eramuslim

Mesir Digoyang Aksi Mogok Nasional, 30 Orang Ditangkap

Rakyat Mesir secara serentak melakukan aksi mogok nasional yang diserukan oleh "Gerakan 6 April", sebuah gerakan para aktivis muda di Mesir yang dibentuk tahun 2008 lalu. Mesir mengerahkan pasukannya ke ibukota Kairo dan sejumlah kota lainnya untuk mengantisipasi aksi mogok massal itu.

Seorang sumber di keamanan Mesir pada kantor berita AFP mengatakan, pemerintah Mesir telah memerintahkan aparat kepolisian untuk menangkap siapa pun yang berpartisipasi dalam aksi mogok nasional. Hari Minggu kemarin, polisi Mesir menangkap 30 orang di kota Alexandria, tiga diantaranya mahasiswa yang tertangkap basah sedang membagikan poster-poster berisi ajakan ikut serta dalam aksi mogok tersebut.

Sehari sebelumnya, aparat Mesir menangkap dan memukuli 25 mahasiswa di kota Kafir el-Sheikh, kawasan Delta Sungai Nil, saat para mahasiswa itu melakukan aksi duduk di depan gedung pengadilan. Mereka memprotes penangkapan dua mahsiswi saat sedang membagikan selebaran aksi mogok massal yang akan digelar pada hari ini, Senin (6/4).

Menurut Rawda Ahmed dari Arabic Network for Humah Rights Information (ANHRI), para mahasiswa mencoba meloloskan diri saat disergap aparat keamanan, tapi 25 diantara mereka tertangkap dan dijebloskan ke penjara. Ketika para pengacara mendatangi mereka untuk mengetahui apa yang terjadi, para mahasiswa yang ditangkap itu mengalami proses pemeriksaan disertai pemukulan di kantor polisi.

Gerakan 6 April pernah menyerukan aksi mogok massal yang sama tahun 2008 lalu. Tahun ini, tema aksi mogok massal yang mereka serukan adalah "Hari Kemarahan di Mesir" dengan dua tuntutan utama pada pemerintah Mesir, yaitu kenaikan upah minimum secara nasional dan pembentukan sebuah komite untuk membuat draft konstitusi Mesir yang baru.

Sementara itu, organisasi Ikhwanul Muslimin Mesir dan sejumlah anggota parlemen menyatakan akan berpartisipasi dalam aksi mogok nasional Gerakan 6 April. Dalam pernyataannya hari ini, mereka mengatakan bahwa rakyat sudah muak dengan situasi darurat di Mesir, merajalelanya korupsi, membumbungnya harga-harga kebutuhan pokok, tingginya jumlah pengangguran, dan ketidakberesan lainnya yang terjadi di pemerintahan Mesir, yang saat ini dipimpin oleh Presiden Husni Mubarak.

Anggota parlemen yang pro gerakan mogok nasional juga mengecam tindakan-tindakan sewenang-wenang pemerintah yang melanggar hak asasi manusia, penangkapan yang dilakukan tanpa alasan yang jelas, penutupan lembaga-lembaga sosial publik, termasuk asosiasi-asosiasi profesi, politik, serikat buruh dan mahasiswa dan pembatasan-pembatasan lainnya yang diberlakukan pemerintahan Mubarak.

"Inilah saatnya rakyat Mesir untuk bergerak dan hidup dalam kebebasan serta kemuliaan, serta secara penuh menikmati hak-hak konstitusi mereka," demikian pernyataan anggota parlemen pro gerakan mogok nasional. (ln/ikhwanweb/prtv)