Israel Blokir Pemasukan Vaksin, 600 Ribu Anak Gaza Terancam Lumpuh Permanen

eramuslim.com - Sebanyak 602 ribu anak di Gaza, Palestina, terancam mengalami kelumpuhan permanen dan cacat kronis lainnya jika mereka tidak segera menerima vaksin yang dibutuhkan. Situasi ini diperkirakan akan memberikan dampak serius terhadap sistem layanan kesehatan di wilayah tersebut yang saat ini sudah berada dalam kondisi kritis.
Dalam pernyataan yang diunggah melalui media sosial pada Selasa (7/4), Kementerian Kesehatan di Gaza menyebut bahwa larangan yang diberlakukan oleh Israel atas masuknya vaksin polio ke Jalur Gaza menjadi ancaman besar yang dapat memicu epidemi.
Kementerian juga menekankan bahwa tindakan tersebut merupakan bentuk penargetan tidak langsung terhadap anak-anak di Gaza. Mereka menyampaikan kekhawatiran bahwa upaya vaksinasi polio yang telah dilakukan selama tujuh bulan terakhir berisiko sia-sia.
"Kementerian Kesehatan mengimbau semua pihak terkait untuk menekan pendudukan agar mengizinkan masuknya vaksin, dan menyediakan koridor yang aman untuk memastikan akses bagi anak-anak di semua wilayah Jalur Gaza," bunyi pernyataan itu.
Menyusul kemunculan kembali polio di Gaza untuk pertama kalinya dalam lebih dari dua dekade, Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) memulai kampanye vaksinasi untuk melindungi anak-anak dari penyakit tersebut. WHO menyampaikan bahwa selama jeda gencatan senjata pada Februari lalu, pelaksanaan vaksinasi berjalan melebihi ekspektasi, meskipun di saat yang sama mereka mengingatkan tentang dampak pemotongan dana dari Amerika Serikat.
Dua putaran vaksinasi telah dilakukan pada bulan September dan Oktober 2024, dengan cakupan lebih dari 95 persen anak-anak sasaran yang menerima dua dosis vaksin polio oral. Namun, hasil sampel lingkungan yang dikumpulkan dari dua lokasi berbeda pada Desember 2024 dan Januari 2025 menunjukkan bahwa virus polio masih beredar di Gaza.
Pada Minggu (6/4/2025), Kementerian Kesehatan Gaza juga menyampaikan bahwa sebanyak 13.000 orang membutuhkan evakuasi keluar dari wilayah tersebut untuk mendapatkan perawatan khusus akibat luka dan penyakit lain.
Direktur Jenderal Kementerian Kesehatan, Dr. Muneer al-Boursh, dalam wawancara dengan Al Jazeera pada akhir pekan lalu menggambarkan kondisi Gaza yang semakin memburuk. Ia menyatakan bahwa wilayah tersebut tengah “menghirup napas terakhirnya” dan menyerukan bantuan segera dari dunia internasional dan negara-negara Islam.
"Lebih dari 15.000 anak telah meninggal … apa lagi yang diinginkan dunia?" ujarnya.
Kondisi kemanusiaan di Gaza kian memburuk akibat pengepungan total yang terus diberlakukan oleh Israel, yang menyebabkan tertahannya pasokan bantuan penting termasuk makanan, bahan bakar, obat-obatan, dan vaksin yang dibutuhkan untuk menyelamatkan nyawa.
(Sumber selengkapnya: Inilah)