Sudah Shalat Malam dan Do&#039a, Tapi Belum Jadi PNS Sesuai Keinginan Orang Tua

Ass. wr. wb.

ibu yang baik, yang saya baca dalam literatur dan artikel yang ada seluruh internet bahwasanya apabila kita melaksanakan sholat lail maka doa kita akan diijabah oleh Allah. Dan itu telah saya alami, tatapi dan alhamdulilah saya insya ALLAH rutin melakukan sholat lail. Dan ketika saya ingin meminta sesuatu masalah pekerjaan untuk menjadi pegawai seperti yang orang tua kami harapkan ternyata oleh Allah masih ditunda. Padahal saya dan orang tua saya benar-benar mengharapkan pekerjaan itu, karena saya sudah lelah bekerja di dunia broadcasting (radio), yang tidak pernah mengalami perubahan hidup dan saya ingin membahagiakan orang tua saya seperti mbak saya yang lainya yang telah sukses.

Dan saya lelah di dunia broadcasting (penyiar) karena liburnya terbatas dan waktu untuk kumpul keluarga juga terbatas. Makanya saya ingin hijrah menjadi pegawai seperti mbak saya yang lainya. Walau banyak orang yang bilang jadi pegawai adalah orang yang tidak kreatif dan banyak maksiat. Yang menjadi pertanyaan saya apakah benar kata-kata tersebut, ibu.

Ketika jauh hari saya akan ujian pegawai dan mendekati ujian saya terus melakukan sholat lail seperti rutinitas saya sebelumnya, namun saya belum mendapatkan kesempatan, bahkan pada saat buka puasa saya selalu berdoa untuk hal itu demi orang tua saya dan masa depan saya, apa yang salah dalam sholat dan doa saya, ya ibu yang baik?

Saya pernah down, namun saya tetap menjalankan rutinitas sholat lail dan shaum, bahkan sekarang rutinitas ibadah tersebut tetap saya lakukan sampai saat ini, insya Allah untuk selamanya. Saya lakukan semua, bahkan belajar telah saya persiapkan dari jauh hari dengan matang (maaf ibu, bukan saya sombong, riya, atau ujub,maaf sekali lagi kepada Allah saya mohon ampun). Ibu yang baik ada apa di balik ini semua yah?

Semoga ibu dapat membantu saya dan menasehati dan memberikan saran yang baik kepada saya. Dan Saya tetap akan mencoba di tahun ini, untuk ikut ujian di bulan Oktober. Terima kasih.

Wassalamu’alaikum,

Assalammu’alaikum wr. wb.

Saudari MB yang baik,

Berkali-kali mengalami kekecewaan memang dapat menggoyahkan keyakinan dan menimbulkan kebimbangan. Begitu besar harapan anda untuk dapat menjadi pegawai negri sehingga segala usaha dilakukan dan doa dipanjatkan, namun nampaknya Allah masih berkehendak lain sehingga sampai saat ini apa yang diharapkan belum juga dikabulkan-Nya. Alhamdulillah meski di tengah kekecewaan belum terkabulnya doa anda tetap istiqomah menjalankan ibadah kepada-Nya.

Menurut seorang ulama, sebenarnya tidak ada do’a yang sia-sia. Karena Allah akan selalu membalasnya dengan cara yang terbaik menurut-NYa. Do’a dapat terwujud dalam tiga bentuk, yaitu terkabulnya do’a, tidak terkabul sesuai harapan di dunia namun menjadi pemberat timbangan di akhirat dan terakhir dapat menjadi penolak ba’la/ bencana. Yang mana yang akan diberikan oleh Allah maka Allah maha tahu yang mana yang paling dibutuhkan oleh manusia yang memanjatkan do’a kepada-Nya.

Menurut salah seorang ahli motivasi, ada perbedaan antara percaya dan mempercayakan. Percaya artinya kita yakin bahwa seseorang atau sesuatu punya kemampuan untuk memenuhi harapan kita, namun mempercayakan punya tingkatan yang lebih tinggi yang membuat kita bukan sekedar yakin, namun menyerahkan diri sepenuhnya kepadanya atas apa yang kita yakini.Terkadang dalam pengakuan, kita percaya kepada kebesaran dan kemahakuasaan Allah SWT, namun tidak melakukan penyerahan secara total (mempercayakan) sehingga kita tetap merasa khawatir, gentar ataupun ragu tatkala tak juga datang pertolongan-Nya.

Dalam hal ini, nampaknya yang dibutuhkan oleh anda adalah bukan sekedar percaya kepada Allah tapi bagaimana "mempercayakan" sepenuhnya jalannya takdir anda, setelah semua usaha dan do’a yang telah dilakukan. Jika kita benar mengenal Allah maka kita mempercayakan hidup kita di tangan-Nya. Karena di luar semua keterbatasan logika berpikir (kesuksesan pegawai negri yang anda pikirkan) yang dimiliki maka seharusnya kita tahu bahwa Allah Maha luas pengetahuannya untuk dapat menentukan yang terbaik bagi hidup kita.

Selama memang masih ada kesempatan maka teruslah berusaha sampai tertutup kemungkinan, karena takdir adalah nasib akhir yang kita dapatkan setelah melakukan usaha maksimal dan sikap kita atas hasil akhir inilah yang akan membuktikan apakah kita "percaya" atau "mempercayakan’ hidup kita pada Allah. JIka kita "mempercayakan" hasil akhir kepada Allah, maka kita yakin, setelah semua doa dan usaha yang maksimal, maka inilah yang terbaik dari-Nya meski tidak sesuai harapan dan do’a kita.Wallahu’alambishshawab.

Wassalammu’alaikum wr. wb.

Rr. Anita W.