free hit counters
 

Mengocehlah! , Agar Indonesia Tidak Seperti Granada

Redaksi – Jumat, 14 September 2018 11:00 WIB

granada1Oleh : Satria Hadi Lubis

(1). Apa yang menyebabkan kerajaan Granada, sebagai salah satu kerajaan Islam terkuat di Eropa, akhirnya runtuh?
(2). Jawaban pastinya adalah karena serangan musuh.
(3). Tapi serangan musuh tentu tidak serta merta dilakukan begitu saja. Banyak faktor yang harus diperhitungkan. Salah satunya adalah ‘timing’ yang pas.
(4). Untuk mengetahui kapan ‘timing’ yang pas, raja Ferdinand dari Aragon perlu mengutus mata2.
(5). Yang dilakukan sang mata2 cukup sederhana : pantau ‘ocehan’ masyarakat Granada.
(6). Satu waktu ia melihat anak kecil menangis. Dihampirinya sang bocah dan bertanya tentang apa yang menyebabkannya menangis?
(7). “Aku menangis karena anak panahku tidak tepat sasaran”, jawab sang bocah. “Bukankah kamu bisa mencobanya lagi?”, kata sang mata2.
(8). Jawaban sang bocah cukup mengejutkan. “Jika satu anak panah saya gagal mengenai musuh, apa mungkin musuh memberi saya kesempatan untuk memanahnya lagi?”
(9). Mendengar ‘ocehan’ bocah tsb, sang mata2 menyarankan raja Ferdinand untuk tidak menyerang Granada saat ini. Anak kecilnya aja begitu, gimana orang-orang tuanya?

(10). Beberapa tahun kemudian sang mata2 kembali ke Granada dan dilihatnya seorang dewasa yang sedang menangis.
(11). “Mengapa kau menangis?” tanya si mata2. “Kekasihku (wanita yang dia cintai) pergi meninggalkanku”, jawab si orang dewasa tsb.
(12). Maka sang mata2 merekomendasikan inilah ‘timing’ yang tepat untuk melakukan penyerangan.
(13). Tidak butuh lama, Granada sebagai benteng terakhir kaum muslimin di Eropa, dapat dikuasai dengan mudah.
(14). Puncak malapetaka bagi kaum muslimin Granada adalah dengan dibentuknya lembaga Inguisition (inkuisisi, pengadilan yang dibentuk oleh dewan gereja). Pilihannya hanya 2 : menerima ajaran katholik atau dibantai.
(15). Maka tamatlah riwayat kaum muslimin di Andalusia, dan Eropa secara keseluruhan.

(16). Mungkinkah tragedi Granada terulang di negeri kita? Bisa iya, bisa tidak. Tergantung apa ‘ocehan’ kita.
(17). Saya teringat sebuah ceramah dari ‘Da’i Sejuta Ummat’, (alm) KH. Zainuddin MZ. Beliau katakan: “Allah memang menjamin bahwa Islam akan terus ada di muka bumi hingga akhir zaman; namum Dia tidak menjamin bhw Islam akan terus ada di Indonesia.”
(18). Seperti mata2 di Granada dulu, musuh2 Islam saat ini juga sedang memata-matai kita. Menunggu ‘timing’ yang pas.
(19). Bahkan kini mereka tak perlu repot2 terjun langsung ke lapangan untuk mengetahui isi ocehan dan obrolan kita.
(20). Cukup pantau sosial media dan simak tema2 apa yg menjadi concern kaum muslimin.
(21). Untuk saat ini bolehlah kita bernafas lega. Namun tetap bersiaga.

(22). Bahwa disaat MU kalah telak oleh Chelsea, atau saat *Indonesia Juara AFF* kita masih ‘ngoceh’ soal penindasan saudara kita di Suriah dan Palestina.
(23). Bahwa tatkala valentino rossi terjatuh, kita masih ‘ngoceh’ ttg qur’an yang dinistakan.
(24). Bahwa ditengah dukungan terhadap adik Rachel di Voice Kids Indonesia, kita juga semangat mendukung petisi2 online yang digalang untuk memenjarakan ahok.
(24). Ini tanda dan menjadi pesan bagi musuh bhw ghiroh jihad itu belum luntur dari dada kaum muslimin.
(25). Apalagi kemudian terbukti bahwa kita tidak sekedar besar ngoceh di sosial media, tapi juga wujud di dunia nyata.
(26). Jutaan kaum muslimin, tidak hanya di Jakarta, tapi di berbagai tempat hadir dalam aksi-aksi pembelaan terhadap kehormatan agama yang dilecehkan, dan puncaknya insya Allah pada Aksi Bela Islam berikutnya nanti.
(27). Ini jelas membuat musuh ketar-ketir meski di back up kekuasaan sekalipun.
(28). Apalagi setelah ustadz KH. Tengku Zulkarnain (wasekjen MUI) menyampaikan ‘ocehan’ nya: *”Wahai Para Penjilat dan Penjual Agama! Berhenti lah Menghina Kami Umat Islam. Nanti Jika Kami Teriakkan JIHAD AKBAR, Kalian Musnah.”*

(29). Maka jangan anggap remeh meski sekedar ‘mengoceh’ di dunia maya untuk membela Islam. Karena bisa jadi inilah yang membuat mereka berfikir ulang untuk menyerang kita.

Konsultasi Motivasi Terbaru

blog comments powered by Disqus