Kisah Nyata di Balik KKN: Hidup Susah, Dana Minim, Tuntutan Maksimal

Eramuslim.com - Di mata publik, Kuliah Kerja Nyata (KKN) kerap dianggap sebagai ajang "liburan ilmiah"—seru, penuh canda tawa, dan dekat dengan masyarakat desa. Namun di balik unggahan media sosial yang menampilkan senyum lebar peserta KKN, tersembunyi realita yang jauh dari kata ideal.
Edi (43), Ketua RT di salah satu desa di Klaten, masih ingat betul ketika sekelompok mahasiswa dari kampus di Yogyakarta datang dua tahun lalu. Awalnya, ia menyambut mereka dengan senang hati. Tapi rasa itu berubah jadi iba ketika suatu malam ia iseng mampir ke posko mereka.
Jam sudah pukul 10 malam, tapi para mahasiswa belum juga tidur. Mereka masih sibuk mengerjakan laporan di depan laptop masing-masing. Beberapa bahkan sedang menyelesaikan pekerjaan freelance demi menambah uang saku.
Ketika Edi masuk ke dapur, pemandangan yang ditemuinya mengejutkan: hanya ada beras dan mi instan. “Saya pikir mahasiswa itu hidupnya enak. Ternyata mereka makan seadanya,” ujarnya, Kamis (10/7/2025).
Edi sempat menawarkan bantuan bahan pangan dari warga, tapi ditolak dengan sopan. Mahasiswa KKN itu bersikeras, mereka datang untuk membantu warga, bukan minta bantuan.
Tak hanya itu, Edi juga melihat jaket ojek online tergantung basah di pojokan. Rupanya ada mahasiswa yang malam-malam masih sempat "narik" ke kota demi menambah penghasilan selama KKN. “Saya cuma bisa elus dada. Berat banget hidup mereka,” ujarnya.
Dana Rp50 Ribu, Program Diharapkan Sebesar Proyek Nasional
Andi (21), mahasiswa Teknik Informatika, juga punya cerita kelam soal KKN. Ia dan kelompoknya sempat dihujat habis-habisan di media sosial karena membuat program sederhana seperti denah lokasi dan gapura bambu. Warganet menyebut program itu “template” dan menyindir mereka sebagai “Gen Z pemalas.”
“Ya, kami tahu itu nggak seberapa,” kata Andi. “Tapi dengan dana Rp50 ribu per orang, kami bisa apa?”
Jumlah itu adalah uang saku resmi dari kampus—Rp50 ribu untuk KKN selama 1–2 bulan. Kalau satu kelompok berisi 8 orang, total dana cuma Rp400 ribu. Dana itu harus cukup untuk makan, kebutuhan harian, dan operasional program.
Banyak mahasiswa akhirnya harus nombok dari kantong pribadi. Kalau ada teman kelompok yang tajir, kadang bisa jadi donatur dadakan. Tapi tentu itu bukan solusi yang bisa diandalkan.
“Saya sampai hapus akun Instagram KKN karena dibully,” kata Andi. “Padahal kami cuma berusaha bertahan.”
Menurutnya, KKN tetap penting sebagai bagian dari pembelajaran sosial. Namun tuntutan agar mahasiswa dengan dana pas-pasan bisa “mengentaskan kemiskinan” jelas tidak masuk akal.
“Kalau memberantas kemiskinan jadi tugas mahasiswa KKN, terus pemerintah kerjaannya apa?” tutup Andi dengan getir.
Sumber: mojok.co