eramuslim

Islam Memandang Anak Perempuan

Eramuslim – Sejak 5 tahun belakangan, PBB menginisiasi peringatan Hari Anak Perempuan Internasional  setiap tanggal 11 Oktober. Hari dirayakan khusus untuk mengingat dan mengawal masalah yang berkaitan dengan kesetaraan kesempatan bagi anak perempuan di seluruh dunia.

Di tahun 2018 ini PBB menetapkan tema “Kekuatan Para Gadis Remaja: Visi Menuju 2030” yang menekankan hak anak perempuan. Termasuk di dalamnya hak untuk mendapatkan pendidikan, akses untuk meningkatkan kemampuan, dan memiliki kesempatan yang sama dengan laki-laki.

Saat ini, setidaknya ada 600 juta anak gadis berusia 10-19 tahun di seluruh dunia. Sebagian besar di antaranya memiliki akses yang terbatas dalam mendapatkan hak atas pendidikan tinggi dan kesempatan untuk mendapatkan dan menikmati hasil pembangunan.

Yang membuat miris, sebagian besar anak gadis yang tidak mendapatkan cukup akses ini berada di wilayah yang mayoritas penduduknya beragama Islam. Mereka berada di sebagian besar Afrika dan Asia. Di Indonesia sendiri, sejumlah wilayah masih mempertahankan budaya dan kebiasaan yang tidak membuka akses bagi anak perempuan untuk meningkatkan pendidikan dan kemampuan.

Sesungguhnya, bagaimana Islam memandang pemberdayaan terhadap anak perempuan?

Berbeda dengan banyak pandangan dan tafsir yang cenderung bias gender, Islam justru mengecam tindakan yang merendahkan anak perempuan. Dalam sejarah Arab jahiliyah, sebelum masuknya Islam untuk membawa kehidupan yang lebih baik, anak perempuan adalah aib bagi keluarga. Hal ini jelas-jelas sudah diterangkan dalam Al Quran.

“Apabila mereka diberitahukan kabar tentang kelahiran anak perempuan wajah mereka berubah menjadi merah-padam. Mereka berusaha menutupinya, untuk menyembunyikan kabar buruk ini. Mereka berpikir apakah akan membiarkannya dalam kehinaan atau menguburkan anak perempuan itu dalam keadaan hidup. Betapa buruknya keputusan mereka”. (QS An-Nahl: 58-59)

Khalifah Umar bin Khattab bahkan pernah mengungkapkan kenyataan ini pada suatu ketika. “Dalam dunia Arabia jahiliyah yang kelam, kami tidak menganggap perempuan sebagai makhluk yang perlu diperhitungkan. Tetapi begitu perempuan disebutkan Tuhan, kami baru mengetahui bahwa mereka mempunyai hak-haknya secara otonom”.

Sedemikian tinggi Islam menempatkan posisi perempuan karena jaminan surga bagi seorang ibu dan statusnya sebagai tiang penyangga bangsa. Dalam sejumlah hadits juga disebutkan tentang pentingnya mendidik anak perempuan dan jaminan pahala bagi para orang tua.

[caption id="attachment_174588" align="alignnone" width="960"] j الْمَرْأَةُ عِمَادُ الْبِلاَدِ إِذَا صَلُحَتْ صَلُحَتِ الْبِلاَدُ وَإِذَا فَسَدَتْ فَسَدَتِ الْبِلاَدُ Wanita adalah tiang suatu negara, apabila wanitanya baik maka negara akan baik dan apabila wanita rusak maka negarakapun akan rusak.[/caption]

Dari Jabir bahwasanya Rasulullah ﷺ bersabda “Barangsiapa yang memiliki tiga anak perempuan, ia mengasuh mereka (dalam rumahnya), mencukupi mereka, dan menyayangi mereka maka tentu telah wajib baginya surga”. Maka ada salah seorang dari kaum berkata, “Kalau dua anak perempuan, ya Rasulullah?”. Nabi berkata, “Dua anak perempuan juga”. (HR. Ahmad, dinilai sahih oleh Al Albani)

Dalam riwayat lain ada tambahan, “Sampai-sampai kami menyangka kalau ada orang yang berkata, “Kalau satu anak perempuan?”, maka tentu Nabi akan menjawab (artinya), “Satu anak perempuan juga”. (Dihasankan oleh Al-Albani).

Dari Uqbah bin ‘Amir dari Nabi bersabda; “ Barangsiapa memiliki tiga anak perempuan, lalu ia bersabar terhadap mereka, ia beri makan mereka, ia beri minum mereka dan ia beri pakaian kepada mereka dari kecukupannya, niscaya mereka akan menjadi penghalang baginya dari api neraka pada hari kiamat”.  (HR Ibnu Maajah no. 3669 dan dinilai sahih oleh Al-Albani).

Demikian jelas penegasan Islam tentang pendidikan dan pola asuh terhadap anak perempuan, karena itu tindakan yang menomor duakan pendidikan dan membatasi akses untuk mendapatkan fasilitas dalam hidup anak perempuan, merupakan sikap yang menyalahi ajaran di dalam agama Islam. (hls/AD/Ram)