eramuslim

Kerja Sama Blok Ambalat: Diplomasi Energi Hindari Konflik Indonesia - Malaysia

KRI Bima Suci bersama berlayar di Perairan Ambang Batas Laut (Ambalat), Nunukan, Kalimantan Utara, Senin, 13 September 2021. Mercusuar tersebut merupakan tanda perbatasan perairan laut antara Indonesia dengan Malaysia. ANTARA FOTO/Muhammad Adimaja

Eramuslim.com - Setelah puluhan tahun bersitegang, Indonesia dan Malaysia akhirnya mencapai kesepakatan bersejarah untuk mengelola Blok Ambalat secara bersama. Kesepakatan ini tercapai dalam pertemuan bilateral di Istana Kepresidenan Jakarta pada Jumat, 27 Juni 2025. Langkah ini menandai titik balik dalam salah satu konflik maritim paling sensitif di kawasan Asia Tenggara.

Menteri Pertahanan Sjafrie Sjamsoeddin menyambut positif kerja sama ini, menyebutnya sebagai solusi terbaik untuk mencegah konflik berkepanjangan sekaligus mempererat hubungan dua negara bertetangga. “Kita hindari konflik di Ambalat. Sebagai tetangga, sudah semestinya kita hidup berdampingan secara damai,” ujarnya di Kompleks Parlemen, 2 Juli 2025.

Kesepakatan ini dibangun atas dasar saling menghormati kedaulatan dan semangat manfaat bersama (mutual benefit). Kedua negara akan membentuk otoritas bersama, Joint Development Authority, yang bertugas mengelola kekayaan sumber daya alam di kawasan tersebut, khususnya minyak dan gas bumi.

Mengapa Ambalat Jadi Rebutan?

Blok Ambalat, yang terletak di Laut Sulawesi dengan luas sekitar 15.235 km², merupakan kawasan strategis di ujung utara Pulau Kalimantan, dekat perbatasan Indonesia (Nunukan, Kalimantan Utara) dan Malaysia (Sabah). Bukan hanya letaknya yang krusial, tetapi kandungan migasnya juga menjanjikan—diperkirakan cukup untuk menopang produksi selama tiga dekade ke depan.

Namun, nilai ekonomis dan strategis itu pula yang selama ini menjadi biang konflik. Malaysia mengklaim wilayah tersebut berdasarkan peta sepihak tahun 1979, yang memasukkan Ambalat ke dalam zona ekonomi eksklusifnya. Indonesia menolak klaim tersebut dan berpegang pada prinsip UNCLOS 1982, di mana sebagai negara kepulauan, Indonesia berhak menarik garis pangkal dari pulau-pulau terluar.

Perbedaan tafsir ini sempat membuat kapal perang kedua negara beberapa kali berhadapan secara tegang di lapangan, bahkan nyaris memicu konfrontasi bersenjata.

Meski sejak 2016 Indonesia telah memberikan hak pengelolaan Blok East Ambalat kepada Pertamina Hulu Energi (PHE), aktivitas eksplorasi migas belum bisa berjalan maksimal. Penyebabnya: ketidakjelasan batas wilayah yang tumpang tindih dengan klaim Malaysia dan kekhawatiran atas eskalasi diplomatik.

Namun, hasil kajian Badan Geologi dan Pusat Survei Geologi (PSG) menunjukkan potensi besar yang tersimpan di wilayah ini, khususnya di Cekungan Tarakan. Analisis geologi dan geofisika memperkuat keyakinan bahwa Blok Ambalat menyimpan cadangan energi strategis.

Dengan kesepakatan pengelolaan bersama ini, peluang eksplorasi migas di Ambalat terbuka kembali—bukan hanya sebagai sumber energi nasional, tetapi juga sebagai simbol diplomasi damai dan kerja sama regional yang produktif.

Sumber: Tempo.co