Pendidikan Anak Dlm Islam

Assalaamu’alaykum wr wbr.

Langsung saja ustadzah.. Saya ada pertanyaan terkait pendidikan anak dalam Islam:

Pertanyaan 1: Kadang anak ada yang bisa beradaptasi dg lingkungan disiplin tinggi, dan ada yang kurang mampu. Bagaimana cara mendeteksi kemampuan jangkauan pendidikan anak dalam hal disiplin tersebut?

Pertanyaan 2: Anak hingga usia 3th adalah dalam masa emas (mudah menyerap apa saja yang dia rasa-lihat-dengar-dll). Bgmn kita bisa mengoptimalkan masa emas tersebut?

Pertanyaan 3: Pendidikan formal dan non-formal diperlukan dalam mendidik anak. Strategi bgmn-kah kita bisa meng-counter pendidikan formal dan lingkungan non-Islam?

Jazakumullah khoir…

Wassalaamu’alaykum

Wa’alaikumussalam warahmatullahi wabarakatuh,

Sdr. Abu Hana yang dirahmati Allah, ..
Sungguh saya merasa senang bahwa Anda sebagai laki-laki punya interest yang baik dengan bertanya tentang pendidikan anak; memang mendidik anak juga menjadi tugas laki-laki, bukan hanya tugas para Ibu. Lihatlah figur-figur Bapak teladan yang diabadikan khusus dalam Al-Qur’an (misalnya Nabi Ibrahim AS., Luqman Al-Hakim, dan sebagainya.). Berikut ini apa yang dapat saya sampaikan sehubungan dengan pertanyaan Bapak:

1. Pola asuh yang digunakan orang tua dalam mendidik anak bermacam-macam, setiap orang tua punya style sendiri yang unik. Perlu dipahami bahwa anakpun tumbuh-kembang secara bertahap. Beberapa materi yang penting sejak dini ditanamkan adalah pendidikan keimanan, pendidikan untuk membiasakan beribadah, pendidikan akhlaq, pendidikan emosi, dan sebagainya (Lihat buku Abdullah Nashih ’Ulwan, Pendidikan Anak Dalam Islam).

Mentransfer materi-materi itu dilakukan dalam proses tarbiyah yang tujuannya adalah menanamkan agar dapat terinternalisasi dalam diri anak; antara lain dalam mengajarkan nilai-nilai pada anak, termasuk nilai kedisiplinan. Tidak dapat dinafikan bahwa nilai ini akan berguna bagi kehidupan anak di masa mendatang. Untuk menanamkan nilai ini perlu secara bertahap dan dengan kesabaran.

Orang tua dapat melatih kedisiplinan antara lain dengan pemberian aturan, mengajarkan toilet-training sejak tahun-tahun pertama kehidupannya. Setiap anak pada dasarnya sama, yakni akan menjadikan setiap pengalaman hidupnya untuk belajar; aturan dari orang tua akan diserap dan suatu saat akan dipakai untuk mengatasi masalahnya. Ketika penanaman nilai dilakukan secara keras (mungkin istilah Bapak disiplin tinggi), misalnya, maka mungkin nilai ini akan ditolak atau akan diterima anak; tetapi anakpun suatu saat akan mentransfer nilai ini dalam hidupnya termasuk dengan konsep sertaannya yakni kekerasan dalam mengajarkan nilai tersebut.

Orang tua yang selalu mengajarkan nilai tanpa penjelasan, sering disebut orang tua dengan pola asuh otoriter. Orang tua tidak memberi cukup penjelasan mengapa nilai tersebut harus dipatuhi anak. Anak tertentu mungkin pasif agresif, melakukan penentangan secara diam-diam di belakang orang tua, tetapi ada yang menggunakan agresif langsung dengan membangkang. Orang tua perlu memahami karakter anak yang khas. Biasanya dapat diketahui dari reaksi anak dan perilakunya sehari-hari. Untuk menghindari trauma emosional ketika pengajaran disiplin, mestinya orang tua telaten, disertai kasih sayang dan ketika kemampuan kognitifnya semakin berkembang maka hendaklah lebih dialogis ketika mengajarkan kedisiplinan ini.

2) Masa emas (golden age) antara 0-2 th, 2-4 th karena pada masa ini terjadi pertumbuhan dan perkembangan yang paling pesat, antara lain volume otak. Maka perlu dioptimalkan dengan memberi asupan gizi yang memadai dan stimulasi/ rangsang panca indra yang cukup. Anak-anak pada masa ini sering menjadi tugas pembantu untuk menangani karena biasanya belum bersekolah.

Jika anak dibiarkan oleh si pengasuh tanpa distimulasi yang cukup maka sungguh sayang masa emasnya akan terlewati. Patut disyukuri bahwa kini muncul solusi bagi Ibu yang bekerja atau kurang dapat menstimulasi secara optimal, bahwa telah bermunculan kelompok-kelompok bermain yang Islamy.

Dalam kelompok ini prinsipnya adalah memberi anak kenyamanan dengan bermain; sebenarnya bermain bagi anak sama dengan belajar. Atau bagi orang tua yang punya waktu untuk mendampingi anak dapat menjadi figur sentral dengan memanfaatkan APE (Alat Permainan Edukatif) yang banyak ditawarkan.

3) Selain belajar dari lingkungan keluarga, anak juga belajar dari lingkungan masyarakat (teman) maupun pendidikan formal. Ketiga komponen ini harus saling mendukung agar tidak terjadi konflik nilai pada anak. Sekolah non-muslim sejauh yang kami ketahui tidak lepas dari pengajaran agama berdasar keyakinan agamanya. Ini yang perlu diwaspadai karena pengetahuan anak yang masih terbatas dapat memunculkan ketertarikan pada agama tersebut atau minimal kebimbangan beragama.

Meskipun dalam aspek-aspek tertentu sekolah tersebut punya keunggulan, orang tua tetap harus memprioritaskan pendidikan keimanan yang kuat pada usia-usia awal hidup anak. Jika pendidikan yang diterima anak dari rumah sudah tertanam dengan baik maka insya Allah ini akan menjadi benteng dalam menghadapi berbagai pengaruh lingkungan yang tidak kondusif. Bagaimanapun anak tidak bisa steril dari berbagai ”virus” lingkungan luar, oleh karena itu orang tua perlu meningkatkan imunitas anak dalam menghadapi berbagai persoalan yang dihadapi. Do’a kita sebagai orang tua amat berperan, agar Allah swt memberi inayah-Nya untuk menuntun anak-anak meniti kehidupannya.

Sekian yang dapat Ibu sampaikan, semoga Abu Hana dapat mengambil manfaat. Amin..

Wallahu a’lam bissshawab.

Wassalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh

Ibu Urba