eramuslim

Jalan Panjang Membangun Masjid di Brooklyn

Ketika komunitas Muslim di Brooklyn mengajukan permohonan pembangunan masjid ke Departemen Urusan Bangunan pada bulan Juli lalu, pejabat perencana kota menolaknya dengan alasan tidak sesuai dengan regulasi yang mengatur soal zonasi atau perwilayahan. Komunitas Muslim kemudian melakukan revisi dan mengajukan kembali permohonan ijin pembangunan masjid tanpa dilengkapi menara, barulah permohonan itu dikabulkan.

Masjid yang akan dibuat empat lantai dan berlokasi di Voorhies Ave ini kini sedang dalam tahap pembangunan. Tapi pembangunannya masih menghadapi kendala dari warga setempat yang menentang pembangunan masjid itu. Warga setempat yang menolak pembangunan masjid membentuk kelompok Bay People yang gencar menyebarkan kampanye anti-masjid melalui selebaran-selebaran yang bertajuk "Katakan TIDAK untuk Masjid di Voorhies Avenue 2812".

Kelompok itu juga membuat petisi yang diposting di situs internet dan ditandatangani oleh sekitar 300 warga yang menolak kehadiran masjid di lingkungannya. Petisi itu menuding Muslim American Society (MAS)-yang menjadi sponsor utama pembangunan masjid di Brooklyn-sedang berupaya mendirikan "sebuah negara Islam di Amerika" dan mengaitkan MAS dengan kelompok atau tokoh-tokoh yang bersikap kritis terhadap Israel.

"Kebanyakan warga di sini yakin bahwa MAS adalah organisasi anti-Semit, dan keyakinan itu sudha cukup untuk menolak mereka di wilayah ini," demikian pernyataan Bay People.

Menjawab pernyataan itu, Direktur Freedom Foundation MAS , Mahdi Bray mengatakan bahwa banyak figur masyarakat di AS yang bersikap kritis terhadap Israel, termasuk diantaranya mantan presiden AS, Jimmy Carter. "Sikap kritis itu bukan berarti mereka atau MAS anti-Semit," tukas Bray.

Menurut Bray, awalnya warga yang anti-masjid berlindung dibalik alasan bahwa masjid itu akan menimbulkan masalah lalu lintas dan parkir. Tapi akhirnya mereka terang-terangan menyatakan menentang pembangunan masjid dan melontarkan tuduhan-tuduhan atas dasar ketakutan yang tak berdasar pada komunitas Muslim.

Meski demikian, komunitas Muslim di Brooklyn bersyukur karena hukum telah berpihak pada mereka sehingga mereka bisa membangun masjid. Bray mengatakan, apa yang terjadi di Brooklyn juga terjadi di banyak tempat lain ketika komunitas Muslim ingin membangun tempat ibadah. Mereka harus menghadapi respon keras dari warga non-Muslim.

Pendiri dan Direktur Eksekutif Organisasi Dewan Rakyat di Brooklyn, Mohamed Razvi menyalahkan media massa yang telah menyebarkan informasi yang bias tentang komunitas Muslim. "Komunitas Muslim harus mengambil langkah pro-aktif untuk menghadapi trend ketakutan terhadap masjid yang muncul di kalangan masyarakat AS pasca serangan 11 September," ujar warga Brooklyn keturunan Pakistan itu.

"Bisakah kita mengubah pola pikir mereka?Tidak. Tapi sangat penting bagi kita untuk melakukan pendekatan yang pro-aktif. Jika kita tidak bicara, besar kemungkinan akan menimbulkan persoalan lain yang lebih problematis," tukas Razvi yang aktif menjembatani hubungan antar beragam komunitas di organisasinya. (ln/iol)