Investor Global Desak Portofolio Bebas Deforestasi, Soroti Krisis Hutan Indonesia

Eramuslim.com - Koalisi investor global dengan total aset kelolaan senilai US$9,5 triliun, Net-Zero Asset Owner Alliance (NZAOA), menyerukan penghentian bertahap investasi pada sektor-sektor yang berkontribusi terhadap deforestasi, seperti daging sapi, kakao, dan kelapa sawit, paling lambat tahun 2030.
Dalam laporan yang dirilis Rabu (18 Juni 2025), aliansi yang beranggotakan institusi seperti Allianz SE dan CalPERS menekankan pentingnya transparansi terhadap eksposur portofolio investasi yang berdampak pada hutan. Mereka mengingatkan bahwa pembukaan lahan hutan terus berlangsung dalam skala besar meski telah ada komitmen global untuk menghentikannya.
Isu pendanaan perlindungan hutan dijadwalkan menjadi tema utama dalam Konferensi Perubahan Iklim PBB (COP30) yang akan digelar di Brasil pada November 2025.
Tamsin Ballard dari Principles for Responsible Investment—penggagas NZAOA—mengatakan bahwa deforestasi adalah bagian tak terpisahkan dari krisis iklim global, dan investor memiliki tanggung jawab fidusia untuk mengantisipasi risiko terkait.
Indonesia dalam Sorotan: Kalimantan Timur Hadapi Krisis Deforestasi
Indonesia, khususnya Kalimantan Timur, kembali menjadi perhatian dunia karena meningkatnya deforestasi. Laporan Auriga Nusantara mengungkap bahwa pada 2024, Indonesia kehilangan tutupan hutan alam seluas 261.575 hektare—naik 1,62% dibandingkan tahun sebelumnya. Hutan produksi menyumbang kerusakan terbesar (128.358 hektare), diikuti hutan lindung (13.805 hektare), dan hutan konservasi (7.704 hektare). Area Penggunaan Lain (APL) juga menyumbang deforestasi signifikan, sebesar 111.708 hektare.
Kalimantan menjadi wilayah dengan kerusakan tertinggi secara nasional, kehilangan hampir 130 ribu hektare hutan—setara hampir separuh total deforestasi Indonesia. Kalimantan Timur menjadi episentrum degradasi, ironi di tengah proyek ambisius pembangunan Ibu Kota Nusantara (IKN).
Data global dari World Resources Institute (WRI) menegaskan posisi Indonesia sebagai negara kedua dengan kehilangan hutan primer tropis terbanyak dari 2002 hingga 2024, mencapai 10,7 juta hektare. Hanya kalah dari Brasil (33,5 juta hektare), dan diikuti Republik Demokratik Kongo (7,4 juta hektare).
Jika tren ini dibiarkan tanpa tindakan tegas, Indonesia terancam kehilangan salah satu aset ekologis paling vital yang tidak bisa digantikan.
Sumber: NTB Satu