eramuslim

Kisah Cinta Nabi vs Kisah Cinta Sekuler

Eramuslim - Kita sering larut dalam kisah cinta yang katanya indah dan sempurna. Tapi ketika ditelaah, banyak dari kisah itu justru berujung pada luka, salah paham, bahkan kematian.

Lihat saja Romeo dan Juliet. Dua anak muda yang baru saling kenal beberapa hari, tapi sudah saling sumpah setia. Ketika Juliet dijodohkan oleh ayahnya, ia meminum ramuan untuk pura-pura mati, agar bisa kabur bersama Romeo.

Sayangnya, kabar ini tidak sampai ke Romeo. Ia mengira Juliet benar-benar meninggal, lalu bunuh diri dengan racun.

Tak lama kemudian, Juliet bangun, melihat kekasihnya sudah tak bernyawa, dan ikut bunuh diri dengan pisau.

Itulah akhir dari cinta yang tak mengenal akal panjang dan bimbingan. Cinta yang sekadar emosi, tanpa keimanan.

Begitu juga dengan kisah legendaris Rama dan Sinta, yang masyhur dari India hingga ke Nusantara.

Konon, Rama adalah pangeran ksatria yang gagah berani. Tapi saat istrinya diculik oleh Rahwana, ia tidak turun tangan langsung, malah meminta tolong pada Hanuman dan pasukan kera.

Dalam Valmiki Ramayana, Uttara Kanda, Section 55, saat Sinta akhirnya kembali dalam keadaan hamil, yang ia dapat bukan pelukan hangat, tapi tuduhan zina.

Dan untuk membuktikan kesuciannya, Sinta harus membakar diri disaksikan oleh suaminya sendiri. Cinta macam apa yang menuntut pengorbanan sedalam itu, tapi tak memberi ruang kepercayaan? Kisah menyakitkan ini bahkan ditampilkan rutin di pentas Candi Prambanan, dengan tema: Sinta Obong.

Bandingkan dengan bagaimana Nabi Muhammad SAW menghadapi badai rumah tangganya. Ketika Aisyah difitnah berselingkuh, dan isu itu menyebar ke seluruh Madinah, Nabi tidak gegabah. Beliau tidak meledak dalam amarah.

Beliau memilih diam, bersabar, dan menanti wahyu dari Allah. Tak ada pembakaran. Tak ada fitnah yang dibalas dengan fitnah.

Pun saat Maria al-Qibthiyyah, istri beliau yang lain, difitnah selingkuh, Nabi tidak serta-merta marah. Beliau bersikap tenang, lalu mengutus Ali bin Abi Thalib untuk menyelidiki. Ali mendatangi laki-laki yang dituduh, dan memaksanya membuka aurat.

Ternyata pria itu adalah budak yang sudah dikebiri tidak memiliki alat kelamin yang berfungsi. Artinya, mustahil ia bisa berzina.

Ini bukan sekadar intuisi. Ini bentuk penyelidikan langsung terhadap bukti manusia yang dalam bahasa modern kita kenal sebagai forensik atau visum. Nabi hadir sebagai suami bukan hakim yang menghakimi,

tapi pelindung yang menenangkan.

Ini bukan sekadar soal cinta. Ini soal bagaimana laki-laki bersikap saat perempuan yang ia cintai sedang dihantam badai tuduhan.

Soal bagaimana seorang suami mengelola emosi, dan menjadikan rumah tangga tempat berlindung, bukan tempat penghakiman.

Yang satu membakar istrinya, Yang satu melindungi dengan sabar dan kasih.

Cinta versi sekuler sering menawarkan emosi yang meledak-ledak, janji-janji manis, dan pengorbanan tragis yang katanya romantis. Tapi di balik itu, tak ada kedewasaan, tak ada kontrol diri, perselingkuhan , dibangun diatas ketidaksetujuan orang tua dan sering kali justru mengantar pada kehancuran.

Sementara cinta dalam Islam bukan soal drama, tapi soal ketaatan, kematangan, dan pengelolaan emosi.

Ia bukan tempat untuk saling menyakiti, tapi tempat untuk saling menenangkan dan saling menanggung.

Cinta Islami tidak membakar pasangan karena cemburu. Tidak menghukum karena prasangka.

Tapi menunggu, menyelidiki, dan memutuskan dengan kepala dingin dan hati lapang. Itulah cinta yang bukan hanya indah di awal, tapi juga tahan saat badai datang.

Karena dalam Islam, cinta bukan soal siapa yang paling rela mati, tapi siapa yang paling bisa hidup bersama dengan sabar dan bijak.[sumber: fb Ngopidiyah]