Ketika Rumah Sakit Gagal Jadi Tempat Aman: Dua Kematian, Satu Krisis Layanan

Eramuslim.com - Dua insiden memilukan di RSUD Yowari dan RSUD Serui menguak rapuhnya layanan kesehatan di Papua. Seorang ibu hamil dan janinnya meninggal dunia setelah berjam-jam menunggu penanganan di ruang gawat darurat RSUD Yowari. Sementara itu, di RSUD Serui, seorang perempuan muda tewas usai dua kali menjalani operasi usus dalam waktu singkat—tanpa penjelasan medis yang memadai.
Pengamat kebijakan publik Papua, Methodius Kossay, menyebut dua kasus ini bukan kebetulan, melainkan puncak dari krisis sistemik. Ia menyoroti tiga persoalan utama: minimnya tenaga medis, buruknya manajemen rumah sakit, dan ketimpangan layanan terhadap pasien BPJS.
“Pasien datang untuk sembuh, tapi justru pulang dalam peti mati,” tegasnya.
"Tiga Jam Menunggu, Dua Nyawa Hilang"
Apolonia Nia Mimin yang hamil tujuh bulan datang ke RSUD Yowari karena malaria berat. Namun setibanya di IGD, ia harus menunggu tiga jam sebelum mendapat tindakan, meski ruangan tak dalam kondisi penuh. Tak ada infus, tak ada obat. Janinnya meninggal dunia beberapa jam kemudian. Esok harinya, Apolonia pun menghembuskan napas terakhir—hanya lima menit setelah dipindahkan ke ICU yang seharusnya jadi rujukan awal.
Direktur RSUD Yowari, drg. Maryen Braweri, mengaku belum menerima laporan resmi dan menyebut berbagai keterbatasan seperti fasilitas yang usang, keterbatasan tempat tidur, dan tidak aktifnya Komite Mutu sejak tahun lalu.
Di RSUD Serui, Adriana Wayoi, 30 tahun, awalnya didiagnosis malaria dan gangguan lambung. Dua hari kemudian, ususnya diduga mengalami penyumbatan dan ia dioperasi besar. Tak kunjung membaik, operasi kedua dilakukan. Tak lama setelah itu, Adriana meninggal. Keluarga menilai terjadi malpraktik dan menyoroti ketidakjelasan proses medis.
“Kami tidak tahu apa-apa. Hasil lab tidak diberi. Bahkan, kapan ususnya pecah—sebelum atau saat operasi—kami tak diberitahu,” ujar kakaknya, Kone Wayoi.
Kasus Apolonia dan Adriana menyoroti ketimpangan perlakuan terhadap pasien BPJS kelas 3. Menurut Kossay, masyarakat berpenghasilan rendah cenderung mendapat layanan yang lambat dan minim prioritas.
RSUD Yowari sendiri hanya memiliki 132 tempat tidur, dengan tingkat keterisian 90%. Keterbatasan infrastruktur dan SDM mengakibatkan pasien kerap dipulangkan lebih awal, walau belum pulih.
Lebih buruk lagi, dua komite penting—Komite Medik dan Komite Mutu—sempat vakum selama berbulan-bulan, padahal bertugas mengevaluasi dan menjamin mutu layanan.
Dokter Enggan Bertugas, Sistem Gagal Lindungi
Ketua IDI Papua, dr. Donald Willem Aronggear, mengatakan dokter kerap enggan bertugas di Papua karena rasa tidak aman, beban kerja berat, serta insentif yang tidak memadai.
Pendidikan kedokteran untuk spesialis pun masih terpusat di Jawa, menghambat regenerasi tenaga medis Papua. Ia menekankan pentingnya sistem kerja tim yang solid dan perlunya pendekatan holistik dalam reformasi layanan kesehatan.
“Tanpa sistem yang kuat, tragedi seperti ini akan terus berulang,” tegas dr. Donald.
Sumber: BBC News Indonesia