free hit counters
 

Untold History of Pangeran Diponegoro 37

Untold History of Pangeran Diponegoro 37

Bab 34

ANGIN ADALAH PRAJURIT ALLAH DI medan perang. Dua orang anggota laskar Mulyo Sentiko yang dikirim ke garis paling depan-sekira duaratusan meter di luar gerbang Desa Lagorok, Pisangan-telah mencium kedatangan pasukan kafir dari arah utara. Angin yang bertiup dari Merapi ke arah Laut Kidul membawa serta bebauan orang-orang kafir tersebut lewat udara, sehingga keberadaan mereka bisa diketahui jauh sebelum sosok mereka terlihat.

Djauhari serta Djamhadi, dua orang laskar kepercayaan Mulyo Sentiko segera memacu kudanya kembali ke perkemahan induk pasukan yang berada di atas bukit kecil di tepi jalan raya Desa Lagorok.

Perkemahan pasukan mereka juga berada di atas bukit di sisi kanan dan kiri jalan raya yang terlindung lebatnya pohon dan semak. Jalan raya yang berada di bawah mereka agak menanjak dan menikung. Mulyo Sentiko menganggap jalan dengan kondisi seperti ini sangat bagus untuk dijadikan tempat penyergapan. Maka ketika dia menerima kabar dari pasukan telik sandi jika pasukan Kapten Kumsius telah berangkat dari Magelang menuju Yogyakarta lewat jalan ini, maka Mulyo Sentiko memerintahkan pasukannya mendirikan kemah di tempat ini sekaligus menyusun strategi penyergapan.

Di kedua sisi bukit yang mengapit jalan di bawahnya, para laskar menghimpun batu-batu kali dengan ukuran besar dan disusun sedemikian rupa sehingga terkesan alami. Batu-batu kali ini akan digelontorkan ke bawah untuk menimbun pasukan kafir Belanda yang akan lewat.

Selain batu-batu, pasukan panah juga disiapkan berjajar di kedua sisi bukit dalam jarak tembak efektif. Mereka bersembunyi di dalam lubang-lubang yang sudah disamarkan oleh ilalang dan semak, dan dilindungi oleh batang-batang pohon, baik yang masih berdiri maupun yang sudah mati.

Di selatan jalan, Mulyo Sentiko membuat lubang jebakan selebar duameter dengan kedalaman satu meter yang ditutup dengan ranting dan ditimbun dengan tanah kembali. Kuda atau siapa pun yang lewat akan terperosok jatuh ke dalam lubang, di mana dasarnya telah ditanami banyak ujung tombak yang ujungnya menghadap ke atas dan telah diberi racun ular weling.

Di utara jalan, dimana nanti ekor pasukan kafir Belanda berada, sedianya akan ditutup oleh gelondongan-gelondongan kayu dan batu-batu yang digelontorkan dari atas bukit sehingga pasukan Belanda akan terkurung di jalan yang diapit dua bukit di kedua sisinya, serta tidak bisa maju atau pun mundur. Dalam keadaan terkurung, laskar Mulyo Sentiko akan menghabisi pasukan ini dengan mudah.

Semua pasukan sudah berada di tempatnya masing-masing. Mereka tinggal menunggu datangnya dua pengintai yang memberi tanda jika rombongan pasukan kafir Belanda sudah dekat.

Yang ditunggu-tunggu pun tiba. Dari arah utara dua pengendara kuda memacu kudanya cepat-cepat. Debu beterbangan dan dengan cepat menghilang dibawa angin.

“Bersiap! Bersiap!” ujar Djauhari dan Djamhadi. Kedua pasukan pengintai itu segera masuk ke dalam jalan setapak yang segera ditutup semak dan dedaunan kering oleh prajurit yang bertugas menghapus jejak kedua pengintai tersebut.

Semuanya semakin waspada. Mereka tinggal menunggu aba-aba dari seorang pengintai yang berada di puncak sebuah pohon beringin yang tinggi di puncak bukit. Jika pasukan Belanda sudah tampak dan dekat, dia akan segera menirukan suara monyet, tanda bahwa semua sudah harus benar-benar bersiap untuk menyergap pasukan Belanda pimpinan Kapten Kumsius tersebut.

Detik demi detik berlalu dengan penuh ketegangan. Semuanya sudah memegang dengan erat senjatanya masing-masing. Anak panah mulai diselipkan di tali busur. Suasana begitu mencekam. Tak lama kemudian terdengar suara monyet melengking tinggi tiga kali.

Belanda sudah tiba!

Mulyo Sentiko yang berada di atas bukit sebelah barat sudah memberi isyarat dengan tangannya agar seluruh prajurit yang bertugas menggulingkan batu di bukit barat dan timur bersiap. Bagian depan pasukan Belanda sudah terlihat mulai memasuki jalan yang menyempit yang diapit bukit. Mulyo Sentiko menunggu agar inti pasukan tersebut benar-benar berada di tengah agar konsentrasi pasukan mereka buyar. Mulyo Sentiko dan pasukannya tahu jika sejumlah kuli pengangkut barang yang berada di ekor pasukan merupakan anggota laskar Diponegoro yang sengaja disusupkan.

