Isu Palestina Bakal Dihapus Dari Agenda Konferensi Durban II
Isu Palestina kemungkinan akan dihapus dari agenda pembahasan Konferensi Durban II. Ironisnya, pihak yang merekomendasikan penghapusan isu Palestina dari draft awal negosiasi konferensi adalah sejumlah negara Arab.
Kantor Berita Fars News mengutip pernyataan seorang sumber terpercaya yang tidak mau disebut namanya. Sumber itu mengungkapkan bahwa ada beberapa negara Arab yang telah merokemendasikan agar isu-isu Palestina di singkirkan dari agenda pembicaraan dalam konferensi Durban II.
Rekomendasi ini membuat kecewa mereka yang telah memberikan dukungan atas pembahasan isu-isu Palestina dalam Konferensi Dunia anti Rasisme di Durban pada tahun 2001. Konferensi itu tidak secara khusus ditujukan untuk membahas konflik Palestina-Israel, tapi sejak masalah Palestina disinggung dalam konferensi, AS dan Israel menentang keras dan menyebut konferensi itu anti-Israel dan anti-Semit.
Isu-isu Palestina yang rencananya akan dibahas dalam konferensi Durban II meliputi pembangunan tembok pemisah di Tepi Barat dan pemukiman ilegal Israel di tanah Palestina dan operasi-operasi militer Israel terhadap rakyat Palestina. AS sebagai sekutu dekat Israel menolak pembahasan isu-isu itu dan tetap membela praktek-praktek rasial yang dilakukan Israel di Palestina.
Belum jelas apa yang melatarbelakangi rekomendasi sejumlah negara Arab agar isu-isu Palestina tidak dibahas dalam Konferensi Durban II yang akan digelar di Jenewa tanggal 20-25 April mendatang, yang tetap mengangkat tema menentang rasisme, diskriminasi rasial dan xenofobia.
Yang jelas, Israel, AS dan beberapa negara Eropa menyatakan akan memboikot konferensi itu jika memasukan persoalan Palestina sebagai salah satu agenda pembahasan. AS bahkan mengatakan bersedia ikut asalkan konferensi menghapus agenda pembahasan yang khusus menyoroti praktek-praktek rasial Israel di Palestina dan konferensi tidak membuat pernyataan bersama yang isinya mengecam Israel.
Desakan agar konferensi Durban II membahas persoalan Israel muncul setelah Israel melakukan agresi brutalnya ke Jalur Gaza bulan Januari lalu. (ln/prtv)