpastian, warga menuntut agar pemerintah terus hadir dan bersama masyarakat menghentikan pandemi ini. Tak sedikit yang mendesak agar dilakukan karantina wilayah, sebagai salah satu jembatan menghentikan rantai penularan.
Namun, banyak hal yang harus diperhatikan agar warga memahami apa saja yang harus dilakukan jika karantina wilayah diberlakukan. Hak dan kewajiban sebagai warga, serta hak dan kewajiban pemerintah dan tanggungjawabnya untuk memastikan proses karantina berjalan baik.
Lembaga Bantuan Hukum (LBH) Jakarta melalui akun Twitter resmi menyampaikan situasi pandemi corona di Indonesia telah memenuhi kriteria sebagai situasi kedaruratan kesehatan masyarakat. Karenanya, penerapan karantina seharusnya dilakukan guna memotong rantai penyebaran pandemi corona.
Penerapan karantina wilayah mengacu pada Undang Undang Nomor 6 Tahun 2018 tentang Kekarantinaan Kesehatan. Merujuk pada undang undang tersebut, kedaruratan kesehatan masyarakat adalah kejadian kesehatan bersifat luar biasa dan ditandai adanya penyebaran penyakit menular.
Penyakit menular itu diandaikan menimbulkan bahaya kesehatan dan berpotensi menyebar lintas wilayah atau lintas negara.
Lantas, apa saja tanggung jawab yang harus dipenuhi oleh pemerintah bila terjadi karantina wilayah?
Berdasarkan ketetuan Pasal 4, Pasal 6, Pasal 78, Pasal 80, dan Pasal 82 UU Kekarantinaan Kesehatan, ada beberapa hal dasar yang harus dipenuhi oleh pemerintah selama karantina wilayah diberlakukan.
Pertama, pemerintah pusat dan pemerintah daerah bertanggungjawab melindungi kesehatan masyarakat dari penyakit yang berpotensi menimbulkan Kedaruratan Kesehatan Masyarakat melalui penyelenggaraan Kekarantinaan Kesehatan;
Kedua, pemerintah pusat dan pemerintah daerah bertanggungjawab terhadap ketersediaan sumber daya yang diperlukan dalam penyelenggaraan Kekarantinaan Kesehatan.
Ketiga, pendanaan kegiatan penyenggaraan kekarantinaan kesehatan bersumber dari APBN, APBD, dan atau masyarakat.
Keempat, penyelenggaraan informasi kekarantinaan kesehatan dilaksanakan oleh pemerintah pusat dan pemerintah daerah. Kelima, pemerintah pusat melakukan pembinaan terhadap semua kegiatan yang berkaitan dengan penyelenggaraan kekarantinaan kesehatan di wilayah dengan melibatkan pemerintah daerah.
Selama karantina wilayah terjadi, rakyat mendapatkan hak-hak yang wajib dipenuhi oleh pemerintah.
Apa saja hak rakyat?
Berdasarkan ketentuan Pasal 7 dan Pasal 8 UU Kekarantinaan Kesehatan, Pasal 5 UU Nomor 4 Tahun 1984 tentang Wabah Penyakit Menular dan juga merujuk pada standar Organisasi Kesehatan Dunia (WHO), rakyat mendapatkan hak selama karantina wilayah, antara lain:
1. Setiap orang mempunyai hak memperoleh perlakuan yang ama dalam penyelenggaraan Kekarantinaan Kesehatan;
2. Setiap orang mempunyai hak mendapatkan pelayaan kesehatan dasar selama karantina;
3. Setiap orang mempunyai hak mendapatkan kebutuhan dasar medis selama karantina;
4. Setiap orang mempunyai hak mendapatkan kebutuhan dasar pangan, dan kebutuhan kehidupan sehari-hari lainya selama karantina;
5. Berhak mendapatkan pemenuhan kebutuhan hidup dasar orang dan makanan hewan ternak oleh pemerintah, yang mana pelaksanaannya melibatkan Pemerintah Pusat, Pemerintah Daerah dan pihak terkait;
6. Bagi orang yang datang dari negara dan/atau wilayah Kedaruratan Kesehatan Mayarakat, ia mendapatkan pelayanan dari Pejabat Karantina Kesehatan yang meliputi (1) Penapisan, (2) Kartu Kewaspadaan Kesehatan, (3) Informasi tentang tata cara pencegahan dan pengobatan wabah, (4) Pengambilan spesimen/sampel, (5) Rujukan, (6) Isolasi.
7. Mendapatkan ganti rugi akibat mengalami kerugian harta benda yang disebabkan oleh upaya penanggulangan wabah. (ayojakarta)
Namun dalam prakteknya, walau UU Kekarantinaan sudah disahkan DPR dan menghabiskan uang rakyat untuk membayar uang rapat, uang konsumsi, minum, dan sebagainya, namun UU Kekarantinaan Wilayah ini tidak diterapkan oleh pemerintah. Pemerintah malah membikin istilah-istilah baru seperti PSBB, PPKM, PSBB Mikro, dan lain sebagainya dimana pemerintah tidak memiliki kewajiban untuk menjamin kebutuhan hidup dasar rakyatnya selama diberlakukan.
Apakah pemerintah menghindari UU Kekarantinaan karena tidak mau menjamin kebutuhan hidup rakyatnya? Namun anehnya, untuk pelanggar PSBB dan istilah-istilah lain, pemerintah menerapkan sanksi dan denda berdasarkan UU Kekarantinaan. Inilah keadilan hukum?