Semua menunggu tak sabar.

Tiba-tiba Mulyo Sentiko mendorong batu besar yang ada di depannya. Semua anggota laskar yang bertugas menggelontorkan batu dan batang pohon ke bawah mengikutinya. Suaranya menggemuruh bagai tanah longsor. Pasukan Belanda yang berada di bawah seketika melihat ke atas. Sesaat mereka tertegun. Lalu mereka berlarian ke segala arah mengindari longsoran batu-batu besar dan batang-batang pohon yang tiba-tiba saja menghujani mereka. Beberapa prajurit yang tak sempat menghindar tertimbun hidup-hidup. Dari ketinggian, Mulyo Sentiko dan laskarnya menyaksikan bagaimana pasukan pimpinan Kapten Kumsius tersebut kacau-balau.

Ketika asap sudah agak mereda, Mulyo Sentiko mengibarkan panji berwarna merah tinggi-tinggi. Kini giliran pasukan pemanah yang bertugas menghujani pasukan Belanda yang masih kacau tersebut dari atas bukit. Bagai ratusan burung walet yang beterbangan, meluncur lurus ke bawah dalam kecepatan tinggi, anak-anak panah yang ujungnya telah dicelup racun tersebut berlomba untuk menancap dan masuk ke dalam kulit pasukan kafir tersebut. Tak lama kemudian, setelah hujan panah usai, puluhan pasukan penombak maju dari arah depan dan atas dengan meneriakkan takbir.

Pasukan Belanda yang sama sekali tidak siap berusaha membuat satu formasi pertahanan. Namun sia-sia, jalan terlalu sempit dan musuh sudah terlalu dekat. Pertarungan jarak dekat pun terjadi. Laskar Mulyo Sentiko yang dibantu laskar setempat tanpa takut sedikit pun menerjang lawan. Dengan kekuatan seadanya, pasukan Belanda membuang senjata api laras panjangnya dan mencabut pedang. Mereka berkelahi dengan kalap dan tak lagi menghirakan kawan dan lawan. Kapten Kumsius sendiri diiringi empat prajuritnya sejak dari awal penyerangan sudah melarikan diri dengan memacu kudanya ke arah Yogyakarta, meninggalkan pasukannya yang semakin terdesak dan bergelimpangan mati di sana-sini. Sejumlah kuli angkut yang membawa berbagai barang-termasuk uang yang berada di dalam peti kecil yang berada di atas kuda-sudah terlebih dahulu melarikan diri dan bergabung dengan laskar Mulyo Sentiko.

Pertempuran itu tidak sampai memakan waktu satu jam. Mulyo Sentiko dengan bertelanjang dada berdiri di tengah-tengah jalan yang dipenuhi mayat pasukan Belanda. Darah musuh memenuhi dada dan celananya. Pedangnya juga demikian.

Teriakan takbir kembali membahana tatkala mengetahui jika pasukan Belanda sudah dikalahkan. Semuanya mati dan tak ada tawanan satu orang pun. Mulyo Sentiko tersenyum dan menengadahkan kepalanya ke langit yang luas.

“Matur nuwun sanget ya Gusti Allah…”

Melihat hampir semua laskarnya juga bertelanjang dada, bahkan banyak yang celananya robek terkena sabetan pedang dan tanah, serta belepotan darah musuh, Mulyo Sentiko segera memerintahkan anak buahnya agar mengganti bajunya dengan mengenakan seragam tentara Belanda yang masih sangat bagus. Tanpa diperintah dua kali, anak buahnya berlomba melucuti seragam tentara Belanda tersebut dan mengenakannya. Termasuk topi, pedang, senjata api laras panjang dan pendek, belati, dan lainnya.



“Apakah semuanya sudah kebagian?” teriak Mulyo Sentiko.

Para anak buahnya ada yang menjawab sudah dan ada juga yang belum. Namun disebabkan tidak ada lagi seragam Belanda yang tersisa, maka Mulyo Sentiko memerintahkan agar semuanya berbaris kembali. Dia kemudian menaiki kudanya dan mengambil posisi di depan barisan.

Allahu Akbar!” teriaknya disambut takbir oleh seluruh laskarnya. “Alhamdulillah! Alhamdulillahi Rabb al’amin! Ini adalah kemenangan pertama kita terhadap penjajah kafir Belanda.

Sekarang juga, kemenangan ini akan kita laporkan kepada Kanjeng Pangeran Diponegoro di Selarong. Mari kita berbaris dengan tertib. Insya Allah, jika tidak ada aral melintang, beberapa jam ke depan kita sudah tiba di sana!” [] (Bersambung)

Novel Terbaru