Jujur Pada Kata
Eramuslim.com - Alhamdulillah, Telor sudah pecah satu. Demikian kira-kira pernyataan Wakil Gubernur DKI Sandiaga Uno ketika Gubernur DKI Anies Rasyid Baswedan tidak memperpanjang izin operasional Hotel Alexis. Baru dua pekan menjabat, Anies-Sandi telah menggenapi satu janji kampanyenya kepada para pemilihnya di dalam Pilkada DKI 2017.
Suatu prestasi yang layak diapresiasi, beda dengan pemimpin negeri ini yang di saat kampanye mulutnya berbusa-busa janji ini dan itu, namun ketika sudah berkuasa melupakan semuanya dan malah melakukan sebaliknya. Janjitidak ngutang, setelah berkuasa malah jadi raja utang. Itu baru salah satunya.
Disini kita tidak menyoroti janji-janji, namun akan melihat pemilihan diksi banyak media massa terkait Alexis, dan juga yang lainnya yang disadari atau tidak merupakan sebentuk ketidakjujuran terhadap kesadaran dan hati nurani. Orang-orang menyebutnya sebagai Eufimisme, penghalusan kata. Namun kami lebih merasa jika Eufimisme bukan sekadar penghalusan kata, tapi seperti kredo penyair Sutardji Cholzoum Bahri di masa muda, yaitu: Membebaskan kata dari makna. Ini sangat berbahaya.
Media massa banyak menyebut tempat seperti Alexis dengan istilah "Tempat Hiburan". Ini tentu saja tidak benar. Tempat seperti Alexis dan lainnya, lebih tepat disebut sebagai "Tempat maksiat". Tempat hiburan itu mengacu pada tempat-tempat rekreasi seperti Kebun Binatang, Waterboom, Disneyland, dan sebagainya. Sedangkan tempat seperti Alexis dan sebagainya itu tidak seperti itu.
Istilah lainnya yang setahun lalu dipopulerkan penguasa adalah "Meroket". Dia bilang, "September nanti ekonomi Indonesia akan meroket...," ujarnya kepada wartawan sembari tangannya bergerak ke atas. Itu setahun lalu. Tapi kenyataannya, boro-boro meroket, yang ada adalah Menukik. Meroket itu naik ke atas secara vertikal. Sedangkan Menukik itu turun ke bawah secara vertikal. Beda sekali.
Demikian pula dengan istilah "Penyesuaian Harga" untuk menyatakan "Kenaikan Harga". Dan sebagainya, dan sebagainya. Eufimisme atau pengkhianatan kejujuran sebuah kata, memang banyak digunakan oleh pihak yang berkuasa untuk menipu kesadaran rakyat. Utang disebut bantuan. Padahal utang ya utang yang harus dan wajib di bayar, berikut dengan bunganya. Sedangkan bantuan atau hibah, sama sekali tidak menuntut pembayaran.
Bertrand Russel, esais Inggris dalam salah satu esainya menulis jika penguasa yang zalim memang berkepentingan untuk melakukan tipuan terus-menerus terhadap kesadaran rakyatnya agar kekuasaannya bisa terus berjalan dengan aman. Ini sejalan dengan pendapat kaum New Left yang berkumpul di dalam Frankfurt Institut yang dimotori Herbert Marcuse dan Max Horkheimer yang mengatakan jika penguasa menciptakan kesadaran palsu di tengah rakyat agar rakyat tidak bisa membedakan mana kesejatian yang tengah berlangsung dan mana yang palsu. Lagi-lagi, penguasa melakukan itu demi melanggengkan kekuasaannya.
Media massa sebagai corong intelektual, agen pengubah masyarakat, agen pencerah rakyat, seharusnya bersikap jujur di dalam memilih diksi di dalam pemberitaannya. Pena itu lebih tajam ketimbang pedang. Itu yang harus benar-benar dipahami. Namun di masa sekarang, media massa yang memang kebanyakan dimiliki oleh para pemilik modal yang berkelindan dengan elit kekuasaan, telah diubah keberadaannya menjadi hanya semacam mesin propaganda untuk mempertahankan status-quo. Yang seperti ini sesungguhnya tidak bisa dimasukkan ke dalam golongan media massa, namun lebih tepat disebut sebagai media propaganda. Karena, selaras dengan istilah dari Julien Benda, media seperti ini sudah memposisikan dirinya sama dengan pelacur. Pengkhianatan kaum intelektual.
Media-media yang memiliki misi dakwah, yang berdiri teguh dengan prinsip-prinsip kebenarannya melawan kemungkaran, hendaknya bisa memilih diksi yang tepat dan jujur di dalam pemberitaannya. Ibarat perang, kata-kata bagi sebuah media adalah peluru tajam. Salah memilih peluru maka apa yang ingin disampaikan tentu saja tidak akan mengena.
Marilah, mulai sekarang, bersikap jujur pada kata. Mari kita tinggalkan istilah "Koruptor" dan menggantinya dengan itilah "Maling Uang Rakyat". Ganti istilah "Penyesuaian Harga" dengan "Kenaikan Harga". Ganti "Tempat Hiburan" dengan "Tempat Maksiat". Dan buat lagi ribuan daftar kata-kata yang jujur kepada makna. Kejujuran sebuah media pada akhirnya akan menimbulkan kesadaran rakyat yang benar. Dan dengan melihat kejujuran media pada pemilihan kata, kita bisa melihat, apakah mereka itu termasuk media massa atau pelacur kata-kata. Tabik. []