Mentan Bongkar Peredaran Beras Oplosan di Minimarket dan Supermarket, Rakyat Dirugikan hingga Triliunan

Eramuslim.com - Menteri Pertanian, Andi Amran Sulaiman, mengungkapkan temuan mengejutkan terkait praktik pengoplosan beras yang merugikan masyarakat. Hasil investigasi menunjukkan bahwa beras kualitas medium dikemas ulang dan dijual seolah-olah sebagai beras premium. Ironisnya, beras oplosan ini telah beredar luas di sejumlah minimarket dan supermarket ternama.
“Kami sudah ambil sampel dari berbagai level penjual, dari pedagang kecil sampai jaringan ritel besar,” ujar Amran saat rapat di Gedung Komisi IV DPR RI, Jakarta, Rabu (2/7/2025).
Amran menyebut dirinya memiliki bukti kuat berupa video, dokumentasi toko, hingga hasil uji laboratorium dari 13 lab di 10 provinsi. Dari hasil uji itu, ditemukan bahwa banyak kemasan beras premium ternyata berisi beras biasa. “Ada yang kemasannya 5 kilo, tapi isinya hanya 4,5 kilo dan kualitasnya bukan premium,” ungkapnya.
Usai temuan ini dipublikasikan, sejumlah minimarket mulai menarik produk beras dari peredaran. “Ada gerakan penarikan beras, semoga ini bermanfaat bagi konsumen,” tambah Amran.
Meski demikian, Amran menegaskan tidak akan menindak penjual atau pedagang kecil. Menurutnya, mereka hanya menjual apa yang dikirim produsen dan tidak tahu-menahu soal kualitas isinya. “Yang harus ditindak adalah produsen, bukan pedagang kecil,” tegasnya.
Lebih jauh, Amran menyebut aksi pengoplosan ini bahkan melibatkan beras dari program Stabilisasi Pasokan dan Harga Pangan (SPHP), yang seharusnya dijual dengan harga terjangkau untuk masyarakat. Akibatnya, negara diduga mengalami kerugian hingga Rp 10 triliun dalam lima tahun terakhir, atau sekitar Rp 2 triliun per tahun.
Dia juga menyoroti anomali distribusi SPHP yang tetap dilakukan saat panen raya, seperti yang terjadi di Pasar Induk Cipinang. “Saat stok melimpah, justru diguyur SPHP. Ini aneh dan merusak pasar,” ujarnya.
Untuk itu, Satgas Pangan mulai mengambil langkah tegas dengan memanggil para produsen dari 212 merek beras medium-premium yang diduga melakukan praktik pengoplosan. “Semua merek ini harus ditindak,” tegas Amran.
Sumber: CNBC Indonesia