free hit counters
 

Vitiligo

Andri H. – Minggu, 9 November 2008 14:11 WIB

Assalamualikum wr. wb.

Saya punya saudara yang terkena vitiligo, pada lehernya ada bercak putih bulat, kira2 berdiameter 10 cm. Saat ini baru berobat dan diberi obat, diantaranya : salep (tidak tahu apa namanya), lycoten, MD-Cal, Rifamficin (maaf kalau salah ketik). Ditambah terapi gelombang electromagnet di lehernya. Menurut dokter tersebut pengobatannya sekitar 6 bulan sampai 1 tahun.

Pertanyaan :

1. Apakah ada obat herbal yang dapat membantu mempercepat proses penyembuhannya?

2. Bagaimana cara untuk menghindar dari penyakit tsb?

Demikian dan terimakasih.

wassalamualaikum wr.wb

Wa’alaikum Salam,wr.wb.
Bapak yang saya hormati dan Insya’alloh selalu dalam lindungan Alloh SWT. Mohon maaf sebelumnya, saya harus menjelaskan secara lebih terperinci dari penyakit ini. Disebabkan untuk menghindari kesimpang siuran dari penyakit ini. Yaitu vitiligo adalah kelainan pigmentasi kulit, seringkali bersifat progresif dan familial yang ditandai oleh makula hipopigmentasi pada kulit yang asimtomatik Selain kelainan pigmentasi, tidak dijumpai kelainan lain pada kulit tersebut.

Penyebab vitiligo yang pasti belum diketahui, diduga suatu penyakit herediter yang diturunkan secara autosomal dominan. Dari penyelidikannya, Lerner (1959) melaporkan 38% penderita vitiligo mempunyai keluarga yang menderita vitiligo, sedangkan Eli Mofty (1968) menyebut angka 35%.

Beberapa faktor pencetus terjadinya vitiligo antara lain :
1) Faktor mekanis.
Pada 10-¬70% penderita vitiligo timbul lesi setelah trauma fisik, misalnya setelah tindakan bedah atau pada tempat bekas trauma fisik dan kimiawi.
2) Faktor sinar matahari atau penyinaran ultra violet A.
Pada 7-¬15% penderita vitiligo timbul lesi setelah terpajan sinar matahari atau UV A dan ternyata 70% lesi pertama kali timbul pada bagian kulit yang terpajan.
3) Faktor emosi/psikis.
Dikatakan bahwa kira-kira 20% penderita vitiligo berkembang setelah mendapat gangguan emosi, trauma atau stres psikis yang berat.
4) Faktor hormonal.
Diduga vitiligo memburuk selama kehamilan atau pada penggunaan kontrasepsi oral. Tetapi pendapat tersebut masih diragukan.

PATOGENESIS

Masih sedikit yang diketahui tentang patogenesis vitiligo, sehingga patofisiologi penyakit ini masih menjadi teka-teki. Sampai saat ini terdapat 3 hipotesis klasik patofisiologi vitiligo yang dianut, yang masing-masing mempunyai kekuatan dan kelemahan yaitu :
1) Hipotesis autositoksik.
Hipotesis ini berdasarkan biokimiawi melanin dan prekursornya. Dikemukakan bahwa terdapat produk antara dari biosintesis melanin yaitu monofenol atau polifenol. Sintesis produk antara yang berlebihan tersebut akan bersifat toksik terhadap melanosit. Lerner (1959) mengemukakan bahwa melanosit normal mempunyai proteksi terhadap proses tersebut, sedangkan pada penderita vitiligo mekanisme proteksi ini labil, sehingga bila ada gangguan, produk antara tersebut akan merusak melanosit dan akibatnya terjadi vitiligo. Hal ini secara klinis dapat terlihat lesi banyak dijumpai pada daerah kulit yang mengandung pigmen lebih banyak (berwarna lebih gelap). Juga hal ini dapat terjadi pada pekerja-pekerja industri karet, plastik dan bahan perekat karena banyak berkontak dengan bahan fenol dan katekol.
2) Hipotesis neurohumoral.
Hipotesis ini mengatakan bahwa mediator neurokimiawi seperti asetilkolin, epinefrin dan norepinefrin yang dilepaskan oleh ujung-ujung saraf perifer merupakan bahan neurotoksik yang dapat merusak melanosit ataupun menghambat produksi melanin. Bila zat-zat tersebut diproduksi berlebihan, maka sel melanosit di dekatnya akan rusak. Secara klinis dapat terlihat pada vitiligo segmental satu atau dua dermatom, dan seringkali timbul pada daerah dengan gangguan saraf seperti pada daerah paraplegia, penderita polineuritis berat..
3) Hipotesis imunologik.
Vitiligo merupakan suatu penyakit autoimun; pada penderita dapat ditemukan autoantibodi terhadap antigen sistem melanogenik, yaitu autoantibodi anti melanosit yang bersifat toksik terhadap melanosit. Dari hasil-hasil penelitian terakhir, tampaknya hipotesis imunologik yang banyak dianut oleh banyak ahli. Hal ini disokong dengan kenyataan bahwa insidens vitiligo meningkat pada penderita penyakit autoimun, yaitu antara lain : penyakit kelenjar tiroid, alopesia areata, anemia pernisiosa, anemia
hemolitik autoimun, skleroderma, artritis rheumatoid.

