eramuslim

Iran Tuding Kepala IAEA Berpihak dan Sebabkan Ketegangan Nuklir Meningkat

Eramuslim.com - Di tengah meningkatnya ketegangan global terkait program nuklir Iran, Rafael Grossi — Direktur Jenderal Badan Energi Atom Internasional (IAEA) — menjadi pusat kontroversi. Sikap dan laporan-laporannya terhadap Iran memicu kritik tajam dari pemerintah Tehran, dan menimbulkan kekhawatiran lebih luas soal bahaya politisasi lembaga internasional.

Ketegangan antara Iran dan IAEA bukan hal baru, namun dalam beberapa minggu terakhir situasinya memanas. Beberapa hari sebelum Israel meluncurkan serangan udara ke fasilitas nuklir Iran, IAEA merilis laporan yang menyebut kadar pengayaan uranium di Iran “lebih tinggi dibanding negara yang tidak memiliki program nuklir militer.” Laporan ini langsung dikutip oleh Israel sebagai pembenaran serangan. Namun, waktu rilis, nada laporan, dan konteks diplomatiknya kini jadi sorotan.

Grossi sempat mengklarifikasi dalam wawancara di CNN bahwa IAEA tidak menemukan bukti adanya “upaya sistematis” Iran membangun senjata nuklir. Tapi klarifikasi ini muncul setelah serangan terjadi, dan laporan awalnya sudah digunakan sebagai dasar resolusi yang ditulis AS dan negara-negara Eropa (E3) untuk menuduh Iran tidak patuh — dan membuka jalan menuju konflik.

Iran menganggap ini bukan sekadar kebetulan, melainkan akibat langsung dari laporan IAEA. Duta Besar Iran untuk PBB, Amir Saeid Iravani, mengirim surat resmi ke Dewan Keamanan PBB yang mengecam sikap “pilih kasih, politis, dan diskriminatif” IAEA terhadap program nuklir damai Iran. Surat itu menyebut IAEA telah meninggalkan prinsip dasarnya: netralitas, profesionalisme, dan objektivitas.

Juru bicara Kementerian Luar Negeri Iran, Esmaeil Baghaei, juga mengecam Grossi di media sosial. Ia menulis bahwa Grossi menyembunyikan fakta bahwa tidak ada bukti pembangunan senjata nuklir dalam laporan awal, dan malah memberikan celah bagi Israel untuk menyerang. “Laporan bias Anda digunakan oleh rezim genosida dan pemicu perang,” tulisnya.

Kontroversi ini juga memunculkan kekhawatiran lebih besar: apakah lembaga internasional seperti IAEA masih bisa netral di tengah tekanan politik negara-negara besar? Bagi Iran, ini bukan pertama kalinya IAEA dianggap melampaui mandat teknisnya.

Media Tehran Times mengklaim Iran menemukan dokumen rahasia IAEA di wilayah pendudukan yang menunjukkan adanya korespondensi sensitif antara Tehran dan IAEA. Menurut sumber, dokumen itu mungkin bukan hasil spionase, melainkan diberikan secara langsung, yang memperkuat kecurigaan bahwa IAEA telah dijadikan alat politik.

Dampaknya besar. Iran mengancam akan mengurangi kerja sama dengan IAEA, bahkan mungkin kembali ke level interaksi sebelum Perjanjian Nuklir JCPOA 2015. Organisasi Energi Atom Iran (AEOI) memperingatkan bahwa jika sikap tidak adil terus berlanjut, kebijakan transparansi bisa berubah drastis.

Sementara itu, Grossi menyerukan semua pihak menahan diri dan kembali ke meja perundingan. Ia mengingatkan Iran untuk tetap melaporkan setiap pergerakan bahan nuklir antar fasilitas, namun mengakui bahwa tingkat kerusakan fasilitas Fordow akibat serangan Israel masih belum jelas.

Iran tetap tidak puas. Kepala AEOI Mohammad Eslami mengecam Grossi karena “diam” atas serangan Israel terhadap fasilitas nuklir yang berada di bawah pengawasan IAEA. Ia bahkan mengatakan Iran bisa menempuh jalur hukum terhadap Grossi.

Mantan Menlu Iran, Mohammad Javad Zarif, lebih keras lagi: ia mendesak agar Grossi dicopot dari jabatannya. Menurut Zarif, laporan-laporan Grossi yang tidak akurat justru ikut memperbesar konflik.

Setelah serangan udara Israel terhadap fasilitas nuklir Arak, Iran mengirim surat resmi ke IAEA meminta badan itu mengecam tindakan Israel. Namun, tidak ada tanggapan dari IAEA. Iran mengaku sudah melaporkan langkah-langkah perlindungan pada IAEA, tapi justru disambut keraguan, bukan dukungan.

Akibatnya, kepercayaan Iran terhadap IAEA makin terkikis. Transparansi yang mereka berikan justru dijadikan senjata politik oleh pihak lain. Banyak pejabat di Tehran kini yakin bahwa IAEA tidak lagi netral, dan sikap bias seperti ini menghancurkan fungsi lembaga sebagai penjaga perdamaian dunia.

Untuk saat ini, dampaknya sudah nyata — baik secara diplomatik, operasional, maupun kemanusiaan. Nama Grossi kini dianggap sebagai tokoh yang memperkeruh konflik, bukan meredakannya. Diamnya atas serangan Israel, cara pelaporan yang tendensius, serta pernyataan publiknya yang ambigu memberikan ruang bagi negara-negara yang menginginkan konfrontasi.

Iran menyatakan akan menuntut IAEA secara hukum sebagai sinyal bahwa netralitas lembaga internasional tidak boleh dikorbankan tanpa konsekuensi.

Sumber: Tehran Times