eramuslim

Laki-Laki, Maskulinitas, dan Penghasilan: Saat Perempuan Jadi Pencari Nafkah Utama

bapak rumah tangga, maskulin

Eramuslim.com - Ketika perempuan menjadi pencari nafkah utama dalam rumah tangga, bukan hanya keuangan keluarga yang terdampak—tetapi juga harga diri dan kesehatan mental laki-laki. Sebuah studi menunjukkan bahwa banyak laki-laki merasa tertekan, bahkan depresi, ketika penghasilan mereka berada di bawah pasangan mereka.

Di tengah perubahan sosial dan ekonomi, stigma bahwa laki-laki harus menjadi penyedia utama masih bertahan kuat. Beberapa laki-laki yang diwawancarai mengaku merasa dihakimi, bahkan direndahkan, ketika mereka tidak bekerja atau ketika peran sebagai pencari nafkah diambil alih oleh istri mereka.

"Saya merasa seperti kehilangan nilai sebagai laki-laki," ujar Harry Bunton, mantan konsultan yang kini menjadi bapak rumah tangga setelah kehilangan pekerjaan.

Studi di Swedia menunjukkan bahwa ketika istri mulai menghasilkan lebih banyak, terdapat peningkatan diagnosis gangguan kesehatan mental pada suami hingga 11%. Hal ini menunjukkan bahwa ekspektasi gender terhadap peran laki-laki sebagai penyedia belum banyak berubah, meski kondisi sosial-ekonomi sudah bergeser.

Tak jarang, ketidakseimbangan ini juga berimbas pada dinamika kekuasaan di rumah, kualitas hubungan, bahkan meningkatkan risiko perselingkuhan dari pihak laki-laki yang merasa identitas maskulinnya terganggu.

Namun, tak semuanya berdampak negatif. Studi di Inggris menunjukkan bahwa laki-laki yang menjadi bapak rumah tangga cenderung lebih terlibat dalam pengasuhan anak. Meski keterlibatan dalam pekerjaan rumah tangga masih minim, kehadiran ayah di rumah dapat meningkatkan ikatan emosional dengan anak dan memperkuat pernikahan—terutama jika diimbangi dengan kebijakan cuti ayah seperti di Swedia.

Sementara itu, di banyak negara, sistem sosial belum cukup mendukung perempuan pencari nafkah. Upah rumah tangga dengan istri sebagai penyokong utama cenderung lebih rendah, sejalan dengan kesenjangan upah berbasis gender yang masih kuat.

Peneliti menyebutkan bahwa perubahan tidak cukup hanya terjadi di level rumah tangga—perlu juga dukungan sistemik dari negara melalui kebijakan kerja yang fleksibel, cuti ayah, dan sistem tunjangan yang adil.

Meski jumlah perempuan pencari nafkah utama terus bertambah, ekspektasi lama terhadap laki-laki sebagai penyedia masih membebani generasi muda. Survei menunjukkan bahwa laki-laki Gen Z lebih cenderung merasa maskulinitas mereka terganggu jika berperan sebagai bapak rumah tangga.

Namun, ada harapan: konsep baru tentang “maskulinitas pengasuhan” mulai tumbuh—di mana laki-laki merangkul peran penuh empati, pengasuhan, dan kerja emosional yang selama ini dilekatkan pada perempuan.

Ke depan, semakin setara peran di rumah, semakin besar peluang untuk menciptakan keluarga yang lebih sehat secara emosional, ekonomi, dan sosial.

Sumber: BBC Indonesia