Klan Luhut di Jantung Kekuasaan: Dari Menantu Jenderal, Adik Dubes, Hingga Keponakan Bos Tambang & Bursa

Eramuslim.com - Dinamika kekuasaan di pemerintahan kini makin terasa kental dengan aroma kekeluargaan. Nama Luhut Binsar Pandjaitan, tokoh senior militer dan politik yang tak pernah jauh dari lingkar kekuasaan sejak era Jokowi hingga Prabowo, ternyata diikuti pula oleh barisan keluarga dekatnya yang kini menempati posisi-posisi strategis negara.
Luhut sendiri kini menjabat sebagai Ketua Dewan Ekonomi Nasional, posisi bergengsi yang diembannya sejak Oktober 2024, pasca pelantikan Presiden Prabowo Subianto. Namun sebelum itu, rekam jejak Luhut selama satu dekade terakhir juga luar biasa panjang: mulai dari Kepala Staf Kepresidenan hingga Menteri Koordinator bidang Investasi, plus puluhan jabatan ad hoc strategis lainnya seperti Komite Kereta Cepat dan Dewan Air Nasional.
Tapi perhatian kini tertuju bukan hanya pada Luhut, melainkan pada "keluarga besar Pandjaitan" yang tersebar di berbagai posisi kunci.
Jenderal TNI Maruli Simanjuntak, yang saat ini menjabat sebagai Kepala Staf Angkatan Darat (KSAD), adalah menantu Luhut, suami dari putri kandungnya, Paulina Pandjaitan. Dilantik pada akhir 2023 oleh Presiden Jokowi, Maruli bukan wajah baru dalam struktur elite militer. Kariernya melesat dari Paspampres hingga Panglima Kostrad sebelum kini menduduki pucuk pimpinan AD.
Nurmala Kartini Pandjaitan Sjahrir, adik kandung Luhut, saat ini tengah menjalani uji kelayakan untuk menjadi Duta Besar Indonesia untuk Jepang. Nurmala bukan pendatang baru: ia pernah menjabat sebagai Dubes RI untuk Argentina di masa Presiden SBY, pernah menjadi ketua partai, aktivis perempuan, dan kini juga menjabat sebagai komisaris Siloam Hospitals dan pembina yayasan suaminya, ekonom senior almarhum Sjahrir.
Pandu Sjahrir, keponakan Luhut sekaligus anak dari Nurmala, menjabat sebagai Chief Investment Officer Danantara, Wakil Dirut Toba Bara, Komisaris Bursa Efek Indonesia, hingga Ketua Umum Asosiasi Fintech Indonesia.
Pandu adalah sosok yang berada di persimpangan antara bisnis tambang, teknologi, dan keuangan nasional, serta aktif dalam asosiasi strategis seperti APBI (Asosiasi Pertambangan Batubara Indonesia). Dalam beberapa pernyataan publik, kepemilikan perusahaannya juga kerap dikaitkan dengan pamannya, Luhut.
Muncul pertanyaan publik yang makin keras: Apakah ini sekadar kebetulan atau memang konsolidasi kekuasaan yang dibungkus meritokrasi? Dari menantu jenderal, adik calon dubes, hingga keponakan pengusaha besar yang menguasai sektor energi dan keuangan digital.
Sumber: Tribun News