Ingin Rujuk dengan mantan suami

Assalamualaikum wr..wb…

Ibu Siti yang saya hormati…Saat ini saya sedang bimbang, boleh dibilang perjalanan hidup saya begitu berliku. Saya bercerai dengan suami saya hampir 1th, disebabkan hanya karna kesalah fahaman saja, yang akhirnya berbuntut jadi masalah yang besar. Usia perkawinan saya saat itu baru 1,5th dan dikaruniai anak perempuan berusia 4bulan dan sekarang usianya sudah 20bln.  Kami berdua bisa dibilang sama-sama egois dan tidak ada yang mau mengalah, dalam rumah tangga kami jarang terjadi komunikasi, suami sibuk bekerja sampai kurang perhatian sama keluarga. Dan sekarang seiring berjalannya waktu, saya punya pikiran untuk mengajak mantan suami rujuk kembali karna saya kasihan dan tidak tega dengan anak saya. Karna sejak terjadi masalah sampai bercerai anak saya jadi terus sakit-sakitan dan pertumbuhan psikologisnya kurang bagus. Saya pernah mengutarakan keinginan saya ini pada mantan suami, tapi jawabannya belum ada keinginan untuk kembali dikarnakan masih trauma dengan kejadian yang kemarin dan sakit hati pada keluarga saya belum bisa hilang. Karna bisa dibilang masalah rumahtangga kami sudah melibatkan keluarga, sehingga keluarga saya marah besar kepada mantan suami pada saat itu. Dan sepertinya suami tersinggung dengan perkataan orangtua saya, dan sejak saat itu mantan suami tidak mau menginjakkan kakinya dirumah orangtua saya lagi sampi sekarang. Jadi jika mantan ingin bertemu dengan anak, maka saya disuruh menemui dia diluar. Itu terjadi sampe sekarang. Saya ingin minta saran bu, apa yang harus saya lakukan agar suami mau rujuk lagi dengan saya, karna keluarga mantan suami pernah menyarankan sama saya jika memang mau rujuk sebaiknya orngtua saya datang kerumah orangtua mantan untuk bersilaturrahim. Tapi saya tidak berani mengutarakan hal ini sama orangtua saya, karna bisa dibilang orangtua saya juga sudah benci dan sakit hati dengan perlakuan mantan yanga dianggap terlalu egois dan sombong. Perlu diketahui ibu, mantan suami saya termasuk tipe orang yang keras dan harga dirinya terlalu tinggi tidak mau mengalah. Demikian pertanyaan saya ibu, saya tungu sarannya yang mungkin bisa membuat hati saya tenang. Terima kasih

Wassalam

Rida – Jatim

Ibu Rida yang semoga dicintai Allah swt.,

Ibu sedang menimbang-nimbang kembali untuk ruju’ dengan suami demi anak, ini sungguh alasan yang mulia. Semoga niatan ibu ini sudah tercatat sebagai timbangan amal shalih di sisi Allah swt. Apalagi saat ini anak dalam keadaan sakit-sakitan, mungkin juga karena Anda dalam keadaan emosional yang tidak begitu stabil, sendirian merawat anak. Dibutuhkan ketegaran yang luar biasa
untuk menjadi single parent dalam keadaan anak yang masih balita. Dalam keadaan orang tua harmonispun, anak balita sangat rentan dengan penyakit, jadi seorang Ibu memang dibuat super sibuk di usia-usia awal kehidupan anak.

Hari ini panas, besok ternyata flu/ batuk, seminggu lagi diarhee, dst. bergantian. Jika asupan gizi tidak mencukupi anak-anak akan lebih rentan lagi dengan berbagai penyakit.

Ibu Rida yang semoga dicintai Allah swt.,

Pengalaman harus menjadi guru yang baik bagi masa depan; jika Ibu ingin ruju’ maka ibu mestinya telah mempersiapkan segala hal agar kesalahan yang sama tidak terulang lagi, bukan? Nah, bu, apakah Ibu sudah mempersiapkan bagaimana jika suami bersikap kasar lagi seperti dulu? Sikap apa yang akan Ibu lakukan? Bereaksi seperti dulu atau Ibu sudah siap menghadapi keegoisan
suami dan karakternya yang lain….?

Ibu Rida, karakter memang tak mudah berubah total, meski sebagai muslim, kita harus yakin akan terbukanya hidayah pada siapapun. Ketika Ibu bercerai, usia pernikahan masih sangat dini, yakni 1.5 tahun, ini adalah masa-masa penyesuaian sedang terjalin. Banyak hal yang tak terduga akan tersingkap pada diri pasangan, dan sebagai partner harus siap dengan kondisi ini apa adanya, kesiapan ini ditunjukkan dengan saling menyesuaikan diri.

Ibu Rida yang semoga dicintai Allah swt.,

Penyesuaian pada pasangan bisa dari dalam ke luar atau dari luar ke dalam. Suatu waktu istri yang mengalah dan lain waktu suami yang mengalah. Bukankah mengalah, bukan berarti kalah; bukankah dengan mengalah maka sebenarnya kita sudah menjadi pemenang? Jadi kalau masing-masing sama-sama egois berarti belum ada suatu adaptasi yang terjalin, tetapi masing-masing masih jalan sendiri-sendiri. Padahal visi dalam pernikahan itu adalah kerjasama untuk menuju pada arah yang sama; bukan bersama namun berjalan di atas rel masing-masing.

Ibu Rida yang semoga dicintai Allah swt.,

Bicaralah baik-baik dengan mantan suami tentang visi bersama apa yang akan Anda wujudkan dalam pernikahan nanti. Bicaralah blak-blakan (asertive/ terus terang) hal-hal apa yang Anda inginkan pada mantan suami (jika nanti sudah menjadi suami) dan juga sebaliknya, hal-hal apakah yang suami inginkan pada diri Anda. Carilah cara bagaimana Anda dapat memenuhi kebutuhan pasangan anda itu. Tentang sikap keluarga, tak bisa dengan dijauhi akan terjadi perubahan sikap dengan sendirinya, bukan? kecuali bahwa mantan suami Anda harus melakukan sesuatu untuk melunakkan hati keluarga Anda. Sembari berikhtiar ini, dahuluilah sikap baik ini Anda tunjukkan pula pada keluarga mantan suami. Beri bingkisan-bingkisan kecil, kunjungilah atau telponlah mantan mertua; mudah-mudahan hati suami suatu saat akan terbuka untuk menyambung kembali tali yang terputus, ruju’ dengan Anda namun juga dapat rukun dengan keluarga lagi. Jadilah muslim yang terus meningkatkan kepahaman agama, lebih rajin ibadah dan mencari ilmu; ini akan menjadi modal dasar dalam mewujudkan keluarga yang sakinah mawaddah wa rahmah…amin. teriring do’a agar Allah swt. meridloi niat baik Anda ini.

Wallahu a’lam bisshawab,

Wassalamu’alaikum warahmatullahi wa barakatuhu

Bu Urba