Jumanah Alaa, "Ya Annapolis, Aku Ingin Ayahku…”
“Aku tak berpanjang kata kepadamu, Annapolis. Aku tahu, kamu pasti sibuk menerima tamu. Dari kakek dan guruku, aku mendengar bahwa kamu akan membawa damai. Aku ingin ayahku, ya Annapolis…Ibuku sudah tidak ada."
"Harusnya penjara tidak boleh lagi mengurung ayahku. Aku sangat rindu belaian tangan ayah. Orang-orang mengatakan, masalah yang akan kamu inginkan itu adalah masalah paling penting untuk Palestina. Dan damai itulah yang akan engkau perjuangkan. Tolong sampaikan kepada Israel.. lepaskanlah ayahku… juga para tawanan yang lain yang begitu menderita seperti mati seribu kali dalam satu hari. Aku minta kepadamu Annapolis.. jangan lupakan masalahku dan rintihanku ini..”
Kata-kata ini diucapkan seorang anak perempuan bernama Jumanah Alaa, yang usianya baru menginjak enam tahun. Air matanya menitik. Jiwanya tak kuasa menahan sedih yang berbalur kepahitan hari-hari hidupnya tanpa ayah dan ibu. Ia mengungkapkan deru gelisah di hatinya itu untuk semua delegasi yang akan duduk dalam perundingan Annapolis, yang disebut-sebut menentukan sejarah ke depan Palestina setelah selama lebih dari separuh abad dijajah Israel.
Jumanah Alaa- tidak terlalu mengerti apa itu Annapolis. Ia menganggap Annapolis seperti halnya nama orang yang mungkin dalam benaknya adalah sosok pahlawan yang akan memberinya kedamaian. Sambil terus menitikkan air mata, ia pun mengatakan, “… damai artinya aku bisa kembali memeluk ayah… aku bisa ditemani ayah saat hari raya.. aku bisa mendengar ceritanya sebelum tidur sambil memelukku.. aku dibelikan permen.. damai yang juga ingin dirasakan teman-temanku tentang ayah mereka yang selama ini tidak boleh berada di dekat mereka… “
Ibunda Jumanah meninggal karena sakit paru-paru yang akut. Sedangkan ayahnya ditangkap begitu saja oleh Israel saat pulang dari bekerja. Ia sendiri kini hidup di bawah asuhan kakeknya yang sudah sakit sejak tahun 2001. Ayahnya, dijatuhi vonis hukuman 18 tahun penjara oleh Israel. Usai dijatuhkan vonis, Israel pernah mengizinkan Jumanah dan ibunya yang ketika itu masih hidup, untuk berkunjung ke penjara. Jumanah kala itu masih sangat kecil dan tidak paham apa yang terjadi di hadapannya. Ia hanya bisa menatap ayahnya di balik sebuah kaca pemisah.
Dalam kunjungan kedua, nenek Jumanah terkejut karena pihak penjara tidak mengizinkan mereka masuk dan bertemu dengan ayah Jumanah. Setelah itu, mereka pun melewati tahun-tahun sulit dan keras karena hingga kini, Jumanah sudah beberapa tahun tidak pernah lagi melihat ayahnya.
Menurut Kementerian Urusan Tawanan, saat ini ada lebih dari 117. 000 tahanan Palestina mendekam di penjara Israel. Menurut data mereka, ada sekitar 213 tahanan yang telah melewati usia tahanan 15 tahun. Ada 65 tahanan yang sudah ditahan lebih dari 20 tahun. Dan ada 8 orang tahanan yang sudah mendekam di penjara selama seperempat abad. Jumlah tahanan terus menerus bertambah. Dari total tahanan itu ada 8.495 orang yang belum menikah, sedangkan sisanya, sekitar 3.200 orang tahanan telah berkeluarga. (na-str/iol)