Lakum Dinukum Waliyadin, Prinsip Bagi Umat Muslim

Dalam akidah agama Islam, umat Muslim diwajibkan untuk memegang teguh pada prinsip yang menjauhkan mereka dari perdebatan duniawi. Salah satunya adalah arti dari surat Al Kafirun ayat 6 yang berbunyi lakum dinukum waliyadin artinya "bagimu agamamu dan bagiku agamaku."
Dalam Al quran surat Al Kafirun menjelaskan tentang tidak adanya bentuk kompromi untuk mencampuradukkan ajaran agama. Khususnya pada ayat 6, di mana ayat tersebut berisi seruan untuk menentang segala bentuk perbuatan selain ibadah kepada Allah SWT.
Disebutkan dalam tafsir yang terdapat dalam situs Kementerian Agama, lakum diinukum waliyadiin berarti tidak ada perbuatan tukar-menukar dengan pengikut agama lain dalam hal peribadahan kepada Allah SWT. Ibnu Jarir Ath Thobari menjelaskan kalimat lakum dinukum waliyadin yaitu sebagai berikut:
“Bagi kalian agama kalian, jangan kalian tinggalkan selamanya karena itulah akhir hidup yang kalian pilih dan kalian sulit melepaskannya, begitu pula kalian akan mati dalam di atas agama tersebut. Sedangkan untukku yang kuanut. Aku pun tidak meninggalkan agamaku selamanya. Karena sejak dahulu sudah diketahui bahwa aku tidak akan berpindah ke agama selain itu.” (Tafsir Ath Thobari, 24: 704)

Selain itu terdapat dua makna yang bisa dipahami tentang penjelasan lakum dinukum waliyadin menurut Al Mawardi dan Muhammad Sayid Thonthowi dalam kitab tafsir keduanya, yaitu:
-
Bagi kalian akidah kekufuran yang kalian anut, bagi kami akidah Islam.
-
Karena diin bisa bermakna al jazaa’, yaitu hari pembalasan, maka artinya: bagi kalian balasan dan bagiku balasan.
Umat Muslim diajarkan berbagai macam kebaikan dalam hidup termasuk ke dalam perbuatan untuk tidak loyal atau berlepas diri dari orang kafir, baik dari segi peribadatan, perayaan, atau hal yang menyangkut agama mereka.
Rasulullah SAW bersabda:
مَنْ تَشَبَّهَ بِقَوْمٍ فَهُوَ مِنْهُمْ
“Barangsiapa yang menyerupai suatu kaum, maka dia termasuk bagian dari mereka” (HR. Ahmad dan Abu Daud)
[kumparan]