KLASIFIKASI :
Bermacam-macam klasifikasi dikemukakan oleh beberapa ahli. Koga (1977) membagi vitiligo dalam 2 golongan yaitu :
1) Vitiligo dengan distribusi sesuai dermatom.
2) Vitiligo dengan distribusi tidak sesuai dermatom.

Berdasarkan lokalisasi dan distribusinya, Mosher (1987) membagi menjadi :
1) Tipe lokalisata, yang terdiri atas:
a) Bentuk fokal : terdapat satu atau lebih makula pada satu daerah dan tidak segmental.
b) Bentuk segmental : terdapat satu atau lebih makula dalam satu atau lebih daerah dermatom dan selalu unilateral.
c) Bentuk mukosal : lesi hanya terdapat pada selaput lendir (genital dan mulut).
2) Tipe generalisata, yang terdiri atas:
a) Bentuk akrofasial : lesi terdàpat pada bagian distal ekstremitas dan muka.
b) Bentuk vulgaris : lesi tersebar tanpa pola khusus.
c) Bentuk universalis : lesi yang luas meliputi seluruh atau hampir seluruh tubuh.

Dapat pula terjadi bentuk-bentuk campuran atau bentuk-bentuk peralihan, misalnya dari bentuk lokalisata menjadi bentuk generalisata.



MANIFESTASI/GAMBARAN KLINIS
Makula hipopigmentasi yang khas pada vitiligo berupa bercak putih seperti susu, berdiameter beberapa milimeter sampai sentimeter, berbentuk bulat, lonjong, ataupun tak beraturan, dan berbatas tegas. Selain hipopigmentasi tidak dijumpai kelainan lain pada kulit. Kadang-kadang rambut pada kulit yang terkena ikut menjadi putih. Pada lesi awal kehilangan pigmen tersebut hanya sebagian, tetapi makin lama seluruh pigmen melanin hilang. Lesi vitiligo umumnya mempunyai distribusi yang khas. Lesi terutama terdapat pada daerah terpajan (muka, dada, bagian atas, punggung tangan), daerah intertriginosa (aksila, lipat paha), daerah sekitar orifisium (sekitan mulut, hidung, mata dan anus), pada bagian ekstensor permukaan tulang yang menonjol (jari jari, lutut, siku), daerah tibia anterior, daerah sekitar puting susu dan umbilikus. Daerah mukosa yang sering terkena terutama genital, bibir dan gusi. Di samping itu dapatpula ditemukan bentuk-bentuk lain dari lesi vitiligo, antara lain :
1) Trichome vitiligo : vitiligo yang terdiri atas lesi berwarna coklat, coklat muda dan putih.
2) Vitiligo inflamatoar: lesi dengan tepi yang meninggi eritematosa dan gatal.
3) Lesi linear.

Diagnosis ditegakkan terutama berdasarkan anamnesis dan pemeriksaan klinis, dan ditunjang oleh pemeriksaan histopatologik serta pemeriksaan dengan lampu Wood. Pemeriksaan histopatologi lesi vitiligo menunjukkan tidak dijumpainya melanosit dan granul melanin di epidermis; pewarnaan perak atau reaksi dopa, memberi hasil negatif. Pada pemeriksaan dengan mikroskop elektron terlihat hilangnya melanosit, sedangkan pada tepi lesi sering dijumpai melanosit yang besar dengan prosesus dendritikus yang panjang; beberapa penulis menjumpai infiltrat limfositik di dermis. Pada lesi awal atau tepi lesi masih dapat dijumpai beberapa melanosit dan granul melanin. Pada pemeriksaan dengan lampu Wood, lesi vitiligo tampak putih berkilau dan hal ini berbeda dengan kelainan hipopigmentasi lainnya
Untuk beberapa penyembuhan dengan obat herbal adalah dapat bapak konsultasikan secara langsung di Klinik kami, tetapi dengan bebrapa tips terapi yang telah ada Insya’alloh dapat disembuhkan. Karena begitu kompleks pengobatannya maka perlu beberapa terapi yang diperlukan, seperti terapi bekam, akupunkture dan penggunaan beberapa herbal yang telah diracik oleh apoteker yang handal di Klinik kami.
Untuk pencegahannya terdapat beberapa tips penting yang harus kita jalankan. Yaitu hindari terpaan sinar matahari di siang hari, terutama pada pukul 10-15. Gunakan selalu pelindung kulit seperti baju panjang, payung dan kream anti UV. Kedua dengan cara menghindari trauma fisik, misalnya setelah tindakan bedah atau pada tempat bekas trauma fisik dan kimiawi. Ketiga dengan selalu mengkonsumsi sayur dan buah yang kaya akan Vit.B, Vit.C,zat besi dan fosfor. Keempat dengan selalu dekatkan diri kita kepada Alloh SWT, dengan menjalankan seluruh amal ibadah sehingga hati kita menjadi tenang dan terhindar dari Stress dan emosi yang berlebih yang merupakan salah satu faktor pencetus dari timbulnya vitiligo. Selamat mencoba Insya’alloh Alloh SWT memberikan kesembuhan atas penyakit ini.

Wassalamu’alaikum, wr.wb.

Klinik Sehat Terbaru

blog comments powered by Disqus