Saat Badai Menerpa Biduk Rumah Tangga

 

alam tenangOleh : Anna Nur F

 ( Ibu Rumah Tangga, Pemerhati Masalah Sosial )

Nadhiya masih tersipu malu, walaupun keluarga dari pihak calon suaminya telah berpamitan pulang. Hatinya semakin berbunga-bunga, saat mengingat hari yang diimpikan selama ini akan segera tiba. Alloh telah mempertemukannya dengan seorang pria idaman hati, yang sebentar lagi menjadi suaminya dalam sebuah biduk pernikahan. Sebuah kata yang tiba-tiba menjadi hal yang amat indah terdengar.

Pernikahan merupakan jalan sunnah untuk membangun hubungan persahabatan antar dua orang manusia berbeda jenis yang bernilai ibadah. Pernikahan hendaknya dibentuk dengan tujuan mulia, semata karena ibadah kepada Alloh. Dan yang namanya ibadah, maka tata cara membangunnya harus sesuai dengan aturan Alloh. Mulai dari cara memilih pasangan, pelaksanaan ijab qobul hingga bagaimana mendesain hubungan suami istri, agar perkawinan penuh keberkahan Alloh dan mencapai sakinah mawaddah warohmah. Cinta yang dibangun sejak awal melangkah, sejak masa taaruf hendaknya adalah karena Alloh saja. Cinta karena Alloh mempersyaratkan cinta karena ada pada diri seseorang/pasangan, sifat dan perilaku yang dicintai Alloh. Kalaupun sebagai manusia biasa ada dari sifat dan perilakunya yang dibenci Alloh, ia tidak membiarkan berlarut-larut dan berulang tapi segera bertobat. Bagaimana mungkin dikatakan cinta karena Alloh jika seseorang/pasangan yang kita cintai itu sifat dan perilakunya saja dimurkai Alloh, apalagi tindakannya pun berani menentang perintah Alloh.

Cinta karena Alloh penting dan sangat urgent dalam setiap pernikahan. Sebab ia adalah modal dan senjata saat badai menerpa. Oleh karena itulah, betapa agungnya tuntunan nabi dalam memilih teman hidup. Beliau berpesan, pilihlah pasangan karena kebaikan agama niscaya akan beruntung. Seseorang yang baik agamanya, ia pasti mencintai Alloh. Dan orang yang mencintai Alloh tentu akan menaatiNya, karena cinta pembuktiannya adalah ketaatan. Ketaatan pada Alloh inilah yang sesungguhnya amat penting sebagai bekal mengarungi bahtera rumah tangga. Akan ada onak dan duri menghampiri setiap pernikahan. Akan ada badai dan gelombang yang menghantam. Seperti firman Alloh, apakah manusia akan dibiarkan mengatakan beriman tanpa diuji? Jadi, ujian adalah sebuah keniscayaan, pun dalam biduk perkawinan. Hal ini juga telah dengan amat jelas Alloh sampaikan dalam surat AlBaqoroh 155-157 sebagai berikut, ” Dan sungguh akan Kami beri cobaan kepadaMu dengan sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa dan buah-buahan. Dan berikanlah berita gembira kepada orang-orang yang sabar. Yaitu orang-orang yang apabila ditimpa musibah mereka mengucapkan ‘Inna lillaahi wa innaa ilaihi raajiuun’ . (Sesungguhnya kami adalah milik Allah dan kepadaNya kami kembali). Mereka itulah yang mendapatkan keberkahan yang sempurna dan rahmat dari Tuhan mereka dan mereka itulah orang-orang yang mendapatkan petunjuk.”

Badai dan gelombang dalam rumah tangga adalah suatu keniscayaan. Namun harus disadari dan diyakini bahwa Alloh Maha Penyayang, tak mungkin mendholimi hambaNya. Segala sesuatu apapun yang terjadi adalah yang terbaik dari Alloh. Begitu Pengasih dan Pemurahnya Alloh, Dia membekali manusia kala ujian menerpa dengan firmanNya dalam QS Al Baqarah [2] ayat 153, “Wahai orang-orang yang beriman jadikanlah sabar dan sholat sebagai penolongmu. Sesungguhnya Allah beserta orang-orang yang sabar.”

Sejenak bila membaca dari fenomena masyarakat, akan didapati banyak rumah tangga yang menyimpang dalam mencari solusi saat badai menerpa, dengan tidak berpegangan pada aturan Alloh dalam menghadapinya. Ketaatan pada hukum Alloh tidak menjadi landasan dalam menyelesaikan setiap problem kehidupan. Justru sebaliknya, mengikuti hawa nafsu dan terus memperturutkan langkah-langkah yang menyimpang dari aturanNya.

