Kaum Yahudi di Turki Semakin Ketakutan
Kaum Yahudi di Turki mengungkapkan kekhawatiran mereka Kamis kemarin (17/2) terkait adanya skema balas dendam yang dilakukan oleh Hizbullah, atas kematian salah satu komandan Hizbullah Imad Mughniyeh, pada peringatan ketiga kematiannya.
Awal minggu ini Israel menutup sementara sejumlah misi diplomatik mereka di dunia karena kekhawatiran akan adanya serangan, dan surat kabar Turki setempat mengungkapkan Kamis kemarin bahwa penutupan termasuk konsulat Israel di Istanbul dan kedutaan di Ankara.
Tetapi orang-orang Yahudi lokal masih menyimpan kecemasan, terutama karena berkuasanya Perdana Menteri Recep Tayyip Erdogan. "Ketika kami berbicara sekarang, kami sedang didengar karena ada kawat-penyadapan di sini," kata seorang pedagang Yahudi dari Istanbul mengatakan kepada Ynet melalui telepon, meminta untuk tetap anonim.
"Di Turki kami tidak tahu apa yang akan terjadi besok. Begitu banyak kejadian di sini. Apa jaminan adanya pemisahan antara agama dan negara dan adanya kekuasaan militer, namun sayangnya para jenderal yang mempertahankan sekulerisasi di masa lalu sudan tidak lagi sekarang."
Pedagang itu menambahkan bahwa dakwaan terhadap 200 pejabat militer baru-baru ini yang diajukan negara "menunjukkan adanya ancaman terhadap kami semua".
"Turki adalah kediktatoran. Mereka menyerang surat kabar dan menyerang terhadap siapa pun yang berani berbicara menentang pemerintah. Mereka yang bicara terlalu banyak akan mendapati dirinya dalam penyelidikan," katanya.
"Persahabatan sedang dikembangkan di sini dengan negara-negara yang bermusuhan dengan Israel. Ini menjadi perhatian kami, karena kami tidak tahu apakah kami akan dilindungi seperti sebelumnya. Meskipun polisi menjaga semua lembaga Yahudi, kami masih tidak benar-benar merasa aman."
Pedagang itu menambahkan bahwa banyak dari mereka menahan diri berkumpul dengan komunitas Yahudi dan pergi ke tempat-tempat umum di mana orang-orang Yahudi berkumpul.(fq/ynet)