Sebagai contoh, banyak pasangan yang tidak sabar saat ujian kemiskinan, kekurangan harta menimpa. Ada yang karena ingin segera melepaskan diri dari kondisi ini, akhirnya salah satu pihak atau bahkan keduanya melakukan hal yang terlarang seperti korupsi, mencuri, terlibat riba dan lain-lain. Padahal sebenarnya harta yang diperoleh dengan cara haram, amat berpotensi mendatangkan penyakit, baik penyakit hati maupun fisik. Sebab pada dasarnya sistem kerja jaringan tubuh manusia, telah Alloh ciptakan sedemikian rupa untuk taat pada Alloh, sehingga jika sampai pemilik tubuh menikmati harta haram maka tubuh secara alami melawan membentuk mekanisme pertahanan. Akhirnya, terjadilah perang antara haq dan batil dalam tubuh sehingga muncul sinyal tubuh yang bernama kekhawatiran, kegelisahan, penyakit fisik/raga dan jiwa. Jadilah solusi mengentaskan kemiskinan keluarga yang ditempuh justru menambah masalah baru, hidup dalam ketidakberkahan Alloh. Logis jika perkara-perkara yang menyalahi hukum Alloh tidak mendapat ridlo Alloh.

Contoh lain juga bisa dilihat, dengan meningkatnya fenomena trend selingkuh. Selingkuh sebagai salah satu pelarian ketika ada masalah rumah tangga. Apalagi dari hasil penelitian menunjukkan beberapa tahun lalu 2 dari 3 pria Jakarta selingkuh. Belum lagi di era serba digital sekarang ini, dimana pergaulan antar lawan jenis tidak hanya di dunia nyata tapi telah menyentuh level dunia maya. Dari sudut pandang Islam, jelas selingkuh adalah jalan yang terlarang. Sama saja dengan mendekati perbuatan zina. Selingkuh apapun alasannya, tetap tak dibenarkan sekalipun untuk membalas pasangan yang telah “selingkuh” terlebih dahulu. Keindahan selingkuh hanyalah fatamorgana, dan pasti adalah jalan yang Alloh murkai, yang justru amat berpeluang menimbulkan masalah baru.

Selain itu juga sering didapati fakta, bagaimana ketika memiliki masalah dalam rumahtangga masing-masing pihak atau salah satu pihak tidak melandaskan diri pada aturan Islam dalam bersikap. Bermanuver mencari kambing hitam, saling menyalahkan, balas dendam, saling menyakiti, menghinakan dan dengan rela membawa permasalahan pernikahan menjadi konsumsi publik. Rahasia yang seharusnya tak boleh diketahui oleh orang lain, terbuka seluas-luasnya. Seperti banyak kasus artis di negeri ini, seolah lupa suami adalah pakaian bagi istri dan istri adalah pakaian suami. Keduanya harus saling menjaga dan menutupi. Membuka aib pasangan, sama saja dengan menunjukkan aib diri  sendiri.

Demikian juga dengan kenyataaan, betapa banyaknya suami istri yang menyikapi permasalahan dengan sikap “kekanak-kanakan”. Sikap buruk yang menghinggapi manusia bukan berdasarkan umur. Boleh jadi seseorang berumur tua dalam bilangan tapi tidak dalam kedewasaan. Atau sebaliknya, usia boleh muda tapi sikap telah dewasa. Mengutip perkataan Aa Gym, ciri “kekanak-kanakan” antara lain kebiasaan ingin apa-apa dipamerkan, pendengki dan cenderung serakah, segalanya hanya untuk dirinya sendiri. Persis seperti anak-anak, yang sering egois dan mau menang sendiri.

Sikap “kekanak-kanakan” seharusnya hanya boleh dipunyai oleh anak-anak yang memang belum sempurna akalnya. Bukan oleh anak manusia yang telah baligh. Sebab ketika telah baligh, seseorang telah dikenai beban hukum secara sempurna. Sudah terbebani untuk menjalalankan seluruh kewajiban sebagai khalifah di muka bumi tanpa kecuali. Ketika melakukan maksiat berdosa, saat menjalankan amal sholeh berpahala. Dan ketika sifat ini melekat pada orang dewasa/baligh justru hanya akan semakin memperburuk keadaaan. Alih-alih masalah terpecahkan, yang ada malah menambah daftar permasalahan.

Harus disadari oleh setiap individu yang telah menikah, bahwa sesungguhnya perkawinan adalah untuk semata ibadah. Sehingga segala aktifitas di dalamnya, terutama pemenuhan kewajiban suami istri, tanpa terkecuali harus menyandarkan pada aturan Sang Kholiq. Islam adalah agama sempurna yang merupakan sistem hidup yang komprehensif mulai dari bangun tidur hingga tidur lagi. Meliputi segala aspek antara lain ekonomi, politik, sosial dan budaya. Mengatur hubungan dengan Alloh dan dengan sesama manusia. Semua masalah ada solusinya dalam Islam. Oleh karena itu, jika bersandarkan pada aturan dalam Alquran dan hadits, maka tidak ada permasalahan rumahtangga yang tidak ada penyelesaiannya.

Betapa indahnya pernikahan, sungguh penuh berkah Alloh, dan terbentuk sakinah mawaddah warohmah ketika sepasang suami istri tetap memegang teguh tali temali agama Alloh. Menjadikan Islam hanya sebagai satu-satunya solusi saat badai menerpa biduk rumah tangga. Tetap istiqomah bersandar pada aturan Islam saat ujian menyapa. Tidak hanya akan membawa kebahagiaan di dunia, tetapi juga menuai pahala berlimpah karena telah menaatiNya. Tidak hanya terselesaikan masalah dengan penuh kemenangan, tapi juga akan semakin menguatkan cinta diantara keduanya. InsyaAlloh.